Minggu, 30 Oktober 2016

Writravellicious Goes To Pagoda Pulau Galang

Writravellicious Goes To Pagoda Pulau Galang


Pagoda ini berada di dekat gereja, sama-sama di eks kampung pengungsi Vietnam di Pulau Galang. Butuh sekitar kurang lebih satu jam perjalanan dari pusat kota Batam. Bisa sampai dua jam bahkan kalau perjalanan dalam kotanya sedang macet-macetnya.

Perjalanan menuju sini akan melalui lima jembatan yang menghubungkan enam pulau. Terdapat tiga pulau utama yaitu Batam, Rempang, Galang. Karenanya disebut dengan istilah Barelang. Dan jembatannya yang asoy itu disebut jembatan Trans Barelang.


Pagoda ini terletak persis di samping Gereja Katholik Nha To Duc Me Vo Nhem. Selain dua tempat ibadah ini, ada pula Gereja Protestan dan masjid yang tak terlalu terawat. Keberadaan beberapa tempat peribadatan sekaligus ini menunjukkan bahwa para pengungsi ini diberikan fasilitas yang lumayan juga. Dan kemungkinan mereka relijius. Yach bayangkan saja kalau sampai ada 250 ribu orang pengungsi, ya pastilah beragam banget keyakinannya. Dan mereka toh bisa hidup rukun berdampingan, beribadah bersebelahan. Eh mungkin karena ini kan situasinya terpepet ya? Mereka nggak punya pilihan tempat lain. Ah, tapi mungkin memang musibah kemanusiaan yang mereka alami itu, perang saudara yang membuat mereka harus mengungsi, menjadikan mereka bersatu. Melupakan perbedaan agama dan keyakinan.

Perang Vietnam itu juga dikenal sebagai Perang Indochina Kedua yang  berakhir tahun 1975. Ditandai dengan kejatuhan Saigon dan penyatuan terhadap Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Perang yang sesungguhnya memakan sangat banyak korban.

Sehingga terpaksa para pengungsi ini melarikan diri. Namun untunglah mereka diterima secara legal  di Negara seperti Amerika, Kanada, Australia dan Perancis. Sebagian lagi yang tidak diterima di negara-negara tersebut, memilih untuk melarikan diri dengan kapal tradisional, termasuklah yang terdampar di Pulau galang ini. Mereka sampai disebut sebagai manusia perahu, karena terapung-apung di lautan luas, di atas perahu, berbulan-bulan.

Di kampung Vietnam pulau Galang ini mereka akhirnya tinggal. Meski tak sepenuhnya aman juga. Karena konon terjadi juga tindakan kriminal seperti pemerkosaan yang  menjadi permasalahan  antar sesama pengungsi. Tak bisa kita menutup mata bahwa kemungkinan  tingkat stress dan frustrasi kadang  menyebabkan para pengungsi  tersebut kurang akal, tidak berpikir panjang dan mengambil tindakan bodoh.  Demi  memperingati seorang perempuan yang diperkosa oleh sesama pengungsi ini kemudian Humanity Statue yang didirikan 1 Januari 1985. Terdapat  ukiran nama pembuatnya, nomor kapal yang membawanya, serta nomor ID.

Nggak bisa membayangkan betapa chaosnya situasi saat itu ya.


 Di depan pagoda ini terdapat dua patung singa penjaga. Bangunannya sendiri sederhana sekali. Dengan empat kolom yang bagian bawahnya dicat warna kuning emas. Sebuah wadah berwarna sama terdapat di depan pintu pagoda, menjadi aksen yang menarik.


Agak berjalan sedikit dari Humanity Statue terdapat kompleks pemakaman bernama Nghia-Trang.  

I was in Galang from 05/31/90 – 10/11/93 KI 0531/84. We will never forget Galang Refuge Camp – [Hieu Nguyen, USA] adalah salah satu tulisan tangan yang ada  pada buku tamu di Museum Galang. 





Writravellicious Goes To Kuil Pulau Galang

Writravellicious Goes To Kuil Pulau Galang



Setelah melalui lebih dari satu jam perjalanan dari pusat Kota Batam karena sempat macet juga, akhirnya saya tiba di kawasan Kampung Vietnam. Sebelum masuk kawasan, taksi  melintasi portal dan membayar tiket masuk. Untuk  biaya tiket masuk perorang lima ribu rupiah.

