Kamis, 15 Desember 2016

Mombassador Camp At Westlake Resort Jogja

Mombassador Camp At Westlake Resort Jogja






Apa yang dituju kedua setelah ketemu anak-anak sepulang dari Mombassador Camp tiga hari di Jogja?

Yups, betul banget. Timbangan berat badan. Ahaha. Dan bisa ditebak, nambah dua kilogram. Alamaaak. Ya jelas banget lha wong selama tiga hari di Westlake Resort itu acaranya makan-makan enak mulu. Nggak dimakan sayang, dimakan takut gendut. Xixixi..

Beneran deh SGM Sari Husada ini ternyata selain menyiapkan nutrisi baik buat bayi, anak-anak, ibu hamil dan menyusui, juga memberikan gizi buat bunda-bunda Mombassador. Biar sehat semuanya :)















Pengalaman mengesankan selama tiga hari di Mombassador Camp At Westlake Resort Jogja ini dimulai Selasa pagi itu saat pihak SGM menjemput saya di rumah Demak. Perjalanan empat jam melewati jalur Kopeng, menjadi pembuka yang menyegarkan. Pemandangan Gunung Merbabu, Merapi dan Sumbing dan hijaunya persawahan serta pegunungan, menyirami jiwa yang selalu  haus akan kebaruan dan membutuhkan charge energi untuk menjalani kehidupan yang penuh tantangan ini.



Sesampai di Westlake Resort Jogja, seluruh mombassador yang datang dari seluruh penjuru Indonesia ini langsung mendapat sajian makan siang. (tentang tempat makannya, menu-menunya, juga restonya akan ada postingan sendiri ya nantinya, insya Allah)


Selesai makan dan diambil gambarnya oleh fotografer untuk profil mombassador, kami langsung diantar ke kamar masing-masing. Subhanallah, secara keseluruhan westlake ini memang kayak hidden paradise (sebagaimana tagline-nya) dan kamarnya juga nyaman banget. Plus masing-masing punya teras dengan view yang indah sekali. Sebagian menghadap danau buatan yang ada di tengah kawasan. Sebagian punya kolam ikan di bawah terasnya dan air terjun sendiri, kayak di kamarku. Arrrrrrrrgghhhhh

(Tentang kamar-kamar dan fasilitas hotel dst, insya Allah juga akan ada postingan tersendiri ya. Jadi stay tune. Sila follow blog ini ya biar nggak sampai ketinggalan hehe)



Setelah melepas lelah di kamar dan bebersih mandi dan ganti baju, sorenya kami jalan ke Sekar Kedhaton Resto. Sambil makan malam dengan masakan Jogja yang aduhai lezatnya ini, pihak SGM dan Sari Husada mempresentasikan tentang visi misi Mombassador Camp serta kegiatan apa saja yang akan dilakukan selama tiga hari ini. Sekaligus malam itu menyampaikan challenge alias tantangan-tantangan yang kami bisa kerjakan di sela-sela jadual inti kegiatan.



Hari berikutnya, pagi-pagi sekali setelah sarapan, kami dibawa ke Prambanan. Bertempat di kawasan pagelaran Rama Sinta, workshop tentang parenting dan nutrisi bagi anak makin membuka mata kami akan pentingnya hal ini bagi upaya mempersiapkan generasi masa depan bangsa.

Usai workshop, kami dibagi dalam sepuluh kelompok, yang bekerja di gazebo-gazebo yang terpisah. Tantangannya adalah mendesain poster yang menyampaikan nilai/value brand/SGM apa yang bisa ditawarkan sehingga bisa memikat banyak bunda di Indonesia.

Setelah diberi waktu selama satu jam, masing-masing diberi kesempatan presentasi sepuluh menit.  Biar seru presentasi posternya, kami juga berinsiatif menampilkan yel-yel andalan masing-masing kelompok.

Saking asyiknya melewati sesi ini sampai tak terasa tahu-tahu waktu makan siang tiba. Setelah menikmati sajian khas Prambanan, kami berfoto bersama dengan latar belakang candi Prambanan, maha karya yang selalu menimbulkan decak kagum. 



Dari arah Prambanan, dua bis yang mengangkut 60 mombassador dari seluruh penjuru Indonesia ini bergerak ke Klaten. Kami mengunjungi kawasan pabrik Sari Husada yang ada di Kemudo Klaten. Setelah workshop tentang 1000 hari pertama kehidupan bersama pakar nutrisi, kami diajak berkeliling pabrik.  Melihat langsung dari dekat bagaimana proses pembuatan hingga pengepakan susu ini hingga ke gudangnya yang luas banget. Seluruh kawasan ini seluas dua hektar.

