What is DNA of Dian Nafi



Saat kemarin diminta memperkenalkan diri di antara 20 peserta yang lolos seleksi cohort 4 Future Female Business School UK Tech Hub, sejujurnya aku mengalami kesulitan. Karena poin-poin perkenalannya sudah ditentukan, dan teman-teman lain mengisinya dengan sangat spesifik. 

What is your personality? 
Teman-teman lain mengisinya dengan INTJ dan semacamnya. Mau tak mau agar selaras dengan yang lain, aku pun melakukan test online untuk mengetahui personality as that standard and metric. 
Waktu membaca pertanyaan-pertanyaannya, agak bingung juga jawabnya. Karena pada situasi yang disebutkan, kadang sikap dan tindakanku bisa berbeda. 
Pas lihat hasilnya, agak gak percaya ah mosok aku masuk kriteria itu. Dulu kayaknya aku pernah melakukan test serupa, hasilnya bukan yang itu. Apakah kita bisa berubah personality setelah berbeda tahun? 

Mungkin juga sih.

What is your working type
Nah, ini juga diriku ikutan menyerahkan diri pada test online yang hmmm..jawabannya juga sebenarnya tidak cukup mewakili diriku. Wkwkwkwk... rebel banget deh. 


Dan seterusnya. 
Demi untuk tidak menyederhanakan (simplifikasi) diriku yang cukup rumit ini, akhirnya selain aku menuliskan type-type sesuai test online yang ada, aku juga membagikan link postingan mengenai wide range preference-ku. Yang ini nih https://www.hybridwriterpreneur.com/2019/05/gemini-destiny-and-wide-range-of.html
Semoga cukup membantu untuk memahami beragamnya bentuk dalam diriku.


So what is your DNA? 
Kalau DNA-ku sebenarnya malah sama dengan nama panjangku. Dian Nafiatul Awaliyah. 
Dan tahukah teman-teman? Ternyata sekarang sudah ada banyak banget generasi muda di bawah usiaku yang bahkan memakai nama panjangku itu. Aku tidak sengaja menemukannya ketika mencari namaku sendiri di web DIKTI.
Wow! Ada enam orang anak muda usia belasan tahun memakai namaku persis. Aku jadi penasaran siapa bapak ibunya yang kasih mereka nama itu. Karena nama panjang  itu bukan nama pasaran tadinya, bapakku khusus membuatkan nama itu untukku. Masya Allah. 


Balik lagi ke pembahasan tentang DNA, aku jadi ingat ada istilah USP (unique selling point). Juga ada istilah MVP (Minimum Viable Product). Istilah-istilah ini ada di startup dan business model. Untuk menggambarkan manusia yang kompleks, ya kadang kita tak bisa menyerahkannya pada mesin, even learning machine.


Jadi ingat, 14 september 2020 lalu aku batal ke jakarta karena test rapid-ku reaktif. (Padahal false indication ternyata) sehingga melayanglah fee 12 jt mengajar sehari di kementerian waktu itu (Padahal sudah teken kontrak. Masih untung gak kena penalti karena panitia sigap mencari pengganti nara sumber lain) Alhamdulillah beberapa hari kemudian Allah menggantikannya dengan memberi rezeki beasiswa s2 senilai 50 jt. Dus sepanjang 2020-2021 aku berkutat di dunia antah berantah lain bernama public policy.
Dan karena lolos seleksi FFBS pada akhir tahun ini, insya Allah 2022 back to business karena selama empat bulan aku akan mengikuti short course business school. It means also activate, generate, elevate the real business. Mohon doanya yaaaa.

So, begitulah ceritanya yang terjadi pada tahun-tahun belakangan ini. Semakin bunglon atau semakin mengerucut menajam pada satu sisi, aku juga masih terus mencari tahu.