Sabtu, 06 Oktober 2018

Apakah Kita Berada Di Tempat Yang Salah?


Apakah Kita Berada Di Tempat Yang Salah?


ibu Waljinah Maestro Keroncong


Ceritanya hari Jumat aku berada di gedung DPR untuk sosialisasi 4 pilar dari MPR RI, yang diselenggarakan bareng Gabungan Organisasi Wanita (di mana aku jadi salah satu pengurusnya)

Eh lhadalah tahu-tahu ternyata yang bikin acara dan sekaligus narsumnya adalah salah satu anggota fraksi X. OMG


Hari Sabtunya, aku datang ke acara pertunjukan musik keroncong dengan santainya. Padahal pada saat yang sama, ternyata ada pengajian AlKhidmah di Masjid Agung Demak.


Jadi beginilah catatanku  Semalam Selepas Kenduri Keroncong. Sebuah uneg-uneg seperti biasanya, agar tidak menggumpal di kepala.





 Kami makan tumpeng bareng dalam rangka syukuran kenduri keroncong, ulang tahun komunitas keroncong yang ke-11. Bu waljinah jauh-jauh datang dari Solo dan  berkenan menyanyikan dua lagu lho. Masya Allah. Suaranya masih luar biasa

 Ketemu konco at kenduri keroncong 
Salah satu bonus jika datang ke acara keroncong adalah ketemu teman-teman pegiat keroncong. 
Ada kehangatan dan kekeluargaan juga di antara mereka. Hal yang baru kusadari semalam.


Meski kemudian ada yang sedikit membuatku masygul. 
Saat pulang tengah acara (karena jam malamku adalah jam sembianz masih seperti dulu) aku mendapati ternyata pada waktu bersamaan tadi ada pengajian al khidmah di masjid Agung. 
Sehingga pertanyaan serupa yang dulu pernah meletup di kepala saat rombongan sastra ke dieng dan kami papasan dengan rombongan orang yang berduyun datang le pengajian habib syeikh. 
Hanya saja tingkat ambiguku tak sedahsyat dulu. 
Jika waktu itu rasa bersalah lebih dominan menggerus, 
yang semalam ada setitik insight berbeda. Mengingat Allah di majlis dzikir otomatis akan lebih mudah. Tapi mengingat Allah di majlis musik, temtu lebih susah. Dan di mana pun takdir menempatkan kita, bagainanapun situasinya, tetaplah berusaha mengingat Allah. Bismilah tawakkaltu alallah. Laa haula wa laa quwwata illaa billahil aliyyil adziim




 Wohooo ketemu lagi ama mbak demak, yang adalah santri banat dan salah satu putri daerah favoritku. Kami pernah ngemsi bareng di salah satu acara skala jawa tengah yang diliput tv lokal. Ketemu pertama, alhamdulillah langsung nge-blend, dan karena merasa satu frekuensi maka tiap kali ketemu langsung tune in. 
Walaupun tahu kalau dia salah satu vokalis grup keroncong, tapi semalam nggak mengira akan ketemu 
Salah satu berkah silaturrahmi adalah nge-charge energi. Alhamdulillah 




 Keroncong adalah nasionalisme. 
Ada harmoni yang tercipta dan terdengar, terasa dari petikan instrumen-instrumennya yang beragam. 
Keroncong juga adalah warisan budaya yang jika tidak diuri-uri dan dilestarikan akan punah atau bisa jadi di-klaim oleh bangsa lain. 
Dengan adanya situasi dua acara berbeda semalam. Antara pengajian di masjid agung dan kenduri keroncong di basecamp nya keroncong, yang menjadi PR bagi seorsng santri adalah:

Bagainanakah supaya keroncong itu juga bisa membawa kita selamat ke akhirat?