Setelah puas melakukan factory visit, kami ke alun-alun kidul Jogjakarta. Semua puas bisa naik becak wisata keliling alun-alun malam itu. Dan sebagian, termasuk aku, mencoba  dengan penutup mata berjalan lurus dari arah Sasono Hinggil melewati tengah antara dua beringin alun-alun. Daaaan...aku melenceng jalannya. Ahaha...Ketahuan deh kalau mata batinku ini perlu diasah banget, agar tidak tertutup dan bisa tajam (lagi). Eh pedhe banget pakai kata lagi, memangnya dulu pernah tajam mata batinnya? Ahaha..


 Malamnya, meski capek dan agak teler, kami ke ballroom Westlake resort untuk gala dinner. Mr Jose Bernard yang punya gawe, alias boss-nya Sari Husada hadir dan menyambut kami sebagai keluarga baru. Yeay! Badan yang tadinya capek berasa segar kembali menikmati sajian lagu-lagu manis yang tersaji live, kehangatan dan kebersamaan mombassador, juga guyonan MC nya yang bikin ketawa nggak habis-habis :D




Hari ketiga, semua peserta pagi-pagi banget musti 'kerja' lagi. Hehehe. Sebagian besar workshop di resto Westlake diikuti tugas membuat proposal kegiatan yang bisa melibatkan banyak bunda, membuat gerakan yang membuat semua orang melek gizi dan seterusnya.

Aku bersama sebelas orang lain, mendapat kehormatan terpilih menjadi peserta FGD (Forum Group Discussion). Kelompok pertama, termasuk aku di dalamnya, bertempat di hall/meeting room dekat lobby Westlake, brainstorming selama pagi sampai siang itu membahas materi markom, baik content maupun packaging baru yang akan rilis tahun depan.

Kelompok satunya lagi, enam orang juga, melaksanakan 'baku hantam'nya di president suite room yang ada di belahan lain, tapi masih ada di kawasan Westlake resort ini.

Lagi-lagi, saking serunya berjibaku dengan tim thinktank ini, nggak terasa tahu-tahu saat makan siang tiba. Dan kami pun menyerbu ke tempat makan resort yang arah viewnya ke danau. Hari itu ditutup dengan keseruan kuis, membagikan voucher di tangan panitia sampai habis tak tersisa.

Setelah berfoto lagi sama-sama untuk yang terakhir kalinya di depan danau, kami pun pulang ke diantar pihak panitia sampai depan rumah masing-masing.

Sampai jumpa di event-event mombassador yang masih akan digelar setelah ini!

Senin, 12 Desember 2016

Writravellicious Goes To Oaktree Emerald

Writravellicious Goes To Oaktree Emerald


Aku lupa-lupa ingat kapan pertama kali melihat tulisan Hotel Oaktree Emerald. Kurasa mungkin di sebuah baliho besar di sudut pertigaan daerah Kariadi atau mana. Dan kemungkinan juga baru-baru ini. Siapa yang mengira bahwa sekelebat keinginan mencoba yang selalu muncul tiap kali melihat promo tempat baru, tahu-tahu terkabul beneran. 


 Jadi siang itu begitu aku memperoleh kabar dapat gratisan menginap di Oaktree ini, langsung tanpa ba bi bu, kuajak anak-anakku untuk berkemas. Kebetulan ini hari Ahad, dan besok tanggal merah karena hari Maulid Nabi Muhammad SAW.




 Kami naik bis dilanjut taksi menuju hotel yang letaknya bisa diakses dari beberapa jalur. Bisa dicapai dari arah jalan Sultan Agung. Paling enak masuk ke jalan depan Grand Edge, turun ke arah Papandayan. Dan bisa juga dicapai dari arah Sampangan pas di pertigaan pasar Sampangan itu belok kiri, naik terus. Daerah ini tak asing bagiku karena jaman kuliah arsitektur dulu, aku suka asistensi ke dosenku yang tinggal di sekitar sini.




 Kami tiba di lobby hotel sekitar jam satu siang. Wah sangar bener. 170 kamar yang  tersedia benar-benar full booked. Dan tamu yang sudah kadung reservasi pun harus menunggu para tamu yang check out siang itu, ataupun kamar yang mungkin sudah ditinggalkan penghuni terdahulu tapi masih harus dibersihkan oleh house keeping-nya.






