Senin, 16 Oktober 2017

Writravellicious & Louis Kienne Simpang5 Semarang

 Writravellicious & Louis Kienne Simpang5 Semarang




Rupanya ada dua hotel Louis Kienne di Semarang ini. Jadi setelah kita jalan ke Louis Kiene satunya  di jalan Pandanaran kini  Writravellicious Goes To Hotel Louis Kienne Simpang Lima Semarang. Tepatnya di jalan Ahmad Yani, berseberangan dengan Mall Matahari Simpang Lima.




Aku lupa-lupa ingat dulu jaman kuliah arsitektur Undip, bangunan apa ya yang sekarang ditempati Louis Kienne ini? Karena aku dan teman-teman sering banget ke simpang lima jaman itu. Tapi bangunan ini kurang mendapat perhatian kami tadinya.

Tulisan  Louis Kienne dengan typografi apik menjadi welcoming point awal beserta taman kolam yang berada di teras hotel ini.

Memasuki lobbi yang tidak begitu luas, kita bisa menikmati aneka detail touch yang menggunakan berbagai bahan berbeda di setiap bagiannya.

Di dinding ruang tunggu lobby sisi timur, ada backdrop berbahan besi tempa, berukir flora dengan dedaunan dan sulur-sulur yang manis. Berpadu dengan bahan kayu lapis yang ditata vertikal berderet di bawah ukiran besi tempanya, membuat ruangan ini berkesan fabrik sekaligus klasik.

Apalagi dengan dua kursi sofa berpunggung tinggi dengan cushion warna broken white, menjadikannya berkesan elegan dan sekaligus nyaman.

Kursi-kursi ini merupakan item-item favorit yang sering dipesan para importer. Kebetulan aku pernah  menjadi direktur marketing sebuah perusahaan eksporter furniture yang melayani pembelian dari Belanda, Inggris, Amerika, New Zealand, Jerman, Perancis, dan banyak negara lainnya.  Jadi yach ini salah satu item kesukaan mereka.


Dari ruang tunggu lobby sisi timur itu, pandangan atau view bisa menerus ke arah luar hotel lewat bukaan kaca, dan juga melihat ke arah meja resepsionis.

Langit-langit ditreatment sedemikian rupa sehingga terasa dinamis dan ada kesan berbeda dengan elemen pembangun ruangan lainnya.

 Sebagaimana ruang tunggu sisi timur yang terkesan semi public karena letaknya lebih mojok,  ruang tunggu sisi barat yang lebih dekat dengan meja resepsionis, menjadi sedikit privat karena tertutup kolom yang lumayan besar.

Meski begitu, ukuran tiang yang besar disiasati dengan material penutup kolom menggunakan aksen semacam batu alam sirip yang penataannya zig zag menonjol dan menjoroknya.


Sebuah meja baja berfinishing warna tembaga menjadi aksen di ruangan lobby, dengan aksen beberapa benda seni di atasnya.

Sebuah pot dengan bunga anggrek ungu  seolah melunakkan kesan industrialis yang dibangun oleh material-material lainnya.



Backdrop di dinding belakang meja resepsionis hotel Lousi Kienne menyerupai bahan batu pualam atau marmer yang diukir seperti rumah atau sarang lebah. Bentuk-bentuk ornamen yang banyak kita temukan dalam gaya arsitektur arabian ataupun renaissance. Bentuk-bentuk lengkung yang dinamis, berulang dan menunjukkan dimensi serta kedalaman. Yang tentunya memiliki makna filosofis tersendiri.

Penggunaan banyak material kayu, elemen furniture baja berfinishing tembaga, juga aksesoris bergaya kolonial, serta lighting pencahayaan yang terkonsep, membuat sudut-sudut hotel menjadi apik dan bisa dinikmati.


 Lorong-lorongnya tidak begitu luas, namun lumayan bisa untuk berlalu lintas dengan nyaman. Hal ini disiasati dengan tidak adanya  banyak aksen di sisi kanan kirinya. Meski begitu, ada juga sebagian dinding yang ditreatment dengan tempelan kerawang, untuk memecah jenuh di antara perjalanan dalam lorong yang panjang.





Memasuki kamarnya, kita akan bertemu ruang toilet di bagian depan sebagaimana hotel lainnya. Kamar mandi, wc juga meja toilet serta cerminnya ditata compact dan efisien.


 




Dan ranjang bed tempat tidurnya lumayan luas lho. Dengan bed cover putih juga sarung bantal yang sama putihnya, menjadikan kesannya juga putih, bersih dan nyaman.



Sebuah cermin bulat di atas meja kayu lapis yang menempel di dinding, adalah sebuah cara untuk menyediakan ruang yang lebih luas. Selain juga tentu saja kehematan lainnya. Kursi abu berlengan argonomis menjadi pasangan apik di sudut kamar ini. Bisa sebagai pojok rias dan meja tulis ataupun meja kerja sekaligus.

Pemandangan simpang lima menjadi sebuah kemewahan alias previlege yang ditawarkan oleh hotel Lousi Kienne ini. Pusat kota Semarang dengan segala aktifitasnya siang malam bisa menjadi hiburan menyenangkan sembari menikmati istirahat di  kamar ini.

Karpet  bermotif stilistik bunga mawar berwarna biru gelap menimbulkan kesan hangat namun juga ceria Dihamparkan dekat bed juga pojok komar yang dekat balkon, menjadi sudut istimewa bersama sebuah kursi dengan cushion coklat tanah yang nyaman. Lampu dengan kap gaya kuno kolonialis menjadikannya juga sebuah sudut baca yang apik dan compact.

Sebuah TV layar lebar menjadi focal point berikutnya di kamar ini. Menempel di backdrop dinding lapis kayu berfinishing natural dengan garis-garis kayu vertical, membuat kamar ini makin berkesan natural. Alami.


Oh ya, serunya lagi kalau misal menginap di sini dan ingin kopi darat atau jumpa kawan-kawan maupun saudara, kita bisa memanfaatkan sofa-sofa di ruang duduk yang berada di sisi-sisi timur sepanjang lorong dari arah lobby menuju lift hotel Louis Kienne.
Asyik kan.
Jadi kapan mau menginap di Louis Kienne Simpang Lima Semarang?


**
For reservation,  review and any other collaboration, please do not hesitate to contact at 085701591957 (sms/wa) 
DM twitter @ummihasfa
DM IG @diannafi
inbox FB Ummi Hasfa
Line: diannafi57 
Email: diannafihasfa@gmail.com

0 komentar:

Posting Komentar