Kuat Menanjak Di Gombel

Kuliah di Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Universitas Diponegoro yang kampusnya di Tembalang, membuatku harus bolak balik menaiki dan menuruni jalan terjal di Gombel. Pada awalnya ketakutan dan kekhawatiranku adalah bagaimana kalau pas kendaraan roda duaku jalan menanjaki bukit Gombel, lalu ternyata tidak kuat sampai atas. Entah karena aku salah ambil ancang-ancang, atau koplingku salah masuk atau ada kendaraan di depan dan belakangku yang men-distraksi alias mengganggu konsentrasiku dan semacamnya. Tapi alhamdulillah setelah beberapa kali berhasil melewati tanjakan itu meski dengan sangat berhati-hati, aku menjadi semakin percaya diri dan tidak was-was lagi menaikinya.
Saking seringnya naik turun tanjakan Gombel itu kadang-kadang aku bisa mengendarai motor sambil menikmati pemandangan hehijauan yang ada di kanan kiri jalan raya. Bahkan dari atas, pemandangan kota bawah Semarang, rumah-rumah dan bangunan-bangunan,  berikut garis pantainya bisa dinikmati. Sebuah privilege, keuntungan, kenikmatan, kelebihan yang tidak semua orang mungkin bisa dapatkan dalam perjalanan pergi dan pulangnya dari kampus untuk belajar. Apalagi kalau malam hari pulang dari lembur tugas arsitektur bersama teman-teman kampus, aku bisa menikmati pemandangan malam Semarang bawah dengan gemerlap lampu kota, rumah-rumah, bangunan gedung-gedung tinggi yang juga memancarkan terang dari ruangan-ruangan dalamnya. Bahkan kerlap kerlip kapal-kapal yang tampak dari kejauhan, mengarungi lautan menuju pantai dan pelabuhan Tanjung Emas Semarang. So beautiful and wonderful.



Namun begitu ternyata ada kekhawatiran berikutnya yang berasal dari hembusan dan omongan antar teman-temanku sendiri. Konon katanya kalau sering dipakai naik turun di jalanan yang menanjak terjal dan turunan yang curam, kendaraan akan lebih cepat rusak dan aus mesinnya. Duh, agak cemas juga diriku. Sementara kuliahku saja masih mendapat sokongan beasiswa dari suatu perusahaan. Kalau kendaraanku cepat rusak, bukankah itu artinya akan ada pengeluaran besar. Kalau aku  meminta pada kedua orang tuaku, rasa-rasanya juga tidak tega. Karena waktu aku minta dibelikan meja gambar dan peralatannya saja, mereka harus survei dan mencari meja gambar yang bekas dan harganya  lebih terjangkau. Bapak dan ibu saja musti patungan dan mengusahakan dananya agar meja gambar dan peralatan  itu terbeli. Jadi aku harus benar-benar mengelola agar tidak banyak lagi kebutuhan besar lainnya.


Sesama teman yang juga mengendarai motor dan harus melewati tanjakan serta turunan bukit Gombel pun saling bertukar cerita dan pengalaman. Yang sebagiannya tentu saja mendapatkan insight, wawasan dan pengetahuan tentang bagaimana merawat kendaraan itu dari orang-orang lainnya juga. Ada yang dapat ilmu dari orang tuanya, paman, tante, pakdhe,  budhe, sepupu, tetangga maupun kenalan. Dari mereka inilah aku mendapatkan kiat agar kendaraan bisa terjaga dengan baik, awet, tahan lama mesinnya dan juga tetap cespleng meski bertahun-tahun dipakai untuk kerja keras nanjak-nanjak.
Aku pun mencoba untuk mempraktekkannya juga dengan menggunakan fastron dab kadang-kadang enduro produksi pertamina yang merupakan oli motor terbaik.

Harga oli fastron dan enduro terjangkau. Karena pemakaiannya bisa untuk jangka waktu yang cukup lama. Tergantung pemakaian  kendaraan kita juga sih. Tapi cenderung lebih lama durasinya. Yang lebih menguntungkan lagi, kendaraan terasa lebih nyaman dinaiki. Apalagi jika baru saja ganti oli fastron atau enduronya. Semakin terasa mulus banget mesin kendaraan begitu dilumasi. Mak nyusss.. lancar car. Dipakai jalan menanjak juga berasa ringan, tidak khawatir mesin kendaraan akan rusak sebab diajak kerja keras terus menerus. Alhamdulillah makin mantap dan percaya diri berkendara menanjaki bukit Gombel.