Pak Mochtar Luthfi, salah satu pegiat keroncong sepertinya menjawab pertanyaan itu dengan menyanyikan sebuah lagu gubahan pegiat keroncong lainnya, berjudul Dia. 
Tentang Dia, tentang Allah, tentang mengingatNya dalam situasi apapun. 
Dan keroncong, dengan segala keindahan dan berkah seni karuniaNya menjadi salah satu hal nyata yang harus kita syukuri. Betapa maha indahNya dia yang menciptakan keindahan dan talenta bakat sedemikian hebat. Allahu Allah
 Salah satu upaya memasukkan dzikrullah ke kenduri keroncong semalam juga terlihat dengan masuknya penari rumi saat pembukaan acara dan juga saat lagu Dia disenandungkan. 
Hal yang menurutku tadinya aneh dan kelihatan memaksakan, namun kemudian kutemukan alasannya yang masuk akal.
 Selain tumpeng yang diuri-uri bersama kenduri keroncong, ada juga penganan lokal macam ketela, kacang dan lainnya.. Tidak saja sehat dan.aman, tapi juga menjaga ekosistem ekonomi petani lokal, begitulah kira-kira narasi heroiknya. 
Karena hidup adalah rangkaian narasi narasi yang kita cipta untuk membuatnya bermakna. 
Yang juga dari kuliner lokal adalah kopi. Aku sempat menikmati kopi mandailing yang sedap, ada manis-manisnya dan asem-asemnya adalah salah satu bagian favoritku juga. 
Melihat proses pembuatannya sambil berbincang tentang bagaimana dan dari mana biji kopi itu berasal, berikut harga mentah sampai harga jualnya di kafe dst dsb, menjadi sisi lain dari pertunjukan seni, termasuk kenduri keroncong semalam. 
Bakal pengen nyobain kopinya lagi sih kayaknya. 
They know how to demonstrate their product so potential customer becoming addict 
 Ketemu teman teman baru, para pegiat keroncong dari berbagai kota. Magelang, solo, jogja, Bandung, pati, jepara, kudus, dll. 
Begitulah hobby dan kesukaan bisa menghubungkan orang-orang yang secara geografis jauh tapi secara preferensi dekat. 
Setelah kupikir-pikir ini mungkin adalah salah satu scene, bagian dari proses reset life sebagaimana yang kutulis dalam buku personal growth-ku terbitan Grasindo. Menemukan kegiatan, hobby dan orang-orang baru adalah salah satu etapenya. 
 Yang semalam kudapatkan juga: sejatinya kehidupan ini adalah estafet kepada generasi muda. 
Apalah guna semua warisan budaya jika tidak ada yang melanjutkannya. 
Maka ketika secara simbolis bu Waljinah menyerahkan potongan tumpeng kepada salah satu vokalis muda keroncong (bahkan masih anak-anak) dan juga bertemunya seniman Koko thole dengan anak SMP pemenang lomba nasional mencipta lagu kebangsaan di acara semalam, maka kesadaran itu makin nyata. 
Saatnya regenerasi. Dan yang senior justru harus mencari bibit bibit muda yang akan melanjutkan, dan bukannya bersikukuh tinggal menetap untuk kedigjayannya sendiri. 

Tapi lihatlah betapa relijiusnya aura serambi masjid agung dengan jamaah dan pengajian Alkhidmah semalam. 
Jika sama-sama diguncang gempa atau tsunami pada saat bersamaan, manakah majlis yang lebih diberkahi? 
Itu pandangan skala makro. 
Namun skala mikro, akan jatuh pertanyaan pada masing masing individu, personal. 
Siapakah yang sedang dalam keadaan mengingatNya, entah di manapun dia berada saat itu. 

Yang sebenarnya agak kita khawatirkan dari sikap permisif terhadap sesuatu yang seolah tidak tercelup penuh pada shibghatullah adalah jangan jangan tahu tahu kita tergelincir keluar karena terlalu ke pinggir. Naudzu billahi min dzaalik. 
Dan yang harus terus kita waspadai saat kita alhamdulillah bisa berada dalam bi'ah lingkungan yang relijius adalah jangan sampai kita jatuh sombong, takabur, ujub, merasa sok suci dan yang lain salah, karena itu justru jebakan. 
Merunduklah, merunduklah. Di mana pun kita berada, dalam situasi apapun. Merunduklah kepada Yang Maha Kuasa. Aamiin. Laa haula wa laa quwwata illaa billahil aliyyil adziim. 
Hasbunallah wa ni'mal wakiil ni'mal maulaa wa ni'mannashiir.



