Selasa, 06 Desember 2016

Dawuh habib luthfi

Dawuh habib luthfi

Dawuh Habib Luthfi bi Yahya pada Istighosah Kebangsaan di Demak, 5 Desember 2016

Ya Allah , pandangilah kami dengan rahmatMu.
Mengapa sih kita selalu menyebut tanah air kita sebagai Ibu Pertiwi, sebagai Ibu? Apakah ada dalilnya?
Sebutan tersebut, bisa dibenarkan dari kisah penciptaan Nabi Adam. Nabi Adam tidak dilahirkan dengan memiliki ayah dan ibu, melainkan terbuat dari tanah liat. Tanah liat inilah yang seakan menjadi sosok ibu. Untuk itu tidak salah kita menyebut tanah air sebagai Ibu.
Dahulu, budaya pewayangan sangat termasyhur dan menjadi pendidikan budaya pekerti yang sangat mahal. Banyak filosofi yang dapat kita pelajari dari tokoh-tokoh pewayangan. Sayangnya sekarang ini adat kita adalah adat hiburan, hanya mencari dan menikmati unsur-unsur yang menghibur ketika menonton pagelaran wayang, filosofinya tidak kita pelajari dan tidak mengena pada diri kita.
Jika kita melihat tokoh-tokoh pewayangan yang diciptakan oleh Sunan Bonang dan disosialisasikan oleh Sunan Kalijaga, kita bisa melihat bahwa beberapa tokohnya memiliki kulit hitam, sebut saja Krisna atau Werkudoro dan Semar. Kulit mereka hitam, tidak sama dengan kulit-kulit saudaranya yang lain yang putih-putih.
Penciptaan tokoh Krisna/Bethoro Kresno diambil dari 2 filosofi:
1. Hajar Aswad yang berwarna hitam diaplikasikan pada warna kulitnya. Hal ini dikarenakan hitam selalu menang, tidak akan kalah dengan warna lainnya apabila disatukan. Hal ini menandakan Kresno memiliki jati diri yang tidak mudah dipengaruhi oleh yang lain. Inilah yang harus kita mantapkan, kita harus memiliki jati diri sehingga tidak mudah dipengaruhi yang lain.
2. Air laut yang teraplikasikan pada kulit Kresna yang gelapnya bersemu biru, atau kadang divisualkan biru tua. Air laut memiliki banyak keistimewaan yang tidak dimiliki oleh selainnya. Air laut dapat menepis dan membersihkan dirinya sendiri dari semua limbah yang masuk ke laut. Artinya, meski ia menerima semua yang datang kepadanya, ia tetap murni bersih tidak mau terkotori meski banyak hal-hal lain yang bisa mengotorinya. Keistimewaan lainnya, seberapa banyak air tawar yang masuk ke laut tidak akan pernah mengubah asinnya air laut. Artinya, ia tidak bisa dipengaruhi, berpendirian, memiliki jati diri yang kuat. Di sisi lain, meski memiliki keistimewaan-keistimewaan tersebut, ia tidak mau mengintervensi, ditunjukkan dengan banyaknya ikan yang berada di dalamnya/di dalam laut yang asin, namun ikan-ikan tersebut tetaplah tawar, tidak mengharuskannya asin mengikuti air laut. Artinya, seberapa kuat kita, kita tidak boleh memaksakan kehendak, pengaruh atau jati diri kita kepada orang lain.
Indonesia dan bangsanya harusnya bisa meniru kekayaan filosofi hajar aswad dan air laut tersebut.
Tokoh Bethoro Kresno dikisahkan dipersiapkan untuk noto negoro, sebagaimana nabi Adam dan siti Hawa dahulu dipersiapkan untuk menjadi Khalifah fi al-Ardl, maka dipersiapkan dengan sebaik mungkin, diberikan berbagai pelajaran, ditempa dsb. Untuk dapat "noto negoro", oleh karena itu Kresno butuh nduweni ilmu mandito. Ilmu mandito yakni sebagaimana yang dijelaskan oleh Syeikh Abd al-Qadir al-Jailani:
(إذا اردت) ان
يتصدى ويتصدر لإرشاد الناس إلا أن اعطاه الله علم العلماء وسياسة الملوك وحكمة الحكماء
Jadi manusia dapat menjadi khalifah yang benar di bumi, menata negara, menjadi pemimpin umat apabila memiliki ilmu para ulama, memahami politik para elit, sekaligus memiliki kebijaksanaan para ahli hikmah.
Oleh karena itu, untuk dapat "noto negoro" dengan baik, Kresno juga dipersenjatai. Senjata Kresno apa saja?
1. Nduweni Koco Benggolo atau انكشاف. Maksudnya, kita dididik, sejauh mana selaku anak bangsa memiliki intelegensi yang tinggi. Apakah sesuatu ini akan memecah belah umat Islam sendiri, ataukah memecah umat beragama, ataukah memecah bangsa kita sehingga orang-orang asing bisa bertepuk tangan menertawakan kita yang ribut sendiri. Kuping/telinga kita ini nrimo, menerima segala berita yang jelas nggawe pikiran uwong, nggawe sumpek terus. Kita selalu terninabobokan oleh hal-hal begitu sehinggaa tidak dapat melihat masa depan, masa depan Bangsa Indonesia.
Ojo eker-ekeran wae masalah khilafiyah. Tumbuhkan rasa memiliki Indonesia. Penamaan buah khas suatu daerah dengan nama daerah tersebut, misalnya Jambu Demak, Duren Jepara, Duren Petruk, secara tidak langsung mengangkat nama-nama daerahnya sehingga banyak yang ingin berkunjung untuk mendapatkan buah-buah tersebut, kemudian dapat mengangkat income daerah. Bukan malah menamainya dengan nama-nama asing, jangan malah ikut-ikutan terbawa arus dengan pengaruh luar, supaya terlihat keren.
