Sabtu, 06 Oktober 2018

Apakah Kita Berada Di Tempat Yang Salah?


Apakah Kita Berada Di Tempat Yang Salah?


ibu Waljinah Maestro Keroncong


Ceritanya hari Jumat aku berada di gedung DPR untuk sosialisasi 4 pilar dari MPR RI, yang diselenggarakan bareng Gabungan Organisasi Wanita (di mana aku jadi salah satu pengurusnya)

Eh lhadalah tahu-tahu ternyata yang bikin acara dan sekaligus narsumnya adalah salah satu anggota fraksi X. OMG


Hari Sabtunya, aku datang ke acara pertunjukan musik keroncong dengan santainya. Padahal pada saat yang sama, ternyata ada pengajian AlKhidmah di Masjid Agung Demak.


Jadi beginilah catatanku  Semalam Selepas Kenduri Keroncong. Sebuah uneg-uneg seperti biasanya, agar tidak menggumpal di kepala.





 Kami makan tumpeng bareng dalam rangka syukuran kenduri keroncong, ulang tahun komunitas keroncong yang ke-11. Bu waljinah jauh-jauh datang dari Solo dan  berkenan menyanyikan dua lagu lho. Masya Allah. Suaranya masih luar biasa

 Ketemu konco at kenduri keroncong 
Salah satu bonus jika datang ke acara keroncong adalah ketemu teman-teman pegiat keroncong. 
Ada kehangatan dan kekeluargaan juga di antara mereka. Hal yang baru kusadari semalam.


Meski kemudian ada yang sedikit membuatku masygul. 
Saat pulang tengah acara (karena jam malamku adalah jam sembianz masih seperti dulu) aku mendapati ternyata pada waktu bersamaan tadi ada pengajian al khidmah di masjid Agung. 
Sehingga pertanyaan serupa yang dulu pernah meletup di kepala saat rombongan sastra ke dieng dan kami papasan dengan rombongan orang yang berduyun datang le pengajian habib syeikh. 
Hanya saja tingkat ambiguku tak sedahsyat dulu. 
Jika waktu itu rasa bersalah lebih dominan menggerus, 
yang semalam ada setitik insight berbeda. Mengingat Allah di majlis dzikir otomatis akan lebih mudah. Tapi mengingat Allah di majlis musik, temtu lebih susah. Dan di mana pun takdir menempatkan kita, bagainanapun situasinya, tetaplah berusaha mengingat Allah. Bismilah tawakkaltu alallah. Laa haula wa laa quwwata illaa billahil aliyyil adziim




 Wohooo ketemu lagi ama mbak demak, yang adalah santri banat dan salah satu putri daerah favoritku. Kami pernah ngemsi bareng di salah satu acara skala jawa tengah yang diliput tv lokal. Ketemu pertama, alhamdulillah langsung nge-blend, dan karena merasa satu frekuensi maka tiap kali ketemu langsung tune in. 
Walaupun tahu kalau dia salah satu vokalis grup keroncong, tapi semalam nggak mengira akan ketemu 
Salah satu berkah silaturrahmi adalah nge-charge energi. Alhamdulillah 




 Keroncong adalah nasionalisme. 
Ada harmoni yang tercipta dan terdengar, terasa dari petikan instrumen-instrumennya yang beragam. 
Keroncong juga adalah warisan budaya yang jika tidak diuri-uri dan dilestarikan akan punah atau bisa jadi di-klaim oleh bangsa lain. 
Dengan adanya situasi dua acara berbeda semalam. Antara pengajian di masjid agung dan kenduri keroncong di basecamp nya keroncong, yang menjadi PR bagi seorsng santri adalah:

Bagainanakah supaya keroncong itu juga bisa membawa kita selamat ke akhirat?

