Kamis, 07 Desember 2017

KONTRIBUSI ASTRA BAGI INDONESIA



KONTRIBUSI ASTRA  BAGI INDONESIA



Siapa yang tak kenal Astra. Perpaduan kesinambungan kualitas produk berikut beberapa aksi dan kontribusinya bagi masyarakat menjadikannya sebagai salah satu brand yang disegani di negeri ini.
Belakangan ini bahkan PT Astra International Tbk menggulirkan berbagai program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang dirangkum dalam Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia)
Banyak llangkah nyata grup Astra dalam  berperan aktif memberikan kontribusi untuk  meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia. Melalui karsa, cipta dan karya terpadu untuk memberikan nilai tambah bagi kemajuan bangsa Indonesia.

Astra telah menjalankan kegiatan CSR bersama sembilan yayasannya, yang dicanangkan melalui empat pilar utama yakni pendidikan, lingkungan, usaha kecil dan menengah (UKM) serta kesehatan.

Kesembilan yayasan tersebut adalahL
Yayasan Toyota & Astra,
Yayasan Dharma Bhakti Astra,
Yayasan Astra Bina Ilmu,
 Yayasan Astra Honda Motor,
Yayasan Amaliah Astra,
Yayasan Karya Bakti United Tractors,
Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim,
 Yayasan Astra Agro Lestari dan
Yayasan Insan Mulia Pamapersada Nusantara.


Sampai dengan tahun 2014, di bidang pendidikan Astra telah menjalankan CSR dengan menyalurkan 159.245 paket beasiswa, membina 13.262 sekola dan membina 28.199 tenaga pengajar.
Wow, keren ya.
Dari tahun ke tahun tentu saja program ini berjalan terus dan berkesinambungan. Artinya makin banyak anak-anak Indonesia yang menerima beasiswa dari Astra

Di bidang lingkungan hingga  2014, Astra telah menanam sedikitnya 3.333.456 batang pohon dan membudidayakan 805.346 tanaman mangrove.
Jadi kepikiran untuk meminta Astra agar ikut menanam banyak mangrove juga di beberapa daerah Demak yang sering terkena rob. 





Dalam bidang kesehatan, Astra hingga 2014 melalui keberadaan mobil kesehatan Astra (MOKESA) telah melayani sedikitnya 94.296 orang pasien, membina 915 unit Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan mengumpulkan 126.452 kantong darah dalam berbagai rangkaian donor darah.

Pada bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat, tidak kurang dari 8.646 UKM telah mendapatkan pembinaan dari Astra hingga 2014 yang diperkirakan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 57.837 orang.

Berbagai aktivitas sosial yang terpayungi dalam SATU Indonesia ini menjadi perwujudan nyata atas filosofi Catur Dharma Astra, yakni "Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara".

Empat pilar dalam Astra inilah area program Corporate Social Responsibility (CSR).  Yaitu pendidikan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, kesehatan, dan penyelamatan lingkungan.

Dalam menjalankan program CSR masing-masing anak perusahaan menyesuaikan dengan tempat beroperasi. Misalnya (PT Letawa memilih menanam mangrove karena kondisi alam di Mamuju Utara tadinya rusak oleh abrasi laut.
Dalam menanam mangrove tersebut, manajemen PT Letawa memberdayakan masyarakat sekitar kebun. Perusahaan juga menggandeng pemerintah daerah dalam pengadaan bibit mangrove.
PT Letawa, salah satu anak perusahaan Astra Agro Lestari pun akhirnya meraih penghargaan Kalpataru dari pemerintah. Penghargaan ini diberikan berkat peran Letawa dalam melestarikan tumbuhan mangrove di Mamuju Utara, Sulawesi Barat.

Penghargaan lingkungan tersebut sangat membanggakan karena merupakan yang pertama bagi Astra Grup. Perusahaan sendiri telah menanam mangrove sejak 2009.  Total mangrove yang ditanam mencapai 157.000 pohon di lahan seluas 262 hektare (ha) di tiga desa, yaitu Jengeng, Tikee Muara, dan Desa Ako di Kabupaten Mamuju Utara, Sulbar. 