Terpujilah atau terkutuklah seorang hybrid ambigu paradoks macamku yang suka over thinking. Benarlah hidup adalah bagaimana kita mengukir makna dan memaknai. Tapi bagaimana kalau kita salah memaknai. Terlebih lagi bagaimana kalau kita salah membagikan makna? 
Bagaimana kalau jatuh di tempat yang salah? 
Yang kita takutkan adalah jangan sampai kita lalai, abai lalu tahu-tahu mata hati tertutup. Naudzu billahi min dzaalik. 
Bagaimana kalau kita membiarkan diri tiba di tempat yang keliru, lalu keadaan dan situasi ruh membawa diri kita makin jauh ke tempat yang sama atau semakin keliru? Naudzubillah tsumma naudzubillah. 
Maka penting untuk terus sadar dan waspada. 
Keep up Consciousness and awareness!

Oh brain! Sometimes we should stop over thinking. Just feel and let it flow, let it flow. 

#tafakur
#tadabur
#taqorub
#tawakal


Selasa, 18 September 2018

Novel Nyai Reiha

Novel Nyai Reiha


Bagaimana jika Reiha perempuan jelita yang menerima saja dijodohkan dengan Rom yang tidak ganteng dan tidak berpendidikan, karena ingin menjadi ratu dari dinasti pesantren mertuanya, tetapi harus berebut pengaruh dan kekuasaan dengan iparnya (Ari),  harus berseteru dengan per-iparannya (Sul), malah harus merawat mertuanya yang sakit (Iza) yang padahal lebih memanjakan Ari dan turut menyudutkan Reiha.

Bagaimana jika KBIH yang merupakan peninggalan almarhum kakaknya Reiha-Hin-yang menjadi alternatif sandaran wadahnya eksis, malah juga tak mulus. Saat merekrut Kyai Medi, malah Medi kemudian mengambil alih kemudi dan jamaah. Di saat merintis ulang KBIH itu, datang seorang pengusaha (Melya) seolah menjadi penolongnya. Saat KBIH baru ini tumbuh lagi, Melya malah mengakuisisi menjadi miliknya, mengambil alih kemudi dan jamaah.  Pada akhirnya Reiha merintis baru lagi KBIH-nya sendiri.

Bagaimana jika ambisi Ari menjadi kepala daerah terganjal karena anggapan masyarakat yang miring kepadanya, karena dianggap tidak akan bisa menyatukan dan membangun masyarakat serta umat, sedangkan dengan saudaranya sendiri saja (yang hanya satu-satunya) dia tidak bisa rukun, bahkan pesantren peninggalan ayahnya saja pecah jadi dua.

Bagaimana jika pesantren-pesantren di kota wali itu punya egoismenya masing-masing dan nafsu menjadi pemimpin yang terdepan, tidak ada sinergi.


Novel Reiha bisa dibeli via google play dan google books. 

Kisah Perjuangan Hakim Muda

Kisah Perjuangan Hakim Muda


Rasya dan Aida, pasangan muda idealis ini, lama kelamaan kerasan juga tinggal di pojok Indonesia. Di bagian paling ujung barat kepulauan Nusantara. Meski jauh dari keluarga di Jawa, tapi toh semuanya masih bisa saling berkomunikasi. Era digital dengan skype sedikit banyak menambah jalur silaturahmi setelah telpon, email dan fesbuk. Ida yang sebenarnya punya kesempatan untuk mendapat beasiswa kuliah S2, terpaksa melepaskan peluang bagus itu. Demi bisa mengikuti ke mana pun Rasya ditugaskan sebagai hakim pengadilan negeri. Sehingga Ida yang sebenarnya sangat cemerlang, harus terima hanya menjadi pegawai biasa. Yang penting bisa satu kota dan satu kantor dengan suaminya yang sangat dia cintai dan hormati.


 Berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain yang masih sama-sama di Sumatra dilakoni sebagai sebuah konsekuensi. Menjadi abdi Negara berarti siap ditempatkan dan dipindahkan ke mana saja. Meskipun harus lelah dan capek karena musti memboyong istri dan anak-anak. Bahkan si sulung, Tania yang sudah berpindah-pindah dari sejak bayi sampai kelas dua sekolah dasar ini, menikmatinya sebagai sebuah petualangan. Juga kesempatan melihat berbagai tempat di Indonesia dan bertemu banyak teman dari berbagai suku dan daerah.


