Jakarta International Literary Festival Day 3




Salah satu wall di exhibiton  Jakarta International Literary Festival  menampilkan tentang  Sastra Pergerakan. 
Ini lho contoh nyata bahwa sastra itu sngat berguna. Semangat perjuangan melawan penjajahan jadi makin berkobar karena disuarakan lewat sastra pergerakan.

Dinding lainnya menampilkan Balai Pustaka. Satu satunya referensi di jamannya. 




Hari keempat symposium lima Againts Biases ada Bejan Mastur dari Turki, Zainab Priya Dala dari Afrika yang keren banget lugas tangkas cerdas tapi aku gak sempat nyapa in person huhuhu sedih, saras dewi dan mba Hera Diani dari majalah magdalene.


Sambil menunggu sesi simposium dimulai aku sempat chit chat dengan mbak Hera. Seru banget obrolan dengan mba Hera pagi itu. Dari tema gender, media, start up dan investor, event, thematic workshop, online learning, gaya kerja anak milenial, dan tantangan2 kepenulisan serta jurnalisme.




Hari ketiga sesi siang ada symposium enam The South Gazes Back ada Akhil Katyal dari India yang keren banget tapi aku juga gak sempat nyapa in person langsung, Prabda Yoon dari Thailand yang sempat nyapa tapi gak foto bareng, Zen Hae dan Ari Joga


Di sela-sela antara acara panel, aku sempat foto bareng Om Yusi Avanto Pareanom, pak ketua yang kecapekan 




Hari ketiga sore ada talkshow Fiction and Truth
Yang ngobrolin jurnalis semua nih yang juga berprofesi sebagai penulis. Jadi memang seru banget. Adventorous dan menantang sekali kisah kisahnya. Ada Faisal Tehrani dari Malaysia yang tujuh bukunya kena banned dari pemerintah karena menyuarakan kaum marginal, Shenaz dari Maritius yang kisah dan cara berkisahnya sangat menyentuh, juga mba Linda Christanty



Seneng banget ketemu mbak Linda lagi. Terakhir ketemu sekitar dua atau tiga tahun lalu di Jogja waktu mba Linda ngisi workshop nulis cerpen yang dia sampaikan dengan gaya yang seru banget karena kami diajak ajojing. 😀
























Baca lebih lanjutnya tentang Jakarta International Literary Festival
Day 1
Day 2
Day 3
Day 4