Selain itu Astra juga memberikan penghargaan bagi para pelopor dan inovator di berbagai bidang. Pada tahun lalu para pemenang dibagi ke dalam beberapa kategori.

Zainul Arifin, 27 tahun, dari Lumajang, Jawa Timur. Arifin mendapat apresiasi dalam bidang Pendidikan atas programnya dalam memberdayakan masyarakat desa untuk membangun destinasi wisata. Karena menumbuhkan usaha ekonomi baru dengan keterampilan yang dimiliki masyarakat sekitar.

Ridwan Nojeng, 32 tahun, dari Sulawesi Selatan memperoleh Penghargaan bidang lingkungan. Usaha produksi pupuk organik dari kotoran sapi yang digagas Ridwan telah berhasil melakukan penghijauan di tempat asalnya di Desa Tompobulu, Jeneponto, Sulawesi Selatan. Desa Tompobulu bahkan saat ini telah menjadi Desa Wisata Lembah Hijau Rumbia yang banyak didatangi turis lokal serta mancanegara.


Yoga Andika, 27 tahun, dari Pasuruan, Jawa Timur mendapat Penghargaan bidang kesehatan. “Posyandu Remaja” nya di Desa Tosari, Pasuruan aktif melakukan penyuluhan seputar pernikahan dini, bahaya seks pranikah, hingga efek negatif miras dan nikotin kepada pelajar SMP serta SMA.
Muhammad Aripin, 29 tahun dari Kalimantan Selatan mendapat Penghargaan bidang kewirausahaan.  Karena berhasil mengajak anak jalanan, anak-anak korban narkoba dan putus sekolah untuk ikut dalam Yayasan Rumah Kreatif. Mereka bersama mengolah sampah menjadi barang bernilai ekonomis.

Akhmad Sobirin, 29 tahun, dari Jawa Tengah memperoleh Penghargaan bidang kewirausahaan. Bersama petani di daerahnya memproduksi gula semut setelah mendapat peluang pasar ekspor. Dia ikut mendirikan Koperasi Usaha Bersama (KUBE) untuk mendukung usaha produksi ini. Hasilnya, saat ini 102 petani yang menjadi anggota KUBE semakin sejahtera.

Dewis Akbar, 34 tahun, dari Jawa Barat mendapat Penghargaan bidang teknologi. Lab “Komputer Mini” Raspberry P.i., nya  menjadi wadah bagi anak-anak untuk menggali pengetahuan seputar teknologi. Lab ini pun berhasil melahirkan sebuah karya yang disebut dengan “Saron Simulator”, sebuah alat musik gamelan dari komputer.


Dosen Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Ihsan Rusydi, mendapat Penghargaan pada bidang teknologi. Bersama sepuluh mahasiswanya,  Ihsan mengembangkan teknologi budi daya tiram bermodalkan ban bekas sebagai tempat melekatnya benih tiram. Berkat teknologi ini, petani tiram pun mampu menghasilkan jumlah dan ukuran tiram yang lebih besar.

Masing-masing pemenang berhak mendapatkan bantuan dana sebesar Rp 55 juta.


Wow banget ya!

Tertarik nggak sih untuk bersama-sama Astra berkontribusi terhadap masyarakat?
Yuk!


