When I Drop In Corona Season



Awal Maret Ibu pulang umroh dua puluh hari dari Mekkah Madinah. Beliau karantina dalam rumah empat belas hari seperti anjuran dinas kesehatan yang tertera dalam kartu kuning saat pemeriksaan paspor di bandara. Nah, diriku lah yang menemani beliau setiap harinya.

Tengah Maret aku merasa tidak enak badan, demam dan batuk. Sebenarnya aku mencoba mengingkarinya, tapi waktu adik bungsuku mengirimkan artikel tentang rombongan umroh dari kota lain yang ternyata positif corona, barulah aku merasa gentar.

Alhamdulillh teman-teman di grup whatsapp memberikan berbagai resep. Dan satu persatu aku cobain semua, sembari terus berdoa dan minta doa orang banyak.

Beberapa saran tersebut adalah:
Habbatus sauda dan madu diminum sebelum tidur
Perasan jeruk nipis dan madu di pagi hari
paracetamol, bisa dari paramex yang cenderung aman
atau Tolak Angin
Minum godhogan jahe dan serai, atau wedang uwuh
Minum jus jambu kluthuk atau jambu merah
Makan nanas madu
Berjemur di pagi hari antara jam sembilan sampai sebelas, sekitar sepuluh hingga lima belas menit.
Banyak istirahat, tidur


semua resep ini untuk menambah daya tahan tubuh, imunitas dan kekebalan tubuh, gitu katanya. Sehingga virus apapun itu akan berhadapan dengan antibody dari dalam tubuh kita sendiri.

Alhamdulillah setelah sempat beberapa hari drop, bahkan di hari kelima aku merasa ndrodhog alias menggigil kedinginan padahal tubuhku luar sebenarnya panas, berangsur-angsur aku pulih lagi. rasa pegal yang kurasakan seluruh tubuh, akhirnya mereda. Rasa sakit dan tertekan di tenggorokan pun bisa hilang. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah.

Terima kasih teman-teman yang sudah memberikan support, dukungan dan juga doa. jazakumullah khoiron katsiron.

Saat anakku laki-laki juga demam sepulang sholat Jumat minggu lalu, aku gunakan resep dan treatment yang sama. Semoga dia juga segera sembuh dan pulih kembali.


Stay safe ya teman-teman. Stay healthy.
Stay at home.

Semoga corona segera berlalu.