 Lihat antrian orang sebanyak itu di lobby, kupikir hebat sekali ya Oaktree ini yang notabene mblusuk lokasinya tetapi jadi magnet banyak orang. Lalu kurasa mungkin justru memang orang-orang cari yang seperti ini. Oase di tengah perkotaan. Ketika orang bisa merasakan alam yang asli, alami, tapi sekaligus tidak jauh dari tempat-tempat hang out yang bisa dikunjungi saat berlibur. Dus, tentu saja karena ini libur panjang sebab libur akhir pekan dari Jumat sore bersambung sampai Senin sore.





Karena masih harus menunggu kunci kamar, aku dan anak-anak pergi ke musholla-nya dulu untuk sholat dhuhur. Musholla ada di lantai tiga, bersebelahan dengan ballroom. Tapak yang terletak pada perbukitan menjadikan ruang-ruangnya menjadi sangat dinamis. Karena pengolahannya yang apik dan respon terhadap tapak menghadirkan mezanin-mezanin juga ruang-ruang yang continous dengan tangga-tangganya. Membuat ruang-ruang yang ada di lantai tiga ini terutama sangat luas sekali.


 Usai sholat kami kembali lagi ke lobby di Ground floor untuk mengambil kunci. Masih agak lama menunggunya karena memang banyak sekali tamu yang antri. Bahkan tamu terus saja berdatangan. Sebagian malah membawa keluarga besar dengan anak-anak kecil yang lucu dengan tingkah polahnya.



Setelah sabar menunggu, akhirnya kami dapat kunci juga. Kamar kami terletak di lantai lima, dekat dengan lift. Alias ada di bagian paling depan gang/koridor.

 Di lift yang diberi lapisan wall paper berhiaskan pepohonan itu, tak lupa kami berwefie ria. Hehe. Pengalaman menginap bersama begini selalu menyenangkan. Di homestay Ubud Bali Oktober 2012, hotel Ketapang Indah Banyuwangi Desember 2013,  Hotel Bunga Karang Bekasi 2014, Hotel Taman Wisata TMII 2015, dan di penghujung 2016 ini di Oaktree.

 Di setiap lantainya, selalu ada ruang duduk dekat lift yang dindingnya digarap dengan hiasan yang sangat menarik. Menjadi eye catching yang bisa ditangkap langsung saat pintu lift terbuka. Sungguh pengalaman arsitektural dan seni yang mengkayakan.

 Ruang duduk ini berhubungan langsung dengan ruang terbuka, tanpa kaca. Sehingga udara  segar bisa mengalir dengan bebasnya. Dan pemandangan alam perbukitan yang sangat indah bisa kita nikmati tanpa penghalang.

Inilah yang menjadikan setiap koridor di manapun dalam hotel ini tidak menggunakan AC. Karena penghawaan alamiahnya sudah mencukupi. Dan memang inilah yang menjadi salah satu daya tarik dan sekaligus daya jualnya.


 Sore sehabis kami melepas lelah di kamar, anak-anak langsung mengajak berenang. Kolam renang ada di lantai dua. Dan area ini yang paling surga di hotel Oaktree. Kolam renang langsung menghadap view perbukitan yang hijau, segar, alami dan indah.

 Ada dua kolam yang dipisahkan dengan peil ketinggian lantai dan rimbun pepohonan di dua ujungnya. Satu kolam panjang dan lebih dalam untuk dewasa. Dan satu lagi lebih kecil dan tidak dalam untuk anak-anak.


 Jenis-jenis vegetasi yang dipilih untuk menjadi bagian lanskap kolam ini mengingatkanku pada mata kuliah lanskap waktu masih ngampus di arsitektur Undip belasan tahun lalu.


 Dari tempat duduk di tepi kolam ini, kita bisa melihat bangunan hotel yang menjulang tinggi. Seluruhnya ada dua belas lantai. Ground floor untuk lobby. Lantai dua untuk kolam renang, fitness centre, spa dan resto. Lantai tiga untuk ballroom. Tersedia kamar-kamar di lantai 1-11 yang berhadapan dengan koridor di antaranya. Sebagian memiliki view kota, sebagian memiliki view perbukitan.

 Bersebelahan dengan kolam renang ini ada Pinus Beer And Garden. Alunan musik terdengar dari sana. Dan menjelang senja, semakin banyak orang turun mendekat ke pojok area ini untuk menikmati suasana pergantian hari.