Maka tingkatkanlah rasa memiliki dengan cara tanggap. Gunakanlah Kaca Benggala, bukan untuk "mbedhek" wong, tapi kanggo ngoco, kanggo nutupi aibe wong. "Bedheanmu" mungkin benar, tapi bisa menghinakan orang, apalagi jika dilakukan di depan banyak orang. Orang yang keparingan انكشاف itu akan membantu orang-orang melaksanakan syariat, menegakkan syariat, bukan malah mbedhek-mbedhek wong.
Oleh karena itu, mari kita tanggulangi pengenalan daerah sendiri di kota/kabupaten masing-masing hingga Indonesia seluruhnya. Ajarkan anak-anak kita untuk mengenal daerah masing-masing sehingga nantinya ketika dewasa dapat memberdayakan potensi daerah masing-masing. Kita jangan seperti nduwe warisan tapi ra ngerti nyatane wujude. Janganlah kita seperti ahli waris yang tidak diajari, tidak dikasih tahu mana warisannya. Kalau kita mengerti warisan yang kita punya, Insya Allah Indonesia kuat. Mengenal negara kita dengan seluk beluknya merupakan bagian dari memperkuat NKRI dan bela negara.
2. Nduweni kunci**. Meneladani Kresno, maka kekayaan apa yang kita punya di negara ini, di daerah masing-masing, kuncilah, simpan sendiri, jangan dibocorkan kepada pihak asing. Selain itu, aib bangsa juga harus dikunci. Jangan membuka aib ulama, Polisi, TNI, dll. Kalau tidak dikunci, maka akan menurunkan kewibawaan mereka yang berujung menurunkan wibawa bangsa di mata dunia sehingga mudah digoyang bangsa lain. Apakah ridlo Polisi, TNI, ulama, negara kita digoyang?
3. Nduwe kembang Wijaya Kusuma (yang dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati/mati suri). Kembang Wijaya Kusuma kanggo opo? Ora kanggo nguripke seg neng makam, tapi saged nguripke gersang, nguripke ilmuwan dll.
4. Nduwe senjata pamungkas yaiku Cokro. Artinya, kita harus memiliki pertahanan negara yang luar biasa kuat yang di dalamnya adalah ulama, TNI, POLRI.
Sama seperti Kresno, ksatria-ksatria lain juga punya senjata pamungkas, misalnya Bimo dengan kuku Pancanaka yang bisa untuk mbabat alas, mengalahkan musuh, dan apabila dikethok tetep tumbuh.
Nabi kita, nabi Muhammad SAW. adalah manusia yang memiliki kemampaun untuk menata negara, mempersatukan, menyejukkan ummat. Sejak masa mudanya saja sudah dijuluki al-Amin karena amanah, dapat dipercaya, justru yang menyatukan dan menghentikan kegegeran qabilah Makkah yang berdebat mengenai siapa yang paling berhak untuk meletakkan hajar aswad ketika membangun kembali Ka'bah. Lantas di mana sekarang penerus-penerus Al-Amin yang menjadi penyejuk ummah?
Selain Kresna, ada satu tokoh pewayangan lagi yang warna kulitnya hitam, yakni Semar. Semar ini merupakan visualisasi rakyat yang siap dipimpin. Perutnya besar menandakan lumbung-lumbung, rakyat bisa membuat lumbung-lumbung pedesaan, lumbung padi, jagung, kedelai. Semar juga memiliki jati diri, kulitnya hitam, tidak mudah dipengaruhi, punya pendirian kuat.
Rakyat yang banyak ini dengan latar belakang berbeda-beda diciptakan untuk saling mengenal,
وجعلنا القبائل لتعارفوا
Semua manusia itu kedudukannya sama, setara. Lantas sejauh mana harus saling mengenal? Saling mengenal ini harus didasari pada:
ان اكرمكم عند الله اتقىكم
Harus mengenal siapakah yang patut dijadikan panutan, yakni menurut AlQuran adalah orang yang paling taqwa. Serumah paling taqwa siapa, se RT siapa, se RW siapa, itu semua khusus penilaian Gusti Allah. Hanya Allah yang tahu. Lantas bagaimana cara kita mengenali orang yang paling taqwa di antara kita dan bisa dijadikan panutan? Kalau kita lihat, yang dimaksud dalam ayat, manusia yang paling bertaqwa itu siapa sih? Ya Rasulullah, nabi kita Muhammad SAW. Jadi manusia-manusia yang paling bertaqwa kemudian adalah mereka yang nganut Kanjeng Nabi. Lantas siapa itu? Yakni para Auliya', Wali 9, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, mereka yang dimakamkan di belakang Masjid Agung Demak, Raden Fattah dll. Lihatlah, renungkanlah, beliau-beliau ini mengikuti Kanjeng Nabi untuk menyatukan ummat. Lihatlah, meski di dalam kubur, mereka bisa menyatukan ummat. Meski cara ziarah mereka dalam satu tempat berbeda-beda, dengan suara lantang masing-masing, bisa didengar peziarah lain, ko do mboten ribut? Ko do mboten tukaran? Ko ga saling menegur, tahlilmu kurang cepet, kurang mantep, kebanteren, caramu ko ngunu? Kenapa mereka yang di dalam kubur ko bisa merukunkan umat? Lha kita yang hidup sekarang bisa tidak merukunkan umat? Malu tidak sama yang meninggal?
Kita musti koreksi, introspeksi diri masing-masing. Mustinya setelah ziarah kepada beliau-beliau para auliya Allah kita harus mengambil hikmah. Apa yang kita dapatkan? Apa? Karomah? Barokah? Kedhuwuren sampean iku. Apa yang kita dapatkan? Iling-iling ya... iling-iling, temenan iling-iling! Malu, Isin!!!