Hanya saja beban yang tadinya tidak begitu dirasakan, alias berusaha diabaikan, ternyata makin tambah terasa. Terutama saat Ida melahirkan anak yang ketiga. Tempat tinggal mereka yang tak bisa disebut sebagai rumah karena lebih mirip barak bagi tentara, terasa makin sempit dan tak nyaman. Sementara perkara-perkara yang ditangani di pengadilan semakin berat. Tidak saja butuh keadaan tubuh yang fit dan sehat lahir batin, tapi juga kemampuan pengetahuan yang lebih. Tapi bagaimana mau kuliah lagi, sedangkan untuk kebutuhan sehari-hari saja sudah kembang kempis. Biaya kehidupan semakin tinggi. Dan godaan-godaan semakin banyak.


 Berapa orang yang terpaksa Rasya tolak karena berusaha menyuap. Berapa orang yang Rasya pulangkan karena berusaha membujuk. Rasya dan Ida semakin merasa tidak nyaman saat ada beberapa orang yang menelpon dan mengancam keamanan keluarga mereka. Tak jelas siapa dan pada kasus apa orang tersebut tersangkut kaitannya dengan pengadilan tempat Rasya bekerja.


Dalam keadaan tinggal dalam lingkungan tanpa jarring pengamanan seperti ini, segala sesuatu bisa terjadi. Dia mengupayakan tempat tinggal yang lebih aman dan nyaman. Tapi kendalanya adalah biaya. Sedangkan tunjangan yang dijanjikan oleh pemerintah bagi mereka tak juga kunjung turun. Bahkan kesannya alot dan berlarut-larut pelaksanaannya. Berbulan-bulan uang tunjangan bagi para hakim itu entah di mana nyangkutnya. Sulit terlacak.

Keresahan Rasya ternyata juga dirasakan teman-teman seprofesi. Para hakim muda yang terhubung berkat fesbuk dan mail list ini pun makin sering berdiskusi. Berbagai curhat juga wacana dari seluruh pelosok negeri menggelitik Rasya. Maklumlah, dia yang seorang ketua BEM alias Badan Eksekutif Mahasiswa semasa masih kuliah, memang memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi.
Berulang kali memimpin organisasi sejak masa sekolah dan mengerakkan banyak rekan serta melobby banyak pihak. Tercetuslah ide untuk melakukan move. Sebuah gerakan untuk memperjuangkan nasib para hakim di seluruh Indonesia. Bukan saja agar tunjangan yang ngendon berbulan-bulan itu bisa turun, tetapi juga menuntut kenaikan gaji.

Dia membuat grup fesbuk yang beranggotakan para hakim di seluruh Indonesia. Kebanyakan pegiatnya adalah para hakim muda yang menamakan dirinya himpunan hakim muda progresif. Dengan slogan dan semboyan bersih dan jujur. Segera saja gerakan ini meluas dengan cepat. Banyak sekali dukungan yang berdatangan. Mengingat kegerahan ini sebenarnya sudah cukup lama ada. Tetapi belum ada yang berani menyuarakan dan memimpin serta mengarahkan.


Nama Rasya yang selama ini memang sudah punya banyak penggemar di fesbuk semakin dikenal luas. Bersama dengan yang lainnya, mereka mulai merumuskan seperti apa gerakannya. Kepada siapa suara ini akan ditujukan. Kemungkinan-kemungkinan apa yang akan terjadi dan banyak lagi lainnya. Kepada para pembuat kebijakan di pusat, Rasya dan teman-teman mengirimkan proposal dan maksud tujuan mereka.

Kini bukan saatnya mereka pasrah terus akan nasib yang makin tak jelas dan terkatung-katung. Ini bukan masalah uang atau materi. Ini adalah masalah kehormatan dan harga diri bangsa. Berbekal tekad inilah keberanian itu terhimpun dan semakin menguat. Mereka bergerak untuk sebuah tujuan mulia.


Mulailah Rasya serta beberapa teman, yang merupakan perwakilan dari ratusan hakim, diundang ke Jakarta untuk audiensi dengan para pengambil kebijakan. Biaya transportasi dan akomodasi pada mulanya ditanggung sendiri-sendiri. Seiring perjalanan perjuangan yang makin kompak dan massif, para hakim ini mengumpulkan dana untuk mendukung perjuangan. Mereka dengan sukarela mentransfer biaya ke rekening bersama, yang penggunaan dan pengelolaannya diumumkan secara terbuka. Dan siap diaudit dengan seksama oleh pihak independen.