Anak perempuanku tak mau turun renang karena cuaca memang agak kurang mendukung. Gerimis. Dia duduk di kursi kayu panjang bersama ibu-ibu yang menunggui anak-anaknya berenang.


Tapi anak lelakiku nekat saja terjun ke kolam. Sebab dia tak bisa menolak godaan untuk memanfaatkan kolam renang selagi ada di depan mata. Hehe.


Kursi-kursi cantik berbahan besi stainless steel tampak kedinginan di dak lantai kayu tepi kolam renang. Tapi aku tak tergerak menemaninya karena gerimis belum jua kunjung reda. Ahay. Ngakunya aja pecinta hujan, tapi kok nggak mau hujan-hujanan.


 Malah cuma foto di bawah pepohonan dekat kolam demi mengabadikan tulisan Oak Tree yang terpampang di sebilah papan kayu yang dipaku di pohon.




Setelah berenang, kelaparan dong. Jadi kami makan di Cendana Restoran, tempat makan yang disediakan hotel. Anak-anak kompak memilih menu cumi. Dan tambah nasi karena kalau berteman dengan kentang saja, dijamin pasti masih akan kelaparan. hehe.




Pulang dari resto, kami jalan-jalan melalui arcade alias koridor yang juga bersebelahan langsung dengan alam terbuka. Sebagai pengamannya, digunakan teralis-teralis besi yang dihiasi dengan tanaman-tanaman menjalar yang membuat bangunan tak berkesan masif dan kaku.


Malamnya karena kebetulan bertepatan dengan maulid nabi Muhammad SAW, kami bertiga menyenandungkan sholawat-sholawat di dalam kamar. Dibantu oleh youtube sholawatan yang lancar karena wifi hotel lumayan kencang. hehe.




Pagi kami turun ke resto untuk sarapan dan menikmati nasi gorengnya yang lezat.  Aneka menu tersedia. Juga aneka minuman serta aneka salad. Bebas milih.


Usai sarapan, kami jalan-jalan lagi menikmati lingkungan hotel yang asri dan sejuk. Berjalan kaki sepanjang jalan Watuwalang yang berisi hotel dan beberapa rumah mewah yang tinggi-tinggi, besar dengan desain arsitektural yang memanjakan mata.


 Hotel Oaktree Emerald yang terletak di ujung jalan ini memang menjadikannya tak terlihat dari jalan raya. Serupa sanctuary atau tempat persembunyian yang tepat untuk hiatus. Menjadi tempat untuk berkontemplasi, refleksi, mencari inspirasi.


 Anakku bahkan berjalan-jalan sampai ke pinggiran tebing karena tertarik dengan pemandangan sungai yang ada di bawah sana. Benar-benar surga ya.

Karena itulah Oaktree punya penawaran program One Night Paradise dengan harga yang lebih terjangkau.  Buat teman-teman yang mau mencoba surga ini, bisa langsung googling alias browsing program kece ini.

Setiap sudutnya menakjubkan dan menimbulkan decak kagum. Pepohonan dengan dedaunan yang menjulur itu terutama yang membuat hati berdesir.





Harmoni cabang, dahan, ranting dan hijau dedaunan membuat rindang pepohonan menjadi  harmoni  yang akan terus melekat dalam ingatan. Tanpa sadar membawa kesegaran dalam jiwa dan pikiran. Sehingga saat akhirnya meninggalkan tempat indah ini, diri seakan menjadi terbarukan kembali. Karena mendapatkan charge energi.



Interiornya juga ciamik. Aku memanfaatkan masa-masa menunggu anak-anakku mandi dll, dengan memanfaatkan lampu baca di sudut meja untuk merampungkan jadual literaturku minggu ini.



Kursi di ruang duduk dekat lift, yang bersebelahan langsung dengan alam terbuka itu juga potensial sekali untuk tempat membaca. Atau sekedar duduk-duduk menikmati indahnya alam raya ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa.


Aku dan anak-anak menyempatkan diri untuk naik ke lantai paling atas, lantai dua belas, karena ingin tahu ada apa di sana. ternyata hanya dak atap. So kami turun ke lantai sebelas untuk melihat pemandangan yang bisa dinikmati dari ketinggian ini.



Oh ya, dan selalu tak lupa ber wefie ria. Alamaaaak...



