Kehamilan Anak Kedua



Kehamilan anakku yang kedua sungguh sebuah cerita yang campur aduk sebenarnya. Aku mencoba untuk tidak curhat colongan ya di sini. yang bagian pahit-pahit dan asem-asemnya biarlah aku simpan sendiri saja. eaaaa. Nah yang mau aku bagikan cerita-cerita yang bagian seru-serunya aja deh. 


Jadi sebenarnya setelah kelahiran anakku yang pertama dan aku selesai nifas, aku dan suami terus pacaran aja seseru-serunya. Sehingga akhirnya tahu-tahu aku hamil lagi. Lah, padahal si anak sulung aja masih berusia enam bulan waktu itu. Padahal aku juga menyusui eksklusif lho. Mungkin dasarnya subur karena orang-orang dalam keluarga besarku juga punya riwayat memiliki banyak anak dan keturunan. 

Sayangnya ternyata kehamilanku kali itu blancted ovum alias kosong. Pagi itu tahu-tahu aku mengalami pendarahan ringan. Salah satu bulikku, adik mertuaku, yang lagi berkunjung menemukan kenyataan ini, langsung meminta suamiku tercinta untuk mengantarku ke klinik. Kami pun berangkat. Dan setelah menjalani antrian yang cukup panjang, akhirnya aku ditangani. Nggak sampai dikuret karena masih kecil. jadi aku hanya diberikan obat, yang nantinya akan membersihkan sendiri bekas-bekas kehamilan yang tidak sukses itu dari dalam tubuhku sendiri. 


Alhamdulillah kejadian blancted ovum itu berhasil kami lalui dengan baik. Pinginnya sih aku hamil lagi dan kami punya anak lagi setelah anak pertamaku berusia dua tahun gitu. Tapi kenyataan berkata lain. Ketika anak sulungku  berusia sembilan bulan, eh aku hamil lagi. Alhamdulillah. Kami menerima kabar kehamilan ini dengan senang. Apalagi usia suamiku saat menikah denganku memang sudah tiga puluh tiga tahun. Dan kami punya cita-cita memiliki anak yang banyak. Walaupun akhirnya kami cuma punya dua anak. Karena saat anak perempuanku berusia satu setengah tahun, suamiku mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Kalau dipikir-pikr lagi, Tuhan sebegitu bijaksananya sehingga kehamilan antara dua anak ini dekat jaraknya. Sehingga sepeninggal suamiku, dia meninggalkan dua anak, laki-laki dan perempuan, komplit sudah. Ada saudara dan tetangga yang pernah berseloroh, ealah jebule nikah itu buat nitip keturunan ya, setelah itu ditinggal pergi kembali padaNya. Hehehe iya juga ya. Tapi alaa kulli haal alhamdulillah. Innaa lillahi wa innaa ilaihi roojiuun. Toh semua juga akan kembali padaNya, tinggal menunggu waktunya saja, gilirannya. 


Sebagai ibu hamil, aku manut alias patuh pada petunjuk-petunjuk dan saran-saran dari mertuaku. Jadi beliau rajin sekali memberikan jamu dan ramuan-ramuan buatku. Tujuannya agar kehamilan kali ini kuat. Ibunya sehat segar, calon jabang bayinya juga sehat dan waras sampai dilahirkan nanti. Sedangkan adikku yang dokter memberikan saran vitamin-vitamin dan nutrisi yang kubutuhkan selama kehamilan ini. 


Selain asupan makanan bergizi, juga doa-doa yang dikumpulkan suamiku dari guru-gurunya juga kyai-kyai kolega kakak mertuaku yang kyai (pengganti abah mertua), kami juga melakukan ikhtiar-ikhtiar dhohiri lainnya. Antara lain tiap pagi suamiku mengantar ibu hamil yang manja dan kadang muntah-muntah pagi hari ini untuk jalan sehat. Kami berjalan sekitar satu kilometer, kelilingan kompleks aja sih tapi rutin. Kalau ada apa-apa, kami periksa ke bidan tetangga. 


Alhamdulillah saat ini ada Halodoc, sehingga layanan kesehatan  jadi lebih mudah, aman dan nyaman, dapat ditangani lebih cepat. Karena Halodoc selalu siap memberikan kemudahan layanan kesehatan untuk kita dan keluarga, di mana saja kapan saja. Sehat Jadi Lebih Mudah, karena ada dokter, apotek, rumah sakit, dan asuransi terintegrasi  dan  memenuhi kebutuhan medis setiap saat, yang disediakan oleh Halodoc.