Bertumbuh di Ruang Publik: Healing sebagai Praktik Aktivisme, Riset, dan Kehidupan Urban Perempuan

Bertumbuh di Ruang Publik: Healing sebagai Praktik Aktivisme, Riset, dan Kehidupan Urban Perempuan




Di ruang-ruang akademik, forum riset, dan arena aktivisme, kita terbiasa berbicara tentang perubahan.
Tentang kota yang lebih adil, ruang yang inklusif, kebijakan yang berpihak, dan masa depan yang berkelanjutan.

Namun jarang kita bertanya:
siapa yang merawat mereka yang terus memperjuangkan perubahan itu?

Bagi banyak perempuan—peneliti, aktivis, arsitek, akademisi—bertumbuh sering berarti terus memberi, terus hadir, dan terus kuat, bahkan ketika tubuh dan batin mulai kelelahan.

Kota, Ruang, dan Tubuh yang Terlupakan

Arsitektur dan perencanaan kota mengajarkan kita tentang ruang aman, aksesibilitas, dan keberlanjutan.
Namun sering kali, tubuh dan emosi perempuan justru tidak mendapatkan ruang yang sama.

Deadline riset.
Tekanan publikasi.
Tuntutan advokasi.
Ekspektasi untuk selalu rasional, objektif, dan tangguh.

Di balik semua itu, ada kelelahan emosional yang jarang masuk laporan penelitian atau desain kota.

Healing, dalam konteks ini, bukan kemewahan pribadi.
Ia adalah kebutuhan struktural.

Healing sebagai Tindakan Politik yang Sunyi

Bagi perempuan di dunia aktivisme dan akademia, merawat diri sering disalahpahami sebagai menarik diri.
Padahal, justru sebaliknya.

Healing adalah cara untuk:

  • bertahan di sistem yang tidak selalu ramah,

  • menjaga keberlanjutan kerja advokasi,

  • dan memastikan bahwa perjuangan tidak mengorbankan kemanusiaan diri sendiri.

Dalam perspektif urban dan arsitektur, healing bisa dipahami sebagai upaya menciptakan “ruang aman”—bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional dan sosial.

Riset, Refleksi, dan Kejujuran Personal

Akademia menghargai jarak emosional.
Riset menuntut objektivitas.

Namun perempuan yang hidup di kota, meneliti ketimpangan, dan terlibat dalam kerja komunitas sering kali tidak punya kemewahan untuk sepenuhnya berjarak.

Pengalaman personal ikut membentuk pertanyaan riset.
Luka sosial memengaruhi cara kita membaca data.

Di sinilah refleksi personal menjadi penting—bukan untuk melemahkan riset, tetapi untuk membuatnya lebih jujur dan beretika.

Tentang Growing While Healing

Growing While Healing tidak lahir dari ruang seminar atau jurnal ilmiah.
Ia lahir dari pengalaman hidup di antara kerja intelektual, ruang publik, dan kehidupan personal.

Buku ini tidak menawarkan teori besar.
Ia menawarkan bahasa untuk hal-hal yang sering tidak terucap:
kelelahan menjadi kuat, bertumbuh di tengah luka, dan kebutuhan untuk menjadi rumah aman bagi diri sendiri.

Di dalamnya, pembaca akan menemukan refleksi tentang:

  • bertumbuh tanpa tuntutan kesempurnaan,

  • menghargai proses pribadi tanpa membandingkan diri,

  • menetapkan batas dalam kerja dan relasi,

  • dan bertahan sebagai bentuk keberanian.

Menuju Kota dan Akademia yang Lebih Manusiawi

Jika kita menginginkan kota yang adil, riset yang etis, dan aktivisme yang berkelanjutan,
kita juga perlu individu yang tidak terkikis oleh sistemnya sendiri.

Healing bukan agenda pinggiran.
Ia adalah fondasi.

Bagi perempuan yang bekerja di persimpangan aktivisme, riset, arsitektur, dan isu urban,
Growing While Healing hadir sebagai ruang refleksi—di luar rapat, di luar publikasi, di luar tuntutan performa.

Karena perubahan sosial yang bertahan lama
dimulai dari individu yang diizinkan untuk tetap manusia.

**

Baca juga buku growing while healing. Berikut link-nya: 

http://lynk.id/diannafi/mvl17zx4kwgv


http://lynk.id/diannafi/mvl17zx4kwgv/checkout

Post Navi

Posting Komentar

0 Komentar