*Ditulis berdasarkan catatan yang ditulis sesuai daya tangkap saya ketika mendengar mauidloh beliau, Al-Habib Luthfi bin Yahya. Banyak kurangnya, kurang tepatnya, peringkasan cerita atau jika kurang memahamkan, mohon maaf.
**Maafkan juga yang tidak bisa menjelaskan dengan baik mengenai kunci (pada poin kedua mengenai "persenjataan" Kresna) yang dimaksud Habib dan keterkaitannya dengan tokoh Kresna. Telinga dan otak saya kurang bisa menangkap "kunci" yang dimaksud. Mohon pencerahannya bagi yang mengerti 🙏🙏🙏🙏🙏
Yang dapat saya pahami dari mauidloh beliau, ringkasnya adalah, mari kita rakyat Indonesia menyudahi perdebatan baik langsung maupun melalui media sosial hal-hal yang rame, yang memuat berbagai hinaan/celaan/menyinggung/menyindir tokoh-tokoh, instansi-instansi, pihak-pihak lain, karena itu sudah tidak sehat. Membangun negeri ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, tapi jangan sampai kita menghinakan orang lain, mencari-cari keburukannya, membuka aibnya, karena justru akan menurunkan kewibawaan beliau-beliau dan berujung menurunkan wibawa Indonesia di mata dunia karena membahas hal-hal yang tidak perlu, terlalu over, terlalu drama, terlalu lebay. Mari kita jadi pribadi yang memiliki jati diri kuat, berpendirian kuat, tidak mudah dipengaruhi, tidak mudah dikompori, tidak mudah diprovokasi, tidak mudah terpancing. Jangan juga gemar mengintervensi, memaksakan pendapat kita kepada orang lain, memaksa orang lain sama dengan kita. Jadikan kepribadian kita kaya seperti air laut, seperti hajar aswad. Jika kita memang memiliki intelegensi tinggi, harusnya kita dapat menyatukan umat, harusnya kita menyadari betapa pentingnya menyatukan bangsa. Mari kita bersatu!  Mari kita semangat menyatukan umat, mari kita bahu-membahu menyatukan bangsa!!!
Wallahu A'lam.

0 komentar:

Posting Komentar