Wah, mobilnya kayak mobil-mobilan ya. seru anak-anakku. Subhanallah. Pemandangan yang menajubkan. Perpaduan vegetasi alam perbukitan yang hijau, jalan berliku berwarna abu beton dengan aneka warna mobil di parkiran hotel, serta biru bersemu coklat sungai yang mengalir di bawah sana.
 Dari ketinggian ini, tampak juga gedung berlian di jalan pahlawan, tempatku sharing kepenulisan beberapa hari lalu. Dan rumah-rumah yang tampak seperti rumah-rumahan saking kecilnya.



Di lantai dua belas ini hiasan back drop dindingnya menggunakan aneka cermin dalam berbagai model bentuk bingkai dan warna corak tekstur yang alami, serta penataan yang  dinamis. Cantik!


 Akhirnya satu hari menginap di Oaktree telah habis masanya. Sembari menunggu datangnya taksi untuk mengantar kami pulang, sekali lagi kami menikmati indahnya interior lobby. Dengan perpaduan manis antara material lantai, dinding, langit-langit, aksesoris, lampu juga furniturenya.




 Mostly, karena konsepnya alamiah maka motif yang dipilih semuanya adalah dedaunan. Bahan finishing serpihan dan bilah kayu yang ditata horisontal menjadi material finishing penutup dinding di area resepsionis maupun dinding yang membingkai dua lift di masing-masing lantai. Beautiful!





Sabtu, 10 Desember 2016

Gathering With Mr President

Gathering With Mr President


Di masa paradoks seperti sekarang ini, agak susah kiranya untuk menuturkan apa saja yang kita alami begitu saja tanpa menjelaskan secara runtut dan detail, lapis demi lapis kenapa, bagaimana, untuk apa, dan seterusnya yang kadang bisa membuat energi kita habis hanya untuk menjelaskan sehingga malah tidak berbuat sesuatu yang berarti, tidak menghasilkan konstribusi. 

Tapi saat pak presiden Jokowi kemudian hadir menembus hujan, berjalan dari Istana menuju Monas untuk sholat Jumat bersama umat, kupikir tak ada salahnya cerita ini dibagi. 

Yang sebenarnya bukan mau cerita sih, hanya ingin merekam jejak. Bahwa  pada sebuah malam  di Gumaya kami bersua orang nomor satu di negeri ini, menjabat tangannya, pak presiden mendengarkan masukan-masukan dari banyak orang hari itu, termasuk para kyai maupun netizen. 

Dan kami semua hanya bisa berdoa, semoga Indonesia akan tetap senantiasa indah, damai, aman, makmur, maju, dan mampu melewati segala masalah. Aamiin ya robbal alamiin.

Sharing Kepenulisan Di Gubernuran

Sharing Kepenulisan Di Gubernuran



 
Mungkin aku sudah pernah bercerita, bahwa mungkin sekali hobby-ku manggung itu menurun dari kebiasaan almarhum ayahku. Dari masa SMA sampai jaman kuliah, aku suka sekali mengikuti ke manapun ayah pergi. Bahkan suatu kali di akhir tahun, ayah mengajak kami sekeluarga melewatkan masa-masa menjelang tahun baru itu ke gedung Telkom Jl. Pahlawan Semarang karena ayah mengisi pengajian di sana. Dari audience yang hanya puluhan hingga ratusan orang sampai seribuan orang, juga beliau layani dengan senang hati. Aku bisa merasakan cahaya yang memancar dari wajah beliau setiap kali manggung. 

Waktu kami tinggal sama-sama di rumah simbah di Jl. Sugiyopranoto Semarang selama masa perkuliahan dan beberapa tahun setelah aku lulus, aku turut mencatat jadual beliau. Menerima telpon-telpon permintaan. Membersamai beliau saat menyiapkan slide-slide presentasi. Dan seringkali ayah mengajakku turut serta ke arena. Masjid-masjid, kampus, sekolah, pesantren, dan bahkan seminari, radio-radio, kantor-kantor, instansi, perusahaan, rumah dinas walikota, rumah dinas gubernur dan pejabat lainnya. 

Katakanlah sebagiannya mungkin juga aku agak terobsesi dengan langkah ayah ini. Sehingga setiap kali aku memasuki gelanggang yang dulu menjadi panggung bagi ayahku saat sharing dan mengajar sesuatu, aku selalu mengingat beliau. 

Termasuk ketika aku akhirnya berkesempatan sharing kepenulisan di Gubernuran ini. 
Lahul fatihah. Dad, I miss you. A lot.