Bukan Sekadar Alat Kerja: Memilih Teknologi yang Cocok dengan Cara Kita Menjalani Hidup

Ketika Laptop Bukan Sekadar Alat Kerja: Memilih Teknologi yang Cocok dengan Cara Kita Menjalani Hidup


Ada satu hal yang semakin saya sadari belakangan ini: kita sering memilih teknologi berdasarkan spesifikasi, tetapi sebenarnya kita menggunakannya berdasarkan kebutuhan hidup. RAM, prosesor, layar, baterai, AI, berat laptop—semuanya penting. Tetapi setelah laptop itu berada di meja kerja kita, pertanyaannya menjadi lebih sederhana:

Apakah perangkat ini membuat hidup saya lebih mudah?

Pertanyaan itu terasa relevan ketika saya mengikuti ASUS No.1 Quality & Service 2026 di Semarang, 17 September 2026. Acara ini memperkenalkan berbagai laptop ASUS sekaligus memperlihatkan bagaimana teknologi tidak hanya berbicara tentang performa, tetapi juga tentang ketahanan, layanan, personal style, dan semakin kuatnya ekosistem AI.

Dan saya kemudian berpikir: mungkin laptop yang baik bukan hanya laptop yang powerful. Ia adalah laptop yang mampu mengikuti ritme manusia yang menggunakannya.



Kita hidup dengan ritme yang berbeda

Sebagai dosen, arsitek, peneliti, penulis, trainer, dan coach, saya cukup sering berpindah dari satu mode ke mode lain. Pagi bisa menjadi waktu untuk membaca dan menulis. Siang untuk mengajar atau berdiskusi. Sore mungkin mengerjakan gambar, presentasi, penelitian, atau administrasi. Malam bisa kembali menjadi waktu untuk menulis.

Karena itu saya tidak terlalu percaya pada gagasan bahwa semua orang membutuhkan perangkat dengan konfigurasi yang sama.

Kita memiliki pekerjaan yang berbeda. Kita memiliki ritme yang berbeda. Bahkan cara otak kita bekerja pun berbeda.

Maka saya tertarik dengan gagasan ASUS tentang “Pick Your Vibe.”

Bukan sekadar memilih warna laptop. Bagi saya, ini bisa dibaca lebih luas: teknologi memberi ruang bagi kita untuk memilih perangkat yang terasa cocok dengan diri dan aktivitas kita.

ASUS Vivobook, misalnya, hadir dalam beberapa pilihan warna, sementara keyboard dan mouse ASUS Marshmallow juga menawarkan pilihan warna pastel yang bisa dipadukan dengan laptop. Kecil memang. Tetapi personalisasi seperti ini mengingatkan saya bahwa benda yang kita gunakan setiap hari juga menjadi bagian dari ruang hidup kita.



Ketangguhan itu bukan hanya soal jatuh atau terbentur

Ada bagian lain dari acara yang menarik perhatian saya: durability test. ASUS memperlihatkan pengujian laptop berdasarkan standar MIL-STD 810H, termasuk pengujian terhadap guncangan, suhu ekstrem, kelembapan, dan tekanan udara rendah.

Sebagai orang yang banyak bekerja dengan ruang dan aktivitas manusia, saya selalu tertarik pada konsep resilience—ketangguhan. Sebuah benda tidak hanya dinilai dari bagaimana ia bekerja ketika kondisi ideal. Justru kualitasnya terlihat ketika kondisi tidak ideal. Begitu pula manusia. Begitu pula ruang. Begitu pula teknologi.

Laptop yang kita bawa ke kampus, kantor, perjalanan penelitian, meeting, café, atau bahkan ke lapangan akan menghadapi situasi yang tidak selalu steril dan sempurna.

Karena itu ketangguhan menjadi bagian penting dari pengalaman menggunakan perangkat.

ASUS juga memperluas perlindungan purnajualnya. Untuk sejumlah lini seperti ProArt, Zenbook, Vivobook S series, dan Vivobook Flip, tersedia hingga tiga tahun garansi internasional dan tiga tahun ASUS VIP Perfect Warranty (ADP). Jaringan layanan ASUS disebut mencakup 141 titik layanan resmi di Indonesia.

Bagi saya, ini menarik karena resilience bukan hanya persoalan perangkat keras. Ia juga tentang apa yang terjadi setelah kita membeli sesuatu.


