Jumat, 29 September 2017

Provider anak muda, hybridwriterpreneur dan digital habit

Provider Anak Muda, Hybridwriterpreneur dan Digital Habit  


#RANDOMTHOUGHTS

Ada dua hal mengganggu pikiranku di Rabu kemarin ini usai sesi di-interview Indosat.
Satu, sebegitu puritan dan kolotkah aku sehingga tak serta merta menerima tawaran program 'bayar setelah pakai' atau post paid.

Dua, sebegitu ambigu-kah aku saat terjebak pada pertanyaan pilihan antara buku fisik dan digital. Kenapa spontanitas jiwa romantisku mengambil alih di saat sebenarnya aku sedang berada di ruang yang tepat untuk mengejawantahkan apa yang belakangan ini sesungguhnya sebegitu dalam tengah kupikirkan dan kurancang?

Padahal selama ini I declare my self as a hybridwriterpreneur.
Aku me-reposisi-kan diri sebagai hybrid karena merasa bahwa aku ingin berada di mana-mana, menjadi apa saja, dengan cara mengalir sekaligus terbang. Atau kalau dalam konsep Hasfa -yang diambil dari bahasa Arab- artinya bergerak.
Meski aku lahir duluan, sesungguhnya jiwaku juga bersama dan terus mengikuti mereka yang lahir belakangan. Aku bisa arkais, tetapi sekaligus bisa baru. Aku seorang penulis dan blogger, tetapi sekaligus arsitek dan public speaker. Aku ingin dalam, tetapi sekaligus ingin hadir.

Why?



#RE-SCHEDULE

Ceritanya aku dapat undangan untuk hadir  di Graha Indosat dalam rangka interview  program Hari Pelanggan Nasional. Tetapi karena waktunya bersamaan dengan agenda rapat kerja Dewan Kesenian Daerah, maka jadual ke Indosat pindah ke hari Rabu.


Meskipun aku tadinya sempat merencanakan untuk menjadi 'tahanan kota' selama 2,5 bulan karena jembatan Wonokerto sedang diperbaiki dan berimbas macetnya jalan raya, tapi akhirnya undangan Indosat ini jadi pemecah telurnya. Praktis aku bertahan cuma 10 hari memaksa diri untuk beraktifitas di sekitaran Demak Dan Kudus aja. Hahaha. Sudah kebayang setelah ini, tak ada lagi yang menghalangi langkahku ke mana saja, meski ada proyek jembatan yang entah kapan rampungnya.

Beruntung sekali diriku. Karena ternyata perjalanan tidak separah yang kubayangkan. Tiga jam perjalanan yang kurencanakan, akhirnya cuma butuh waktu satu jam. Sisa dua jam keberuntungan kumanfaatkan untuk jalan-jalan di Gramedia Sale, persis depan Graha Indosat.

Sudah bisa ditebak. Meskipun tak ada rencana sebelumnya, dan tak ada pos yang kuanggarkan untuk ini, tetap saja tangan gatal untuk memilih dan membawa pulang beberapa buku. Untung  murah!

Gila ya! Pemikiran-pemikiran mahal dijual murah-murah. Seneng atau seneng?
Ya senenglah, jadi bisa banyak baca pemikiran hebat tanpa harus mengeluarkan banyak biaya. Hehe







 #TOTALITAS

Aku dijemput di lobby alias Galeri Indosat dan diantar ke atas. Segerombolan pasukan berkaos kuning menyambut hangat dan keriuhan langsung tercipta. 

And the rest is history!


What a lovely day!
Thanks a lot Indosat for the invitation!

Such a warm welcoming, full exciting interview, and positive energy exchange!

Hopefully our deep conversation and all those insights can be useful for the improvement!



Selepas interview yang heboh dan menyenangkan itu, lalu aku diajak jalan-jalan ke ruangan luas berisi seratus-an orang yang sedang sibuk bekerja. Guess what? Dari sinilah rupanya semua keluhan dari seluruh Indonesia ditangani. Baik yang datang via sms ataupun sosmed macam twitter, facebook, whatsapp dan lainnya. 

Whoaaaaa...pelayanan untuk seluruh Indonesia, dilakukan dari Semarang ini? Can you imagine it? 
Menurut mas Sultan,  Digital Care Manager-nya Indosat Ooredoo, itu karena anak-anak Semarang kreatif dan ramah. Paduan core value yang dibutuhkan dalam melayani pelanggan. That's great!






 #DIGITALHABIT


Sewaktu dalam perjalanan pulang itu beberapa proyek yang tengah kukerjakan terkait dengan digital habit tiba-tiba jadi melintas di ingatan. Karena tadi sempat terlewat belum kusampaikan, maka  buru-buru kukirim  ke teman-teman Indosat sebagai tambahan insight, siapa tahu akan berguna.  Sebegitunya ya sebuah brainstorming menyalakan lampu ide-ide di kepala kita.

Terus......besok harinya masih kepikiran terus lhoooo...

Kalian tuh kemarin hrsnya ngejar aku, kok nggak mau coba yang 'program bayar sesudah pakai itu' knapa kak? Supaya  aku kemudian menjelaskan alasanku, sehingga kalian bisa meng-counternya, atau menemukan cara maupun pendekatan or approach baru untuk orang-orang yang ngeyel-an macam aku 😁

Trus pertanyaan jebakan ttg buku fisik dan digital itu bikin jiwa romantisku jadi ambigu.
Nyadar nggak sih?
Ahahaha 


By the way  obrolan kemarin tuh kalau mau dibikin panjang bisa seharian penuh lah nambahnya.
Kupikir-pikir aku juga tertarik ama konsep buku yg bisa didengarkan. You should show us how it works and how we can transform or create books like that. Coz kadang emak2 tuh ye kan multi tasking, sambil ngerjain sesuatu yg priority tapi sebenarnya juga pengen sambil 'baca' buku, tapi kebetulan tinggal punya kuping yang bisa diberdayakan saat itu 😃
Keep searching and uplifting for better works ya!
💪

Oh ya, thanks for the gift ya. Sampai rumah langsung bermanfaat banget. For boosting my mood and creative energy.



Undangan dari Indosat kemarin itu jadi semacam re-engagement. Kayak menggaet kembali pasangan yang sudah bersama selama bertahun-tahun tetapi adem ayem saja. Seolah Indosat mau bilang, we're deserved to be loved.

And yups because I feel beloved, so why I shouldn't love back?
Apalagi kenyataannya memang kita tak mungkin bisa lari dari sesuatu yang telah melekat pada kita bertahun-tahun.

Selamat Hari Pelanggan Nasional!

**


PS:


Baru nyadar kalau kemarin pas diinterview dan di-shoot itu ternyata aku gak pakai bedak, lipstik, apalagi nglentikin bulu mata pakai maskara. Ketahuan pas tadi lihat foto yang di-tag ama salah seorang interviewer nya.
Menyesal? Sedikit.
Cuma jadi catatan buat pengingat diri sendiri aja, next time selalu sempatkan waktu untuk ke toilet bentar dan nengok wajah. Selalu bawa tools standar buat beri sedikit sentuhan di muka. (Kemarin itu karena ganti tas, jadi bedak lipstik gak kebawa)
Selebihnya?
Hmm... No problemo.
Semakin ke sini, semakin melihat bahwa kadang senyuman tulus dan pancaran energi dari dalam aja sudah cukup lumayan membuat kita tetap tampil charming meski tanpa riasan. And of course, sepaket dengan cinta yang mengada, a little bit fresh insight dan enough consciousness confidence.

0 komentar:

Posting Komentar