Ratib Hadad dan Al Atthas Menghadapi Corona

Gambar

Jangan sekedar stayhome saja karena covid-19, banyak-banyak berdoa sama Allah. Alahmdulillah tetangga-tetangga, mau ada covid-19 mau enggak, mereka mengaji di rumah gak pernah putus, baca al-quran, rutin baca ratib al athos, ratib al hadad. Semoga Allah melindungi kalian juga. Aamiin

Ratib hadad via hard copy atau soft copy. Hard copy biasanya di toko kitab-kitab ada, namun karena pandemi lebih baik download saja jika tidak punya. Isinya lebih lengkap yang mana? Lebih lengkap yang di buku terutama tawasulnya. Berhubung pandemi via aplikasi juga cukup




Ratib Hadad

GambarGambar

Ada banyak pihak termasuk para habaib yang memberi Saran sebaiknya kita mendawamkan atau melanggengkan bacaan ratib saat seperti sekarang ini. Boleh ratib Hadad atau alatos. Ratib tsb disusun saat wabah penyakit melanda.

Gambar
Gambar

Ratib Al Hadad. ( Al Imam Al Qutub Abdullah bin Alawi Al Hadad ) Sangat baik untk diamalkan untuk meminta hajat dan dimurahkan rezeki dan urusan in shaa allah, Allah perkenankan. Alhamdulillah. Another day to live with.

GambarGambarGambar


Jadi inget, orang pertama yang kasih aku (buku) bacaan ratib hadad itu almarhum suami. Dia bilang, kalo kita berdoa sambil disertai bacaan ratib hadad dengan penuh keyakinan tanpa ada keraguaan sedikitpun, Inshaa Allah terqabul
Kartu hati

Beruntung bagi mereka sering & istiqomah mengamalkan Ratib Al Athos/hadad

GambarGambarGambar


Jangan lupa selepas maghrib baca Yasin lanjut ratib al hadad dan al atthas

harap semua nye dipermudahkan. Banyakkan istirghfar. Buat solat hajat. Meminta yang baik-baik. Amalkan ratib al hadad kalau ada. Amalan zikir yg baik untuk memudahkan urusan


GambarGambar

Membaca Ratib Al Hadad dan Al Atthas insyaAllah kita juga dijauhkan dari sihir, jin, dsb

Ada satu doa yang sangat besar manfaatnya sekiranya diamalkan dalam kehidupan seharian kita. Antara kebaikan doa ini adalah terhindar daripada : 1. bahaya 2. kemudaratan makanan 3. sihir 4. gangguan makhluk halus








GambarGambar

Yuk kita galakkan untuk semakin rajin dzikrullah dan wirid membaca ratib hadad dan ratib al aththas ini. Semoga wabah corona segera berlalu dan semua kembali pulih seperti sediakala. Aamiin aamiin.

Oh ya, berikut ada tulisan dari Ahmad Faiz tentang Ratib Hadad ini.