Di sisi lain, para wartawan media cetak maupun televise mulai mencium juga gerakan ini. Mereka di satu sisi mengambil kesempatan karena mendapat bahan berita yang fresh, actual tapi juga controversial. Di sisi lain, mereka juga sedikit banyak membantu gerakan hakim muda progresif ini untuk menge-push atau mendorong segera sebuah pengambilan kebijakan yang ditunggu banyak orang. Mereka memperbincangkan lagi aksi Rasya dan teman-temannya. Juga serangkaian wawancara Rasya di radio dan televise akhir-akhir ini.

Arifah tak pernah mengira bahwa putra menantunya akan menjadi seperti sekarang ini, menjadi pemimpin para hakim yang menuntut hak dan kesejahteraan mereka. Malam-malamnya kini penuh dengan sujud panjang dan doa agar menantu dan anak serta cucunya diberi keselamatan.

Bagaimanapun bayangan dan ingatan tentang perlakuan ‘para pejabat tinggi’ di masa orde baru terhadap ‘para demonstran’ dan ‘pemrotes kebijakan’ masih melekat dalam benaknya. Kadang-kadang ‘imbalan’nya bisa berupa tidak dinaikkannya pangkat, dibuang ke tempat-tempat yang jauh, dipecat, bahkan ada yang sampai harus kehilangan nyawa. Dia buru-buru menelpon menantunya yang sudah tiba di bandara dan siap ke Jakarta, lagi. Rasya menerima telpon ibunya dengan senyum terkembang. Dia tahu perhatian  dan kecerewetan mertuanya ini adalah buah dari kasih sayang serta karena  menganggap Rasya sebagai putranya sendiri.
Rasya blingsatan saat dia dikeroyok ibu mertua dan saudara-saudara iparnya. Dari Jakarta memang dia menyempatkan diri singgah di Jawa Tengah, di kediaman ibu mertua dan ibunya sendiri. Dia punya misi agar ibu mertuanya yang juga hakim, meskipun hakim pengadilan agama, juga menjadi corong bagi perjuangannya. Gegara Rasya membuat gerakan yang mengumpulkan para rekan hakimnya untuk menuntut hak mereka yang selama ini diabaikan, dia memang beberapa kali mendapat ancaman.


Tapi Rasya pantang mundur. Baginya kebenaran harus disuarakan. Dirinya dan banyak temannya yang menjadi hakim bertahun-tahun harus terima menjadi pegawai tanpa fasilitas. Padahal tuntutannya besar dan banyak. Bagi keluarga hakim yang membutuhkan uang, suap bisa melenakan. Bagi keluarga hakim yang terancam keamanannya, hanya kompromi yang memungkinkan. Pemerintah sekian lama abai akan hal ini.  Dan bukannya fasilitas pengamanan, rumah dinas, beasiswa pendidikan lebih lanjut ataupun tunjangan lainnya, bahkan uang kesejahteraan yang sudah dijanjikan tak kunjung turun. Padahal itu asli hak para hakim. Rasya dan teman-temannya membuat gerakan ini. Dalam rangka move, baik lewat dunia maya maupun pertemuan dan diskusi langsung dengan para pengambil kebijakan terkait.

Justru dari dalam korps kehakiman sendiri, ada juga segelintir orang yang hendak menggembosi dan menggagalkan perjuangan yang dipimpin Rasya. Padahal Rasya tidak berjuang untuk dirinya sendiri. Tapi untuk seluruh hakim di Indonesia. Dan padahal jika usulannya ini diterima, yang mendapat tambahan banyak  tunjangan bukannya dia dan teman-teman yang terhitung masih hakim muda, tetapi justru yang senior sesuai tingkat kepangkatannya akan mendapat lebih banyak.

Begitulah, di manapun berada seorang pahlawanpun memiliki haters alias pembenci. Tapi Rasya terus berjalan. Dia melalui berbagai jalan untuk menempuh dan mencapai tujuan mulia ini. Demi makin tegaknya hokum di Indonesia. Bahkan wajahnya wara wiri di berbagai televise nasional karena seluruh Indonesia menyorot hal ini. Bolak balik Sumatra Jakarta untuk audiensi dengan para pejabat dan petinggi, dicecar berbagai pertanyaan bahkan tudingan.

