Review Novel Only a Girl

Only a Girl - Menantang Phoenix by Lian Gouw


Wow! I love this book.
So humanis. Itu yang langsung tertangkap. Sisi-sisi kemanusiannya yang kental, keperempuannya juga. Bahwa tiap–tiap kita sebenarnya memiliki impian. Seringkali ada orang yang tidak tahu apa yang diinginkannya, tapi tokoh–tokoh dalam cerita ini menemukan dirinya sendiri meski harus melalui berbagai pengorbanan dan perjuangan.

Yang menarik, cerita tiga perempuan dari tiga generasi (Nanna, Caroline,dan Jenny) ini juga berlatar pergerakan dan kejadian selama masa-masa menjelang, selama serta sesudah kemerdekaan. Kita jadi mengetahui banyak hal terjadi kala itu, yang mungkin tidak terceritakan dalam buku sejarah. Sisi-sisi humanisnya.
Sebenarnya pas banget kalau pas Agustus bulan kemerdekaan ini baca dan bedah novel ini :)

Saya punya seorang sahabat keturunan Cina. Kami sangat akrab. Setelah membaca buku ini, aku jadi tahu kenapa ada bunker di dalam rumahnya...:)

Membaca MP, menjelaskan saya banyak hal.
Bagaimana dan mengapa umumnya terjadi ketegangan antara menantu dan mertua (atau nenek mertua), karena kecemburuan. Antara ibu dan anak perempuannya, karena dorongan dan keinginan agar sang anak mandiri.

Dan senyatanya pergaulan bebas membawa pada suatu ‘bencana’, aib dan penyesalan. Oh, kandungan moral cerita dari bagian ini sangat penting jika saja pembaca menyadarinya.

Juga bahwa cinta, bagaimanapun, memiliki logikanya sendiri. Sehingga tak ada seorangpun bisa menghalanginya mempertemukan dua orang yang mungkin berbeda adat dll.

Perjuangan orangtua demi anak-anaknya sedemikian hebat, dan tulus. Pada akhirnya ia hanya bisa menjadi busur bagi anak panahnya yang melesat sendiri meninggalkannya.

Dan masih banyak pelajaran lain yang diperoleh. Apalagi jika dibaca berulang-ulang. Buku ini sarat gizi dan vitamin.

Cara penceritaannya yang detail membawa kita serasa berada di tempatnya langsung dan merasakan kejadiannya. Seperti sebuah film. Jadi membayangkan Bandung era dulu, bahkan membangkitkan keinginan untuk mengunjunginya kini. Menapaktilasi tempat-tempat di mana cerita ini berlatar.

Meski alurnya linier, namun tidak mengurangi keasyikan menikmati ceritanya. Bravo dan salut untuk bu Lian yang telah menuliskannya dengan indah dan bermakna.

Oh ya, kemampuan vision Nanna (sang nenek) adalah sesuatu yg menarik. Dia bisa melihat sesuatu dalam pandangan matanya yg terpejam tentang masa depan dll. Hmm.. bagaimana dia bisa seperti itu ya? mungkin karena pengalaman hidupnya dan Tuhan memberkatinya ?

Most of all, kalau novel ini difilmkan pasti seru sekali.