Usai  membayar tiket masuk, pemandangan masih belum berubah. Karena kiri dan kanan  sepanjang perjalanan, hanya ada  pepohonan saja. Belum nampak pemandangan lain, seperti bangunan ataupun  perkampungan.


Destinasi pertama yang bisa dinikmati saat masuk kawasan kampung vietnam ini adalah sebuah bangunan Vihara. Namanya vihara Quan Am Tu. Bangunannya sangat  mencolok  full colour warna-warni. Langsung nampak dari jalanan.

Bau hio yang dibakar menusuk  hidung begitu kaki melangkah memasuki halaman vihara.

Terdapat tiga patung berukuran besar warna-warni, dengan patung naga raksasa sebagai penjaganya.  Dewi Guang Shi Pu Sha merupakan patung paling besar.  Dua plakat  di kaki Sang Dewi, berhuruf merah, berbunyi:

“Dewi Guang Shi Pu Sha bisa memberikan kita hoki, jodoh, dan keharmonisan dalam rumah tangga dengan cara: berdoa, semoga Dewi Guang Shi Pu Sha mengabulkan apa yang kita inginkan setelah selesai berdoa, melemparkan koin ke arah Guang Shi Pu Sha”.

Plakat kedua isinya,“Bagi anak-anak yang ingin pintar sekolah, cita-cita cepat tercapai berdoalah kepada Dewi Guang Shi Pu Sha supaya membantu kita mencapai apa yang diinginkan (yang halal)”.
 Dan akupun berpose di depannya :D

Vihara Quan Am Tu diresmikan pada 10 Desember 1979. Secara keseluruhan, vihara tampak resik apik, terlihat kalau well groomed,  terawat dengan baik. Foto-foto berwarna yang sudah pudar ada di sana, menampilkan masa-masa saat vihara dibangun, direnovasi dll.

Saat hendak meninggalkan vihara, saya berpapasan dengan beberapa orang yang mungkin punya darah Cina atau Vietnam. Mungkin mereka datang untuk beribadah selain berwisata.


Di Pagoda ini konon terdapat tempat penyimpanan abu warga Vietnam yang dulu meninggal selama masa pengungsian mereka di Pulau Galang. Pagoda Quan Am Tu ini terletak di atas bukit, dari sana kita bisa melihat view yang indah sekali. 


Kuil Quan Nam Tu ini diresmikan pada tahun 1979 oleh Maha Guru SEK CHONG SEN dari Tanjung Pinang dan para biksu-biksu Vietnam. Kuil ini jadi saksi para pengungsi Vietnam yang berjuang bertahan hidup di tempat tersebut kala itu.


Dari pagoda Kuil Quan Nam Tu ini, saya pun melanjutkan perjalanan  berkeliling di Eks Kampung  Pengungsian Vietnam.

Writravellicious Goes To Nha Tho Duc Me Vo Nhiem Pulau Galang Batam

Writravellicious Goes To Pulau Galang Batam




Taksi menempuh perjalanan dari Hotel Harris di pusat kota Batam ke kampung Vietnam ini kurang lebih 50 kilometer. Sekitar satu jam perjalanan. Usai  melewati Jembatan Trans Barelang dan berfoto-foto di destinasi tersebut, dan melewati empat  jembatan  trans barelang, akhirnya sampai  juga ke pulau Galang ini.



Sepanjang perjalanan tadi hanya pemandangan  pohon dan pohon, terkecuali saat  melintasi jembatatan, kita baru bisa melihat birunya laut dan langit.  Yang sebenarnya memang tidak ada pemandangan yang seru saat menuju ke Kampung Vietnam ini. Baik naik taksi ataupun ojek,  sepanjang perjalanan bisa  mengantuk deh karena saking jauh dan homogen pemandangannya. But dinikmati aja ya, karena sambil melihat tanah-tanah yang sebagian gersang itu kita bisa sambil merenung dan berkontemplasi kan ya? :)