Namun sekali layar dibentangkan, dia tak akan surut. Tak berhenti pada berbagai ujian dari teman sendiri dan para penyusup. Tetapi juga kekerashatian para pengambil kebijakan. Alasannya ada-ada saja. dari alasan teknis, birokrasi sampai dengan  psikologis dan masih banyak lagi. Yang paling menyesakkan adalah semakin hari, semakin mendekati hari H yang ditetapkan sebagai deadline, ternyata tak kunjung ada  kepastian. Semua orang merasa ketar-ketir. Kepalanya juga sama peningnya. Nama baiknya dipertaruhkan. Sebagian haters dan juga perusuh sudah terus-terusan menyerang.

Apakah hakim muda ini berhasil memperjuangkan kebenaran dan keadilan?


Novel Fight For Right bisa dibeli via google books dan google play


Rabu, 12 September 2018

Katakan Cinta

Katakan Cinta:


Novel ini termasuk dalam Novel Seri Mayasmara

berikut vlurpnya:

Katakan Cinta:
Tentang cinta terpendam, Tania dan Yazra yang sama-sama mengejar impian menjadi hebat, berkecukupan, berlimpahan. Merasa bahwa untuk bisa mempercepat tujuan mereka adalah dengan memilih pendamping yang lebih segalanya dari mereka, sehingga menutup mata dari cinta yang sebenarnya sudah hadir di dekatnya.
Kebersamaan mereka bersama komunitas dalam menyelenggarakan event-event epik, seolah makin menenggelamkan cinta bisu di tengah riuh kerja dan persahabatan.
Saat Yazra mendekati Aliya, a success single mom, barulah Tania merasakan cemburu. Aliya yang melihat cinta diam-diam di antara mereka, mencoba mendekatkan keduanya. Tapi Balya, seorang pengusaha muda mapan sempat menjerat hati Tania ketika mereka semua sedang menyiapkan sebuah festival untuk kota.
Bagaimanakah kelanjutan kisahnya? Dapatkah cinta di antara mereka akhirnya menemukan kata-kata?

Rabu, 29 Agustus 2018

Roadshow Promo Novel Banu dan Buku MCGS

Roadshow Promo Novel Banu dan Buku MCGS



Alhamdulillah minggu lalu, saya bersama penerbit Tiga Serangkai diberikan anugerah karunia kelancaran dan kesuksesan dalam rangkaian roadshow promo buku terbaru kami di berbagai radio. 

Radio Sonora FM Semarang, Radio Gajah Mada FM Semarang dan radio Sonora FM Purwokerto. 
Buku MCGS Muslimah Cantik Gaya Sholihah dan novel BANU Pewaris Trah Pesantren ini sudah bisa teman-teman dapatkan di toko buku Gramedia dll. 

Bisa juga dibeli via online di berbagai toko buku onlina dan online market place lainnya. Seperti link berikut:



juga bisa dibeli via Hasfa Store





Ini sedikit teaser novel Banu:


Banu, sebagai anak sulung, dia sangat diharapkan dapat meneruskan tongkat estafet pimpinan pesantren yang diasuh orang tuanya. Pesantren itu memang belum begitu besar karena belum lama dirintis. Apalagi sepeninggal ayahnya, hanya Iqom, sang ibu yang berjuang sendirian mengembangkan pesantren. Namun, kenyataan bahwa dia berasal dari keluarga trah pesantren, mau tidak mau harus siap mengemban tanggung jawab itu. Sesuatu yang dipersiapkan dengan matang oleh Iqom.

Bagi Iqom, untuk menyukseskan misinya, dia harus menjodohkan Banu dengan Ruania, gadis hafizhah yang masih trah pesantren juga. Tetapi, niatan suci itu ternyata mendapat penolakan keras dari Banu. Dengan berbagai dalih anak zaman now, dia menentang perjodohan itu. Bahkan, dia tidak mau pulang ke rumah pada saat acara pertunangannya dengan si gadis. Lebih-lebih, kini ada Nadia yang selalu mengisi hari-harinya selama kuliah di Jogja. 

Jika demikian yang terjadi, lantas bagaimana kelanjutan pesantren yang dikelola sang ibu? Akankah hati Banu melunak untuk menerima pertunangannya dengan Ruania? Lalu, bagaimana pula hari-hari Banu setelah terusir dari pesantren?

