Rabu, 12 Oktober 2016

Review Novel Mengejar Mukti


Review Novel Mengejar Mukti



Alhamdulillah novel yang kutulis dengan penuh perjuangan ini akhirnya terbit. Dan senangnya lagi ada teman pembaca yang sudah baik hati mereview-nya.


Berikut ini cuplikannya.
Cekidot yaaa...

“Sejatinya jalan yang berliku, jalan apa saja, menghadirkan keindahan dibandingkan jalan yang lurus. Lebih kaya makna dan pengalaman.” (Hal. 96)


Penulis: Dian Nafi
Cetakan: Pertama, Juli 2016
Penyunting: Dila Maretihaqsari
Perancang sampul: Musthofa Nur Wardoyo
Ilustrasi sampul:  Desti Intan
Pemeriksa Aksara: Nurani
Penata aksara: Rio
Digitalisasi: Faza Hekmatyar
Penerbit: Bentang Pustaka
Jumlah hal.: v + 230 halama
ISBN: 978-602-1383-99-5
Ini adalah e-book terbitan Bentang Pustaka yang saya beli di Playstore
Mukti resah karena kakaknya, Ayu, tak kunjung menikah. Ada saja yang membuatnya gagal mendapatkan calon suami. Karena itu, Ayu melontarkan pertanyaan yang bombastis. Jangan-jangan mereka masih keturunan sunan? Konon, keturunan sunan memang dapat ujian hidup yang lebih berat dan berliku.
Awalnya Mukti tak menggubris hal itu sampai dia mengalami sendiri nasib sialnya. Larasati, gadis pujaannya ternyata lebih memilih putra seorang kiai. Mukti merasa terbanting. Ia jadi berpikir seandainya benar keturunan wali, tentu harga dirinya akan naik di mata Larasati dan yang lainnya.
Demi mengejar sebuah mukti atau kemuliaan, akhirnya seorang Mukti pun pergi mencari tahu lebih jauh silsilah keluarganya. Ia berharap status kehormatan itu memang milik keluarganya. Dari kota ke kota, dari makam ke makam, hari-harinya dipenuhi pengalaman yang tak terbayangkan sebelumnya.
***

"Kalau kamu kerja keras, tidak lihat dia ini keturunan siapa, ya pasti akan sukses tho, Mukti.” (Hal. 26)

Mukti baru saja lulus kuliah. Ibunya tiada henti menyuruhnya untuk segera mencari kerja. Terutama berusaha menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun Mukti masih ingin mengambil jeda sebentar. Sebelum secara aktif mencari pekerjaan. Ini membuatnya memiliki cukup banyak waktu luang.
Selaini itu, Mukti sedang tertarik dengan seseorang. Larasati, perempuan yang juga berhasil memikat hati banyak pemuda lain selain Mukti. Namun, Mukti merasa minder dengan salah satu saingannya dalam memperebutkan hati Larasati. Ini karena laki-laki masih keturunan Kiai, sedang dalam masyarakat tempat Mukti lahir dan dibesarkan status sebagai keturunan ulama atau kiai atau sunan adalah status yang dihormati, serupa dengan status ningrat.
Suatu hari, ia mendapati bahwa ada sebuah silsilah keluarganya yang berujung pada seorang sunan yang terkenal. Ia pun merasa bahwa harus membuktikannya. Sebab ia melihat bahwa banyak hal menjadi mudah jika seseorang masih keturunan ulama atau kiai hingga sunan. Maka ia berpikir untuk mencari tahu hal itu. Mengejar kemuliaan yang bisa saja memang miliknya dan keluarganya.
Dengan berbekal silsilah itu, Mukti pun melakukan perjalanan dari kota ke kota, dari makam ke makam, dari pesantren ke pesantren untuk membuktikan kebenaran silsilah itu. Yang dilakukannya mendapat dukungan dari kakaknya yang sedang galau karena jodoh. Kakak perempuan Mukti merasa bahwa kemalangan yang menimpanya hingga sulit mendapatkan jodoh disebabkan oleh ujian karena mereka masih keturunan sunan.
Kira-kira bagaimana hasilnya? Benarkah Mukti masih keturunan seorang sunan? Apakah ia akan meraih kemuliaan itu? Apakah memang mukti (kemuliaan) karena keturunan itu masih sesuai dengan zaman sekarang?

***

“Kadang kebelumtahuan menjadikan seseorang berani menempuh medan.” (Hal. 145)

Novel karya Dian Nafi ini bisa saja dikategorikan sebagai novel religi. Namun tidak sepenuhnya seperti itu. Karena bahasan terkait syariat malah terasa sangat kurang. Terkait ibadah pun tidak seberapa.
Melalui novel karya Dian Nafi ini kita malah diajak menelusuri banyak hal. Mulai dari  pesantren. Serta berbagai kebiasaan terkait mengunjungi makam para sunan dan kiayi. Peringatan haul orang-orang yang dihormati masyarakat serta keriuhannya.
Selain itu dalam novel ini, pembaca diajak untuk mengunjungi berbagai tempat yang non-mainstream di Jawa Timur. Bukannya diajak mengunjungi tempat-tempat yang terkenal di kota besar, pembaca diajak mengunjungi berbagai kabupaten yang memiliki tempat-tempat menarik dengan pemandangan yang menakjubkan seperti Lamongan, Tuban, Jogoloyo, hingga Banyuwangi.
 Salah satu yang menarik adalah tempat seindah Alas Purwo, yang termasuk sebagai salah satu taman nasional terbesar di Indonesia. Ini pertama kalinya saya membaca buku yang membahas tentang tempat tersebut.
Selain itu, saya juga baru pertama kali mengetahui tentang blue fire yang ada di Kawah Ijen yang muncul saat matahari terbit. Fenomena blue fire ini digambarkan dengan sangat memesona. Membuat pembaca tertarik untuk melihat langsung keindahan ciptaan Allah tersebut.
Ada juga kemeriahaan “Festival Banyuwangi” yang kini menjadi festival tahunan. Berbagai kebudayaan Banyuwangi ditampilkan. Salah satunya tarian Gandrung. Masih banyak budaya lain Banyuwangi yang ikut diceritakan di dalam novel ini.

Terakhir, yang membuat saya cukup menyukai novel ini adalah pesan yang berusaha ia sampaikan. Bahwa kemuliaan itu sebenarnya bukanlah tentang keturunan. Melainkan sikap kita sendiri. Walaupun keturunan seorang kiyai, jika tingkah lakunya jauh dari agama, tidak bisa menjadi teladan bak seorang kiyai, maka ia bukanlah orang yang layak dihormati. Tapi meskipun ia bukan seorang kiyai, namun memiliki ilmu yang luas, sikap yang baik, serta bermanfaat bagi banyak orang, maka orang-orang akan segan dan menghormati.
 
sumber: https://atriadanbuku.blogspot.co.id/2016/09/mengejar-mukti.html 

Terima kasih banyak Atria. 

Teman-teman juga bisa mendapatkan novel Mengejar Mukti terbitan Bentang Belia ini dengan mengunduhnya via Google Play. 


Selamat membaca ya. 
Kutunggu reviewnya :)

3 komentar:

  1. boleh jg nih novelnya buat referensi bacaam malam minggu

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, selamat berburu novel Mengejar Mukti dan selamat membaca ya. tengkyu :)

      Hapus
  2. boleh jg nih novelnya buat referensi bacaam malam minggu

    BalasHapus