7 STRATEGI REKAYASA SOSIAL VERSI HADDADIYAH.
Tadi sore saya semangat sekali mendengarkan kuliah umum dari seorang Habib, sekaligus Profesor dari New York University yg menjelaskan tentang sejarah masuknya para Habib dari Hadramaut ke Nusantara (Singapore, Malaysia & Indonesia).
Yg paling menarik bagi saya adalah strategi rekayasa sosial dari Imam Abdullah Al-Hadad penyusun Ratibul Hadad (sekumpulan doa yg sangat populer dibaca hingga sekarang oleh masyarakat islam di Nusantara, Yaman dan India) dan para pengikutnya.
Beliau mengkritisi para Ulama’ yg sibuk diskusi tentang masalah2 fiqh yg njelimet, juga para sufi yg habis waktunya untuk berkhalwat, sementara masyarakat awam semakin jauh dari agama. Akhirnya beliau, dan para pengikut setianya menyusun strategi “rekayasa sosial” yg disebut sang profesor sebagai “Paradigma Haddadiyah”.
Dari ceramah tadi saya simpulkan paling tidak ada 7 strategi “Gerakan Haddadiyah (kita singkat: GH), yg dikomandani 7 serangkai penerus Imam Al-Haddad (Dikenal dengan Al-‘Abadilah Al-Sab’ah). GH ini telah terbukti sukses besar dalam menebarkan Islam di berbagai belahan dunia dari Yaman hingga Hijaz, India dan Nusantara dengan cara damai.
1. Fokus pada khalayak ramai (mass-market oriented). Gerakan Haddadiyah mendisain paket ajaran agama yg sesederhana mungkin, karena memang ditujukan khususnya untuk orang awam.
2. Menghindari kajian2 teologis dan fiqh yg njelimet, maupun amalan2 tasawuf yg memberatkan (simplify the complexity). GH fokus pada 3 ajaran utama Islam dan mengemasnya dengan sangat ringkas dan sederhana dalam paket 3 serangkai:
(1) Akidah yg sederhana.
(2) Fikih yg ringkas.
(3) Wirid rutin/ratib yg ringan.
3. Menciptakan kader2 militan penyebar ajaran2 islam yg sederhana (training for trainers). GH tidak memprioritaskan mengkader banyak ulama’ berkualifikasi mentereng, tapi fokus mengkader “syeichul ta’lim” atau semacam “trainer berlisensi” yg akan menyebarkan ajaran sederhana Islam ke berbagai pelosok dunia. Jadi lebih fokus mengkader sebanyak mungkin Imam Mushola di kampung2, dibanding mengkader ulama’ besar.
4. Bekerjasama dengan para saudagar (Social Sinergy). GH bekerja sama dengan para saudagar dalam memperluas dakwahnya. Btw, tahun 1850-an Industri transportasi kapal antar pulau di Nusantara dimiliki para saudagar Hadramaut, sementara Belanda hanya memiliki 9% kapal. Para saudagar inilah yg awalnya mengundang para Ulama’ Hadramaut unt mengajar agama anak2 mereka.
Habib Abdullah bin Umar bin Yahya tinggal di Nusantara hanya 2 tahun (1832-1833), datang pertama di Singapura atas undangan saudagar yg memiliki 1/5 tanah di Singapura, Sayid Umar Aljunaid (jadi nama stasiun MRT di Singapura). Kemudian beliau mampir ke Betawi, Cirebon, Pekalongan, Surabaya dan Madura. Dari persinggahan singkat itu beliau memperluas jaringan pengaruhnya dengan saudagar2 lokal.
5. Berdiplomasi dengan para Raja, pejabat dan tokoh masyarakat (High Level Diplomacy). Salah satu kegiatan utama GH adalah berkirim surat ke raja2 Nusantara dan pejabat2 berpengaruh agar mereka berkenan mendukung penyebaran Islam di mayarakat yg dipimpinnya. Dan diplomacy apik ini menghasilkan islamisasi raja2 dan kerajaan2 Nusantara.
Setelah perang jawa usai, dengan kekalahan di pihak raja2 jawa dan para pendukungnya dari kalangan ulama’ (diantaranya Pangeran Diponegoro), Belanda memaksa agar kerajaan dipisahkan dari ajaran agama. Hal ini memaksa para Ulama’ hijrah dari pusat kota (kerajaan), menuju desa2. Dan dimulailah era tumbuhnya pesantren2 di seantero tanah Jawa. Kelak dari pesantren inilah lahir para Syeichul Ta’lim (ustad2 musholla/langgar/surau) yg menyebar di pelosok2 kampung di Nusantara, khususnya tanah Jawa. Begitu yg saya pahami dari penjelasan Habib Professor ini.
6. Bergerilya dan berdakwah hingga ke pasar2 dan tempat berkumpulnya rakyat kebanyakan, bukan hanya berdiam dan mengajar di masjid (Leading by Walking Around). Pendekatan dakwah GH merangkul semua, tidak elitis, serta proaktif mendatangi dan melayani ummat.
7. Nah kalau ini tidak saya dapat dari ceramah tadi, tapi dari hasil telpon guru spiritual saya, seorang Habib yg tidak terkenal, keturunan asli dari Sohibul Rotib Alhadad. Saya sampaikan ke beliau bahwa setelah ikut stadium generale tadi saya jadi semakin takdzim dan ingin meniru Habib Abdullah yg Rotibul Hadadnya sering beliau minta saya untuk membacanya. Dan beliau langsung menjawab.. ndak bisa.. ndak bisa le, awakmu niru.. beliau makannya cuman 9 gram beras sehari.. tidur hanya sebentar sekali, sanggup kamu hidup sesederhana itu?

Langsung saya terdiam, mungkin faktor ke-7 inilah justru yg paling penting. Kerelaan untuk hidup zuhud, untuk mengorbankan banyak kenikmatan dunia, serta mengeliminir nafsu dan ego pribadi demi keberhasilan dakwah beliau dalam memikat hati ummat.. hingga terus memberi manfaat berabad-abad.. menjadi lisaana shidqin fil aakhirin.. teladan dan kenangan indah bagi generasi2 setelahnya.