AI: dari sekadar fitur menjadi teman kerja

Kemudian ada pembicaraan yang hampir tidak mungkin dilewatkan hari ini: AI.

ASUS memperkenalkan jajaran laptop dengan NPU hingga 80 TOPS pada varian tertinggi. NPU memungkinkan sebagian pemrosesan AI dilakukan lebih efisien, sementara beberapa perangkat juga menyediakan fitur AI yang dapat bekerja secara lokal.

Ada ASUS Virtual Assistant Omni yang dapat beroperasi secara offline.

Ada pula ASUS Zenni Claw, yang diperkenalkan sebagai platform AI Agent yang dapat memahami tujuan pengguna, menyusun langkah kerja, dan membantu menyelesaikan tugas multi-tahap melalui ASUS Skills.

Di titik ini saya justru ingin berhenti sejenak. Karena menurut saya, pertanyaan terpenting tentang AI bukan:

“Seberapa pintar AI?” Tetapi: “Untuk apa kita menggunakan kepintaran itu?”

Teknologi yang semakin canggih seharusnya tidak membuat manusia semakin sibuk. Idealnya, ia memberi kita kembali sesuatu yang semakin mahal dalam kehidupan modern: waktu. Waktu untuk berpikir. Waktu untuk membaca. Waktu untuk berbicara dengan orang lain. Waktu untuk mengamati lingkungan. Waktu untuk mencipta. Dan mungkin, waktu untuk tidak melakukan apa-apa.

Laptop sebagai bagian dari ekosistem hidup

Saya juga melihat laptop bukan sebagai benda yang berdiri sendiri. Ia berada dalam sebuah ekosistem. Laptop bertemu dengan mouse.Bertemu keyboard. Bertemu cloud. Bertemu aplikasi. Bertemu AI. Bertemu manusia. Dan akhirnya bertemu dengan ruang. Di meja kerja saya, laptop bukan hanya perangkat komputasi. Ia menjadi bagian dari ruang berpikir.

Karena itu saya cukup menyukai pendekatan yang tidak berhenti pada “laptop tercepat”, tetapi juga membicarakan bagaimana perangkat itu hadir dalam kehidupan sehari-hari. ASUS SmartO Mouse, misalnya, dirancang dengan sandaran ibu jari dan sensor presisi tinggi untuk aktivitas kerja, kuliah, maupun proyek kreatif. Hal-hal seperti ini mungkin terlihat sederhana. Tetapi kehidupan memang tersusun dari hal-hal sederhana yang kita lakukan berulang kali.

Pada akhirnya, teknologi tetap tentang manusia

Acara ASUS di Semarang membuat saya kembali pada satu prinsip yang sering saya gunakan ketika berbicara tentang desain: sebuah teknologi yang baik seharusnya tidak memaksa manusia menyesuaikan diri sepenuhnya kepadanya.

Teknologi justru perlu cukup fleksibel untuk mengikuti manusia. Karena manusia bukan mesin. Kita memiliki mood. Kita memiliki ritme. Kita memiliki tubuh.Kita memiliki kebiasaan.Kita memiliki kebutuhan yang berubah-ubah.Dan kita memiliki cara masing-masing untuk bekerja dan mencipta.Mungkin itu sebabnya saya melihat “Pick Your Vibe” bukan hanya sebagai pilihan warna.Saya membacanya sebagai sebuah ajakan sederhana:

pilih teknologi yang sesuai dengan cara kamu menjalani hidup.

Sementara “No.1 Quality & Service” mengingatkan bahwa pengalaman menggunakan teknologi tidak berhenti ketika transaksi selesai. Ada kualitas, ketangguhan, garansi, dan layanan yang ikut menentukan rasa percaya kita terhadap sebuah perangkat.

Dan AI membawa kita ke pertanyaan berikutnya: Jika teknologi semakin mampu mengerjakan banyak hal untuk kita, lalu apa yang akan kita lakukan dengan waktu yang berhasil kita hemat?

Mungkin jawabannya bukan bekerja lebih banyak.

Mungkin justru: berpikir lebih dalam, mencipta lebih bebas, dan hidup sedikit lebih manusiawi.

Post Navi

Posting Komentar

0 Komentar