Rabu, 06 Desember 2017

DN Resolusi 2018: Lebih Baik Lebih Bermanfaat




DN Resolusi 2018:  Lebih Baik Lebih Bermanfaat




Apa sih yang kadang membuat kita kehilangan arah?
Ada banyak kemungkinan. Bisa jadi karena tidak punya mimpi, atau tidak fokus, atau overwhelming, ataupun desperate alias putus asa.  
Sehingga memiliki resolusi setiap tahunnya merupakan salah satu cara agar kita tidak sampai kehilangan arah.
Alhamdulillah ada banyak hal telah dicapai satu tahun kemarin ini. Bi idznillah wa bi syafa’ati rosulillah. Untuk event baik perform manggung ataupun liputan saja total ada sekitar  161  event sepanjang 2017. Alhamdulillah wa syukurillah.
Buku yang terbit di tahun ini ada Inspirasi Dosis Tinggi, How To Reset Your Life terbitan Grasindo, 101 Travel Tips Stories Indonesia terbitan Gramedia.
Alhamdulillah menulis 1 novel ghost writer, 2 novel, 3 buku non fiksi, dan 1 pic book serta  3 buku cerita anak pesanan penerbit.
Kalau sebelumnya setiap tahun selalu ada profilku yang tayang di media, Harian Analisa Medan (2011) Buku Profil Perempuan Pengarang dan Penulis Indonesia (KosaKataKita, 2012) Jawa Pos-Radar Semarang (2013) Alinea TV (2014) Koran Sindo (2014) Tribun Jateng (2015) Nakita (2016), tahun ini belum ada kabar padahal sudah mau sampai ujung tahun ini.

Untuk tahun 2018 nanti, inginnya sih terus sehat bugar dan produktif seperti sebelum-sebelumnya. Aamiin. Selain menjaga pola makan dengan diet seimbang dan mengurangi karbo serta gula, juga harus terus rajin berolah raga. Semangat! :D

Yang pasti juga aku ingin lebih baik dan lebih bermanfaat.

Mudah-mudahan buku yang sudah ditulis tahun kemarin bisa terbit tahun depan. Dan aku bisa menulis lebih banyak buku lagi yang bermanfaat serta berkualitas. Kalau sebulan satu buku, ahay, berarti ada dua belas buku kali yaaa. Ahaha, maruk sekali. Yach setidaknya mudah-mudahan ada 2 novel dan 5 buku non fiksi yang bisa kutulis lagi ya. Aamiin.
Karir kearsitekturanku semoga juga masih jalan dan berkembang. Selalu up to date dengan material dan teknik terbaru menjadi tantangan ini. Alhamdulillah ada beberapa drafter dan junior architect yang menjadi support team Hasfa Consultant.

Lalu  Hasfa coworking space yang sudah kurintis satu tahun belakangan ini mudah-mudahan semakin menampakkan kemajuannya. Apalagi baru-baru ini ada terobosan baru yang mungkin bisa kuambil dengan berkolaborasi dengan berbagai instansi dan pihak-pihak lainnya.

Setelah tahun lalu aku jadi ikut merambah dunia baru dalam kancah meluruskan pemahaman publik akan syariah poligami, tahun depan sepertinya takdir membawaku menuju rel gerakan perlindungan terhadap perempuan dan anak. Akhir tahun ini saja berbagai kegiatan terkait cukup menyita waktuku. Sehingga kadang harus mengukur diri dan mendengar irama tubuh. Kalau capek dan agak sakit, mending aku istirahat sebentar.
Aku ingat selalu pesan ibuku, kalau sakit jangan kelamaan. Agar tidak banyak waktu yang terbuang. Alhamdulillah ada Theragran-M Vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan.
Apalagi seorang penulis dan blogger seperti aku dituntut untuk sehat jasmani dan ruhani. Stamina yang tinggi diperlukan agar bisa menyelesaikan semua pekerjaan sesuai tenggat waktu.
Dalam menjalani kehidupan serta kegiatan dan menuliskannya kembali karena begitulah tugas penulis dan blogger, kadang kita bisa kehilangan perspektif.  Penyebabnya mungkin karena uang, atau dogma, atau malas, atau capek, atau sakit dan badan tidak fit.
Padahal perspektif unik itulah salah satu senjata yang menjadi andalan penulis dan blogger. So, sudah semestinya kita menjaga kesehatan dan kebugaran kita dengan melakukan upaya-upaya optimal yang dibutuhkan.


Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.

Berlari Menujumu



 Berlari Menujumu





Memutuskan untuk melepas dan mengirim anak ke pondok pesantren sebenarnya aalah hal yang tidak mudah. Karena sebagai orang tua, kita cenderung ingin memberikan anak-anak dekapan hangat setiap hari, perhatian juga nasihat sebagai bagian dari cara-cara ibu mengungkapkan cinta.
Namun langkah memondokkan anak ke pesantren sudah menjadi tradisi dalam keluarga kami. Selain untuk melatih kemandirian, anak-anak juga akan mendapatkan bekal ilmu agama dan pembiasaan ibadah serta good habit lainnya yang penting untuk pembentukan karakter mereka di masa depan. Insya Allah.