Bahasa hati, hanya bisa dimengerti oleh hati. Temukan jawabannya dalam novel ini.

Penulis: Dian Nafi
 Dan ini tentang MCGS

Cantik dan Gaya bagi Muslimah Shalihah, Perlukah?

Seorang muslimah identik dengan keanggunan, ketika dia menutup aurat, bertutur kata sopan, dan memperhatikan penampilan. Seorang muslimah memang perlu memperhatikan gaya busana, tetapi tidak dengan menampakkan aurat?

Masya Allah .

Ladies, kamu adalah ciptaan Allah yang harus dijaga. Ketika belum mempunyai suami maka kamu harus merawat diri, baik fisik maupun rohani untuk calon suamimu. Bagi kamu yang sudah bersuami maka wajib menjaga anugerah keindahan untuk suamimu.

Sekarang, kamu tidak perlu lagi pusing memikirkan cara menjadi cantik dan gaya. Buku ini menjadi bagian solusinya. Kamu akan menemukan makna cantik sejati dan cara meraih predikat muslimah cantik, gaya, dan shalihah.

Penasaran?

Intip bukunya yuk, Ladies!

Penulis: Dian Nafi


Go grab them all! 

Selamat membaca dan semoga terinspirasi!

Hatur suhun :)



Selasa, 14 Agustus 2018

Seri Education & Parenting by Dian Nafi #DNBooks

Seri Education & Parenting by Dian Nafi #DNBooks

ini dia Seri Education & Parenting by Dian Nafi #DNBooks



 22 Hari Bercerita #1 dan #2
 Tunas Integritas


Proses Kreatif Penulisan Novel Banu

Proses Kreatif Penulisan  Novel Banu



Masih ingat yang dulu sempat kuceritakan tentang bagan besar macam pohon silisah yang darinya aku dapatkan banyak ide dan bahan materi bagi seri novel-novel pesantrenku? 

Yups! 
Ini adalah salah satu hasilnya. 

Novel Banu ini melalui jalan yang sangat panjang sampai akhirnya bisa terbit Juli 2018 ini. 

2014 Surprise dan senang rasanya saat ditelpon salah seorang editor penerbitan. Aku kebetulan menang lomba cerpen di penerbit tersebut. Karena redaksi tertarik dengan gaya berceritaku, mereka berunding dan akhirnya menawariku membuat sebuah novel. Idenya terserah diriku. Jadilah aku mengajukan bagan besar seperti yang kuceritakan tentang novel #HPG dan novel #G
Mereka pun  memilih salah satu bagian kecilnya saja untuk kukembangkan, draft awal novel #B inilah yang kemudian kupanjangkan. 

Cukup lama penulisannya. Sempat ganti outline dan setting. Aku pergi ke Jogja dengan seorang teman untuk mengunjungi kampus dan lingkungan sekitarnya demi riset novel ini.

Beberapa kali revisi dan berjarak agak jauh-jauh tidak membuatku patah semangat.
Ciayooo!!  Akhirnya  yang  sudah kita mulai bisa kita selesaikan dan paripurnakan. Alhamdulillah. 

2016
Dari penerbit awal, naskah Banu dialihkan ke penerbit rekanannya untuk difollow up. 

2018
Setelah dua tahun masa kontrak yang habis di penerbit sebelumnya, maka kemudian sampailah novel #B ini ke penerbit yang sekarang. Alhamdulillah. 

Begitulah perjalanan sebuah karya. Layaknya jodoh, kita tidak tahu bagaimana jalannya. Misterius. Hehe

**

Seri novel pesantren yang sudah terbit bisa dilihat di postingan Hasfa
#B tentang kompromi  banu – tiga serangkai 
#MM  tentang kemuliaan mengejar mukti – bentang
#G tentang kecemburuan gus-kaki langit
#MHMH tentang passion matahari mata hati – tiga serangkai

Sedangkan seri novel pesantren yang sedang dan akan ditulis, adalah sebagai berikut:
series novel pesantren by DN

#HPG tentang harapan hoping
#FFR tentang perjuangan dan perlawanan 
#T tentang persaingan

#S tentang dendam dan pemaafan 
dan masih beberapa outline lainnya yang masih berbentuk embrio. 

Doakan lancar dan berkah ya penulisan novel seri pesantren lainnya.