Jika hendak rental mobil disarankan untuk merental mobil langsung satu hari, bukan rental per-destinasi. Karena harganya bisa sama dengan menyewa mobil selama satu hari. Sedangkan biaya ojek untuk ke Kampung Vietnam katanya sekitar dua ratus lima puluh ribu pulang pergi. Kalau mau ngojek, sebaiknya menggunakan baju lengan panjang dan masker agar kulit tidak gosong karena teriknya mentari.
Salib yang ada di Gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem menjadi hal yang mencolok dari kejauhan. Juga patung putih Maria di bagian muka bangunan di bawah tanda salib. Maria tampak  sedang merentangkan tangan agak ke bawah. Dia berdiri di atas bola dunia dengan jubah putihnya yang merentang seperti sayap.

Untuk sampai ke gereja ini, kita harus melewati titian kecil melengkung terbuat dari besi yang kokoh. Dasar titian terbuat dari kayu yang kuat sehingga kita  tidak akan ragu untuk melintasinya.
Kita juga bisa menyaksikan bola dunia yang  berada di atas patung perahu bernomor lambung VN.02.1985.
Di atas kepala patung di atas bola dunia ini  terdapat lingkaran putih terbuat dari lampu neon, menjadi penanda “malaikat” atau orang suci.
Deretan kursi kayu berkaki besi berjajar di dalam gereja yang sangat luas, dengan langit-langit yang tinggi. Ekspose langit-langitnya dicat putih, menampakkan struktur kayunya yang rigid, menjadikan gereja ini semakin berkesan luas. Bukaan jendela yang lumayan banyak dan lebar memasukkan udara dari luar, sehingga membuat ruangan berkesan adem. Ciri khas bangunan tropis.



Melintasi kampung vietnam dengan taksi, kita bisa melihat beberapa bangunan peninggalan di beberapa ruas jalan. Kebanyakan bangunan sama sekali tidak terawat. Bahkan  beberapa tempat terlihat menyeramkan karena kondisi bangunnannya sudah memprihatinkan. Tidak nampak ada spot atau rute pejalan kaki untuk melihat peninggalan bangunan tersebut. Dan lagipula memang  bangunan tersebut merupakan bangunan kosong. Di beberapa sudut jalan dan persimpangan, kita bisa menemukan beberapa  penunjuk keterangan bekas rumah sakit, bekas aula, bekas perkampungan.
Rumah Sakit ini dibangun atas kerjasam UNHCR, Palang Merah Indonesia dan Palang Merah Internasional. Rumah Sakit ini memiliki tiga puluh kamar, dengan kapasitas sepuluh  orang per kamar. Tenaga Medis yang bertugas berasal dari berbagai Negara termasuk dari Indonesia. Penyakit yang banyak dibawa oleh pengungsi konon  selain penyakit kelamin, juga penyakit Polio.






Perang Vietnam yang terjadi sekitar tahun 1970 membuat sebagian besar warga Vietnam lari dari negaranya.  Konon jumlah korban jiwa yang begitu tinggi akibat perang tersebut. Ribuan orang vietnam  memilih lari menggunakan kapal kayu untuk mengungsi ke negara lain. Bahkan tanpa tujuan yang jelas. Perahu mereka terombang-ambing di lautan luas selama berbulan-bulan. Mereka  berharap kapal dan perahu mereka akan bersandar ke pinggir pantai. Entah di mana.

Tidak semua pengungsi selamat. Banyak perahu dan kapal yang harus karam di terjang ganasnya ombak dan lautan yang luas. Ribuan pengungsi lainnya yang selamat terpencar di beberapa negara terpisah. Sebagian mereka akhirnya tiba di salah satu negara yaitu Indonesia, mereka tiba dengan selamat di Pulau Galang Batam Kepri ini.




Kawasan camp pengungsi vietnam ini sepi karena memang tidak terdapat lagi warga Vietnam. Sebab Di kawasan kampung vietnam pulau galang ini terdapat Vihara Quan Am Tu yang kokoh, Pagoda Cua Ky Vien yang megah, gereja Protestan dan Katolik yang unik. Keberadaan tiga bangunan peribadatan dari kaum yang berbeda keyakinan ini menunjukkan sikap keberagamaan (religiositas) mereka. Dan sekaligus gambaran bahwa nasib sama sebagai pelarian dan pengungsi, membuat perbedaan keyakinan ini tidak menjadi masalah lagi. Sehingga mereka pun hidup berdampingan dan bertoleransi. 