Meski dalam perjalanan dan kenyataannya, ada beberapa hal yang tidak bisa kita lakukan sebagaimana biasanya para ibu yang putra-putrinya selalu berada di dekat mereka karena tinggal satu rumah. Kalau anak sedang menghadapi masalah, seperti sikap teman yang mengganggu ataupun hal-hal lainnya, secara fisik kita tidak bisa serta merta berada di dekatnya untuk memberikan dukungan ataupun mendengarkan keluh kesah isi hatinya. 

Apalagi jika anak sedang sakit. Rasa khawatir, cemas kadang mengalir, melintas. Walaupun kita sudah mengunjungi anak ke pesantren pada hari-hari maupun waktu-waktu yang telah disepakati dengan pondok pesantren ataupun sekolahnya, kadang risau tiba-tiba menelisip ke dalam hati. Yang bisa aku lakukan sebagai bentuk perhatian ibu agar anak selalu dekat, adalah berusaha memperhatikan kebutuhannya. Berusaha menjemput sendiri di masa liburnya sehari di rumah, walaupun ada banyak kegiatan dan job pada hari yang sama. Walaupun sebenarnya aku bisa meminta saudaraku yang lain untuk menjemputnya jika aku sedang ada kerjaan. Tapi aku justru memasukkan hari dan tanggal bersamanya itu dalam agendaku sebagaimana aku memasukkan jadual penting lainnya seperti job manggung atau liputan serta deadline-deadline.

Kadang bahkan aku bisa menyambangi atau mendatanginya ke pesantren atau sekolah dalam beberapa hari berturut-turut demi meyakinkan bahwa dia dalam keadaan sehat dan baik. Pernah suatu ketika tahu-tahu naluriku sebagai ibu membisikkan bahwa ada sesuatu yang tengah terjadi pada dirinya. Buru-buru aku mengirim pesan ke pengurus pesantren. Benar saja, anakku sedang sakit dan tidak masuk sekolah. Langsung saja tanpa ba bi bu, aku cap cus segera berangkat menuju pesantrennya.

Setengah berlari aku pergi menghambur ke dalam kompleks pesantren, minta ijin pada pengurus. Dan begitu mereka mempersilahkan aku naik ke lantai dua, aku langsung berlari menapaki anak tangga. Menemui anakku yang tengah terbaring di dalam kamarnya di pesantren.

Dahinya panas dan wajahnya pucat. Dia tampak terkejut melihatku datang. 

“Kok Umi tahu kalau aku sakit?” dia memegang tanganku dan mencium punggung telapak tanganku. Dia berusaha bangkit dari tidurannya tapi aku merebahkannya kembali. 

“Iya, tadi Umi tanya kabarmu ke pengurus. Sejak kapan sakitnya?” kuciumi keningnya. 

“Kemarin, Mi. Kepalaku sakit banget. Tapi sore kemarin aku sudah diantar pengurus ke klinik dan dikasih obat,” dia menunjuk bungkusan di sebelahnya. 

“Masih panas ya. Ini Umi bawakan Tempra Syrup.”

Seperti biasanya kalau di rumah pun, jika anak-anak sakit aku memberikan Tempra. Karena aman di lambung; tidak perlu dikocok, larut 100%; dan dosis tepat (tidak menimbulkan over dosis atau kurang dosis)

“Terima kasih, Umi,” dia memberikan senyuman terbaiknya meski bibirnya pucat.
Aku mengangguk menahan haru dan pilu. Apalagi saat melihat pancaran cinta di matanya yang menghargai kunjungan cepatku pagi itu yang didorong oleh rasa kasih sayang. 


"Kalau sakit, tolong kabari Umi ya, Nak. Terus minum obatnya nanti hingga sembuh. Dan jaga kesehatan," pesanku. 

Dia mengangguk-angguk sembari berusaha menyembunyikan haru deru cintanya.


Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra.