Doa 27 rajab isro mi'roj

Share dari pak kyai dian nafi windan almuayyad disadur dari kitab yang digubah oleh Syeikh Muhammad Amin bin Fathullah Zadah al-Kurdi al-Irbili. Syekh Muhammad Amin al-Kurdi kecil tumbuh di bawah asuhan ayahnya sendiri yang bernama Syaikh al-‘ârif billah Fathullah. Syaikh Fathullah adalah seorang ulama tasawwuf yang berpegang pada Thariqah Qodiriyyah.

Bahkan beliau adalah seorang mursyid dari Thariqah yang dinisbat-kan kepada Syaikh Abd al-Qadir al-Jailani itu. Dari ayahnya itulah Muhammad Amin belajar Alquran dan ilmu-ilmu lainnya.

Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi gigih dan haus akan ilmu. Setelah selesai dalam bimbingan sang ayah, beliau kemudian berguru 9999999999999999dibawah asuhan  Syaikh Al Quthtub Maulana Umar, seorang wali agung  yang tinggal dikota Irbil,Irak salah satu Mursyid Thoriqoh Naqshabandiyyah Kholidiyyah.

Dalam bimbingan Syaikh Umar An-Naqshabandy, Beliau senantiasa menerapkan disiplin diri, menjaga adab, senantiasa bermujahadah shg mendapat anugerah luar biasa dari Allah, selalu patuh terhadap perintah sang guru sampai pada saatnya beliau dianugerahi kedudukan sebagai Mursyid.

Beliau yang tinggi akan himmah dalam mencari ilmu kemudian memohon izin kepada sang guru untuk Rihlah dan Ziarah ke Makam Para Auliya’ dan Shalihin.

Mula-mula Syekh Amin bermukim di Makkah al-Mukarramah selama setahun. Di sanalah Imam kita ini banyak mendapat futuhât, waridât ilahiyyah dan banyak hal-hal kejadian aneh atas diri beliau

Lalu ia pindah ke Madinah al-Munawwarah. Selama bbrp tahun di Madinah, ia lbh byk tinggal di Jabal Uhud dan Baqî`. Syekh Amin juga sempat belajar di Madrasah al-Mahmûdiyyah, yang syarat masuknya harus mengusai bahasa Turki. Setelah lulus sufi besar ini mengajar di Masjid Nabawi


Rasa dahaga akan ilmu menuntun Beliau ke Negeri Para Ulama di Mesir. Sesampai di Mesir Syekh Muhammad Amin al-Kurdi memperdalam ilmu-ilmu agama di al-Azhar al-Syarif, masuk dalam Ruwâq Akrad.

Syekh Amin memperdalam ilmu hadits darikepada Syaikh Al Azhar Salim Al Bisri, dan memperdalam ilmu fikih dar Syaikh Muhammad al-Asmu’i al-Manufii dan Syaikh Musthafa Izzu As Syafii. Selama belajar, sufi agung ini tidak melupakan adab sebagai seorang murid dan menjaga hak2 guru.

Di samping memperdalam ilmu-ilmu lahir ia tidak melupakan ilmu batin dengan terus ber-mujahadah untuk membersihkan diri dari sifat tercela dan menghias diri dengan sifat keutamaan hati, sesuai petunjuk Thariqah al-Naqsabandiyyah

Sehingga terkumpul dalam diri perintis Thariqah Naqsabandiyah di Mesir ini dua ilmu, Syari’at dan Hakikat. Dan itulah seorang sufi sejati,  menggabungkan antara Syari’at dan Hakikat.

Karya Syaikh Muhammad Amin Al-kurdi Kitab Tanwir al-Qulub fi Mu’amalati ‘Allam al-Ghuyub. Kitab Mursyid al-‘Awam li Ahkam ash-Shiyam fi Madzahib al-Arba’ah. Kitab Hidayah ath-Thalibin fi Ahkam ad-Din. *ila hadhrati Sayyidi Muhammad Amin Al-Kurdií, Alfatihah

Ya Allah anugrahkanlah padaku kesaksian para pecinta, kholwatnya orang2 yg Kau istimewakan. Duhai Tuannya Rasul yg berjalan di malam 27 rajab. Rahmatilah hatiku, kabulkan doaku duhai yg Maha Mulia.
Gambar