Oh, apakah kadang memang dibutuhkan ujian dan musibah kemanusiaan untuk menyatukan perbedaan keyakinan?  Membayangkan hal ini, rasanya justru menakutkan ya? Ya Rabb, lindungi bangsa kami dari perpecahan. Lindungi kami dari musibah.  Aamiin.



Selain monumen kapal yang berada dekat gereja, terdapat juga dua  kapal kayu berukuran besar yang berada di persimpangan jalan yang kulihat saat perjalanan pulang.

Kapal tersebut terlihat sangat memprihatinkan, karena beberapa sisinya sudah mulai keropos, pada bagian deck kapal juga terlihat berantakan.

Para pengungsi vietnam ini pastilah orang-orang yang tangguh, yang tidak mudah menyerah, apalagi fatalis karena banyak  yang survive daripada tewas. Mereka juga tidak gampang pasrah  meski masa depan mereka awalnya gelap gulita. Konon mereka biasa bertahan berbulan-bulan di atas perahu kecil saat menjadi “manusia perahu”. Tidak sedikit eks pengungsi Pulau Galang kini memperoleh kehidupan layak di berbagai negara.  Sebagian anak cucu keturunan mereka kadang pergi ke pulau Galang ini untuk berziarah atau napak tilas perjalanan dan sejarah nenek moyang mereka. 
So inspiring!

Writravellicious Goes To Batam Centre

Writravellicious Goes To Batam Centre



Jalanan masih basah saat kaki melangkah meninggalkan lobby hotel Harris. Namun karena tugas memanggil, diriku sudah harus hadir sore itu di Masjid Raya Batam untuk sharing kepenulisan, maka diripun bergegas berangkat. 

Untuk menuju Masjid Raya Batam, aku memilih berjalan kaki melalui Batam Centre agar sekalian bisa menikmati indahnya kawasan ini. 

Saat memasuki kawasan Batam Centre, mata langsung dimanjakan dengan gapuranya yang tinggi besar dengan keindahan ukirannya yang aduhai. Menggunakan style motif ukiran islami gaya timur tengah yang sering kulihat di buku-buku arsitekturku, dan dengan lengkung bukaannya alias ambangnya, membuat aura kita terbawa seolah memasuki kawasan yang relijius. Seakan berada di sekitaran masjidil haram di Makkah atau masjid Nabawi di Madinah. Aduh jadi kangen haji dan umroh lagi.




Batam Center ini terletak di tengah-tengah jantung kota Batam. Alun-alunnya, begitulah.

 
Di dalam kawasan Batam center terdapat  Gedung Astaka, yang dulu diperuntukkan gedung perhelatan MTQ. Lalu terdapat juga gedung-gedung Pemerintahan kota Batam, kantor Pemda, DPR, juga DC Mall. Di  sekitar Batam Center terdapat hotel dan pelabuhan ferry domestik dan juga ferry penyeberangan ke pelabuhan Singapura.  




Astaka ini di gunakan untuk kegiatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXV di Dataran Engku Putri Batam Centre. Banyak pengunjung lokal dan dari daerah lain  yang datang ke sini. Tapi waktu aku ke sana, mungkin karena sehabis hujan dan bahkan masih rintik-rintik gerimis, jadi tak banyak orang. Bahkan masih cukup sepi.


Astaka ini di bangun menyerupai Masjid Nabawi. Apalagi dengan kubah hijaunya itu. Wah, jadi kangen Madinah deh. Tentu saja sudah dipadukan dengan style bangunan budaya khas melayu.  konon bahkan untuk membangun astaka ini butuh dana sekitar 9,1 milyar. 

 Arsitektur dan keindahan Gedung Astaka ini  jadi magnet bagi para pengunjung. Banyak warga yang datang untuk melihat atau ingin berpose di depan bangunan tersebut. Luas lahan yang digunakan sekitar 1700 meter persegi. Khusus untuk Astaka ini ada lima kubah, dengan memiliki sedikitnya delapan sekat ruangan.