Pak Mochtar Luthfi, salah satu pegiat keroncong sepertinya menjawab pertanyaan itu dengan menyanyikan sebuah lagu gubahan pegiat keroncong lainnya, berjudul Dia. 
Tentang Dia, tentang Allah, tentang mengingatNya dalam situasi apapun. 
Dan keroncong, dengan segala keindahan dan berkah seni karuniaNya menjadi salah satu hal nyata yang harus kita syukuri. Betapa maha indahNya dia yang menciptakan keindahan dan talenta bakat sedemikian hebat. Allahu Allah
 Salah satu upaya memasukkan dzikrullah ke kenduri keroncong semalam juga terlihat dengan masuknya penari rumi saat pembukaan acara dan juga saat lagu Dia disenandungkan. 
Hal yang menurutku tadinya aneh dan kelihatan memaksakan, namun kemudian kutemukan alasannya yang masuk akal.
 Selain tumpeng yang diuri-uri bersama kenduri keroncong, ada juga penganan lokal macam ketela, kacang dan lainnya.. Tidak saja sehat dan.aman, tapi juga menjaga ekosistem ekonomi petani lokal, begitulah kira-kira narasi heroiknya. 
Karena hidup adalah rangkaian narasi narasi yang kita cipta untuk membuatnya bermakna. 
Yang juga dari kuliner lokal adalah kopi. Aku sempat menikmati kopi mandailing yang sedap, ada manis-manisnya dan asem-asemnya adalah salah satu bagian favoritku juga. 
Melihat proses pembuatannya sambil berbincang tentang bagaimana dan dari mana biji kopi itu berasal, berikut harga mentah sampai harga jualnya di kafe dst dsb, menjadi sisi lain dari pertunjukan seni, termasuk kenduri keroncong semalam. 
Bakal pengen nyobain kopinya lagi sih kayaknya. 
They know how to demonstrate their product so potential customer becoming addict 
 Ketemu teman teman baru, para pegiat keroncong dari berbagai kota. Magelang, solo, jogja, Bandung, pati, jepara, kudus, dll. 
Begitulah hobby dan kesukaan bisa menghubungkan orang-orang yang secara geografis jauh tapi secara preferensi dekat. 
Setelah kupikir-pikir ini mungkin adalah salah satu scene, bagian dari proses reset life sebagaimana yang kutulis dalam buku personal growth-ku terbitan Grasindo. Menemukan kegiatan, hobby dan orang-orang baru adalah salah satu etapenya. 
 Yang semalam kudapatkan juga: sejatinya kehidupan ini adalah estafet kepada generasi muda. 
Apalah guna semua warisan budaya jika tidak ada yang melanjutkannya. 
Maka ketika secara simbolis bu Waljinah menyerahkan potongan tumpeng kepada salah satu vokalis muda keroncong (bahkan masih anak-anak) dan juga bertemunya seniman Koko thole dengan anak SMP pemenang lomba nasional mencipta lagu kebangsaan di acara semalam, maka kesadaran itu makin nyata. 
Saatnya regenerasi. Dan yang senior justru harus mencari bibit bibit muda yang akan melanjutkan, dan bukannya bersikukuh tinggal menetap untuk kedigjayannya sendiri. 

Tapi lihatlah betapa relijiusnya aura serambi masjid agung dengan jamaah dan pengajian Alkhidmah semalam. 
Jika sama-sama diguncang gempa atau tsunami pada saat bersamaan, manakah majlis yang lebih diberkahi? 
Itu pandangan skala makro. 
Namun skala mikro, akan jatuh pertanyaan pada masing masing individu, personal. 
Siapakah yang sedang dalam keadaan mengingatNya, entah di manapun dia berada saat itu. 

Yang sebenarnya agak kita khawatirkan dari sikap permisif terhadap sesuatu yang seolah tidak tercelup penuh pada shibghatullah adalah jangan jangan tahu tahu kita tergelincir keluar karena terlalu ke pinggir. Naudzu billahi min dzaalik. 
Dan yang harus terus kita waspadai saat kita alhamdulillah bisa berada dalam bi'ah lingkungan yang relijius adalah jangan sampai kita jatuh sombong, takabur, ujub, merasa sok suci dan yang lain salah, karena itu justru jebakan. 
Merunduklah, merunduklah. Di mana pun kita berada, dalam situasi apapun. Merunduklah kepada Yang Maha Kuasa. Aamiin. Laa haula wa laa quwwata illaa billahil aliyyil adziim. 
Hasbunallah wa ni'mal wakiil ni'mal maulaa wa ni'mannashiir.



Terpujilah atau terkutuklah seorang hybrid ambigu paradoks macamku yang suka over thinking. Benarlah hidup adalah bagaimana kita mengukir makna dan memaknai. Tapi bagaimana kalau kita salah memaknai. Terlebih lagi bagaimana kalau kita salah membagikan makna? 
Bagaimana kalau jatuh di tempat yang salah? 
Yang kita takutkan adalah jangan sampai kita lalai, abai lalu tahu-tahu mata hati tertutup. Naudzu billahi min dzaalik. 
Bagaimana kalau kita membiarkan diri tiba di tempat yang keliru, lalu keadaan dan situasi ruh membawa diri kita makin jauh ke tempat yang sama atau semakin keliru? Naudzubillah tsumma naudzubillah. 
Maka penting untuk terus sadar dan waspada. 
Keep up Consciousness and awareness!

Oh brain! Sometimes we should stop over thinking. Just feel and let it flow, let it flow. 

#tafakur
#tadabur
#taqorub
#tawakal


0 komentar:

Posting Komentar