Astaka ini dibangun sebagai tempat pembukaan sekaligus penutupan MTQ tingkat nasional yang di adakan di kota Batam waktu itu. Acaranya sendiri dibuka oleh presiden Susilo Bambang Yudoyono. 



Keluar dari kawasan Batam Center, mata langsung menemukan pemandangan bukit senyum yang dengan gagahnya menyajikan tulisan 'Welcome To Batam' yang super huge besar, bahkan saat kita lihat dari kejauhan. Apalagi kalau kita dekati ya? Sayangnya saat itu aku belum sempat berkunjung ke daerah bukit senyumnya. Mudah-mudahan lain kali ada kesempatan lagi. Aamiin.

Jumat, 28 Oktober 2016

Jodipan: Santorini Di Malang

Jodipan: Santorini Di Malang




Wah, pas banget nih. Pas aku mau ada perjalanan ke Malang selama tiga harian, eh teman-teman di grup wa arsitektur lagi ramai perbincangkan kampung unik ini. Namanya Jodipan, di Malang euy. Keren banget, warna warni dan berada di bantaran sungai Brantas. Sehingga banyak yang menjulukinya sebagai Santorini-nya Malang.





Kampung warna-warni di Kelurahan Jodipan, Kota Malang, resmi dijadikan ikon destinasi oleh Pemkot Malang. Siapa sangka perkampungan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas menyerupai Santorini di Yunani digagas oleh delapan mahasiswa Program Studi Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Mereka  menyulap kampung yang dulunya kumuh menjadi destinasi wisata baru. Dengan pengecatan warna-warni pada dinding, atap, pagar rumah hingga jalan setapak dan tangga-tangga batunya.

Menggandeng program Corporate Social Responsibilities (CSR) perusahaan cat mereka mewujudkan ide kreatifnya. Warna mencolok tak pelak kini kawasan Jodipan menjadi obyek foto selfie dan wefie.

Dari berbagai postingan di media sosial, view foto yang diambil dari jembatan yang menghubungkan Jalan Panglima Sudirman dan Jalan Gatot Subroto, tak jauh dari Stasiun Besar Malang menyebut pemandangan itu lebih menyerupai kawasan Izamal di Meksiko, Nyhavn di Denmark, St John di Kanada atau bahkan Cinque Terre di Itali


Mereka bertajuk Guys Pro Komunikasi UMM, Nabila, Salis Fitria, Ira Yulia astutik, Dinni Anggraeni, Wahyu Fitria, Elmy Nuraidah, Fahd Afdallah dan Ahmad Wiratman.

Semua anggota timnya adalah mahasiswa Komunikasi UMM yang sedang menempuh mata kuliah Praktikum Event Public Relations. Tugas praktikum itulah yang mengharuskan mereka membuat program bermanfaat untuk masyarakat dengan menggandeng klien dari perusahaan swasta atau pemerintah.


PT Indana Paint sangat tertarik dengan proposal Guys Pro. Pemilik cat merk Decofresh  menggelontorkan dana Corporate Social Responsibility (CSR)-nya untuk program ini.

Inilah proyek "Decofresh Warnai Jodipan". Dua ton cat habis menyulap kampung di bantaran sungai .Berbagai elemen masyarakat dilibatkan untuk memulai bersih-bersih dan pengecatan lingkungan. 


Salis yang juga menjadi motor penggerak kelompok ini mengaku ide mengecat Jodipan diinspirasi konsep kawasan Kickstater, Rio De Janeiro, Brazil, Yunani serta Kota Cinque Terre, Italia



Mereka menggandeng masyarakat setempat melalui ketua RW dan RT. Mengerahkan tukang dan teknisi.  Juga didukung  oleh komunitas Mural Malang yang mendekorasi pagar dan tangga-tangga batu di dalam perkampungan. Sejumlah 90 rumah di RW 2 meliputi RT 6, 7 dan 9 menjadi sasaran


Wah, keren abis ya. Jadi kepikiran buat gerakan kayak gini juga di Demak yang notabene banyak daerah yang ada di bantaran sungai. Jadi bisa tambahan destinasi wisata ke kota wali ini. Iya kan? Yuk siapa yang mau ikut gabung? :)

Di Mana Bisa Beli Novel Just In Love (Mayana Series)

Di Mana Bisa Beli Novel Just In Love (Mayana Series)



 Pagi ini ketika tidak sengaja melintas movie trailer bakal film cinta laki-laki biasa karya mbak Asma Nadia, aku sedikit terkejut. Karena kayaknya idenya mirip dengan novelku Just In Love yang terbit 2014. Tentang mahasiswi arsitektur magang yang menjalin kasih dengan tukangnya. Adegan pembukanya juga mirip, mereka jalan tabrakan. Hehe. Tapi mungkin saja kebetulan sama ya kan. So positive thinking aja dan keep writing. 

Btw, jadi ingat proses kreatif penulisan  novel ini. Dan juga mau kasih tahu teman-teman ke mana kalau mau baca, karena sudah tidak lagi ada di toko buku Gramedia, Togamas dll.

proses kreatif novel Just In Love (Mayana Series)
Embrio Novel Just In Love sendiri sebenarnya sudah lama bersarang di kepala. Sekitar setahun setelah lulus Arsitektur Undip, aku mengerjakan renovasi interior di sebuah mall besar di Klaten. Dari sanalah cerita ini bermula.Sebagian tokoh juga adegannya kucuplik dari peristiwa-peristiwa yang benar-benar terjadi. (Mungkin karena sebab  itulah sehingga  penyiar GajahMada FM-yang mewawancarai saat talkshow- merasa bahwa novel Just In Love ~ "membumi banget". Hahay....)
Salah satu adegan yang menjadi favoritku dalam Just In Love adalah saat karakter utamanya menghabiskan waktu makan siang mereka di los pasar di belakang Mall. Hmmm....
Kalau kamu, apa adegan favoritmu dari novel ini?

Kebetulan sekali aku beruntung mendapat hadiah writing retreat dari sebuah penerbitan besar. Selama akhir pekan itu kami digodog oleh para penulis senior yang menjadi mentor kami. Dari sebuah sinopsis, aku kemudian mengembangkan embrio ini menjadi plot, dan memakan waktu sekitar sebulan untuk menyelesaikan novelnya.

Dalam perjalanannya, kisah ini terpaksa aku simpan sementara karena ternyata dianggap lebih cocok untuk young adult, sementara yang diharapkan adalah teenlit. Okey. Sembari menunggu takdir berikutnya, aku perbaiki sana sini, brainstorming dengan guru menulisku, terutama dalam menentukan twist dan endingnya. Kemudian beberapa kali mengganti judul.

Akhirnya pintu itu terbuka. Saat Grasindo menggeber even PSA2, kukirimlah naskah ini. Dan alhamdulillah berjodoh, menjadi salah satu pemenang. Sampai akhirnya terbitlah Just In Love dan hadir di tengah-tengah pembaca. 


For Order: Available at Grasindo Publisher 021-53650110/11 ext 3901/3902
Teman-teman yang tinggal di luar negeri, bisa beli juga via Amazon https://www.amazon.com/Just-Love-Indonesian-Dian-Nafi/dp/6022515165




Bisa juga didapatkan via toko buku online seperti di bawah ini :
inibuku >>  http://www.inibuku.com/44865/just-in-love.html 
amazon >> http://t.co/YMZEd3UF04 pengenbuku >> http://www.pengenbuku.net/2014/05/just-in-love.html parcelbuku >> http://www.parcelbuku.net/non-fiksi/pengembangan-diri/just-in-love/ gramedia online>>http://www.gramediaonline.com/moreinfo.cfm?Product_ID=880044
bukukita >> http://t.co/eR2mrOdpMp

 





oh ya, yang mau beli e-book alias versi digitalnya juga bisa lho. silakan ke sini:
gramediana >> http://gramediana.com/books/detail/703141041-just-in-love?locale=en
scoop >> http://www.getscoop.com/books/just-in-love


 




Yang mau intip bocoran alias teasernya, bisa ke sini >>https://www.goodreads.com/book/show/22008752-just-in-love Yang mau lihat book trailernya, silakan ke sini >> http://www.youtube.com/watch?v=9zTLpApd13U http://www.youtube.com/watch?v=1TqEJuhzmZI