Kamis, 10 November 2016

Writravellicious Goes To Batam Port And Take Ferry Abroad


Writravellicious Goes To Batam Port And Take Ferry Abroad






Habis lari-lari dari Pulau Galang, bergegas check out dari  hotel Harris usai sholat, kaki lalu melangkah ke bangunan yang ada di sebelah hotel. Beruntung banget karena port alias pelabuhan Batam untuk penyeberangan ke Singapura ini cuma sepelemparan batu saja. Jadi selain tidak harus naik kendaraan lagi, juga bisa menghemat waktu.
Tentu saja menyeberang di siang hari akan lebih nyaman dan begitu sampai ke Singapura tidak kemalaman, sehingga akan sempat mengunjungi beberapa destinasi di sana.




Karena masih memungkinkan untuk isi perut terlebih dahulu sebelum jadual penyeberangan terdekat, maka wiskul alias wisata kuliner berlanjut. Kali ini menikmati sajian di restorannya Batam Port. Ada banyak sekali pilihan menu, tapi hati selalu tertambat pada kopi. Ahay. Makanannya juga yang menambah energi alias nasi dan lauknya yang paten, ayam goreng. Halagh :D




Pelabuhan tampak ramai sekali karena ternyata banyak orang yang juga menyeberang ke Singapura siang itu.  Sebagian orang memang memilih berpergian ke Singapore dengan penerbangan langsung ke Singapura, tetapi sebagian lagi memilih lewat Batam. Sebab ada perbedaan fiscal yang hanya lima ratus ribu  saja dibandingkan dengan Airport yang dua kali lipatnya. Sehingga walaupun penerbangan ke Singapura terbilang murah, tetapi kalo dihitung-hitung dengan fiskalnya maka tetap saja masih mahal. 


Maklum ya,  mengingat tiket pesawat Jakarta - Batam terhitung terjangkau. Dan  hampir semua penerbangan nasional melayani rute ini. Tinggal pilih jam keberangkatan saja atau check di travel agent.






Ada beberapa pelabuhan feri di Batam. Pelabuhan yang paling dekat dari bandara adalah Batam
Center. Merupakan  pelabuhan baru yang menggantikan pelabuhan Batu Ampar yang sudah tua dan tidak layak pakai. Selain Batam Center, juga ada pelabuhan feri di Sekupang yang juga melayani tujuan Singapura, tapi lokasinya lebih jauh dan harga taksinya pun akan pasti lebih mahal jika dari bandara Hang Nadim.







Usai makan siang,  langsung beli tiket feri di counter resmi perusahaan feri-nya. Ada beberapa perusahaan feri yang melayani tujuan Singapura, kebanyakan orang menggunakan Berlian Ferries/Wavemaster atau Penguin Ferries, karena kedua perusahaan feri tersebut yang paling
banyak melayani rute Batam Center-Singapura. Hampir tiap jam pasti ada keberangkatan. Feri-nya juga lumayan baru.


Tiket feri ke Singapura yang dibeli di bandara konon harganya lebih murah dibandingkan jika beli di pelabuhan. Tiket feri pulang pergi Batam-Singapura seharga S$13 saja, sedangkan kalau  beli di pelabuhan, harganya S$15.





Harga tiket feri untuk pulang pergi adalah S$15, dan harganya sama untuk semua perusahaan feri. Selain itu juga adapajak pelabuhan sebesar $S3.Harga tiket dalam dollar Singapura ternyata lebih murah dibandingkan harga tiket dalam rupiah.






Pada saat membeli tiket dan booking feri-nya,  paspor diperiksa sebab  petugas membuat boarding pass sesuai dengan nama   di paspor. Nama tersebut harus sesuai dan tidak bisa dipindahtangankan. Selain itu, petugas feri juga akan memberikan dua kartu imigrasi, yang satu adalah kartu imigrasiIndonesia dan satu lagi adalah kartu imigrasi Singapura, dengan nama sudah tercetak di situ.






Setelah urusan tiket selesai, dan tempat sudah di-booking untuk pemberangkatan feri, saya harus pergi ke kounter fiskal untuk membayar fiskal. Biaya fiskal sebesar 500 ribu rupiah, dan
harus dibayar kecuali jika kita adalah pemegang paspor Batam, atau jika kita bermukim di Singapura dan masih punya jatah bebas fiskal. Jika  mau mengurus bebas fiskal, maka bisa diurus  di counter yang sama dengan tempat  membayar fiskal. Counter ini lokasinya agak sedikit di pojok, dan harus agak teliti mencarinya.

Kemudian seluruh calon penumpang feri musti melewati imigrasi. Setelah itu, turun kembali ke lantai satu dan menunggu di ruang tunggu sampai jadual feri penyeberangan memanggil.





Feri yang kutumpangi termasuk lumayan baru dan masih bagus. Tak banyak penumpang dalam feri ini ternyata. Sehingga ruangan tampak leluasa. Atau mungkin sebagian besar penumpang memilih untuk berada di luar ruangan supaya bisa menikmati selat Singapura dengan leluasa.




Padahal hari hujan. Semula gerimis rintik-rintik, lalu berangsur-angsur lebat dan deras. Sementara AC dalam ferry juga dingin banget. Sehingga klop deh. Duingiin luar dalam.




Untung dari dalam ferry, aku bisa menikmati pemandangan laut dan selat serta langit yang biru. Karena jendela-jendelanya lumayan lebar. Antar jendela kaca juga jaraknya berdekatan sehingga masih bisa leluasa menyaksikan keindahan alam di luar sana.





Satu jam kemudian ferry merapat ke dermaga Singapura alias Harbour Front. Tampak banyak sekali ferry lain yang sudah merapat maupun yang pergi meninggalkan negeri itu. Sebagian kapal-kapal itu berupa cruise yang biasa kita lihat di televisi dengan segala kemewahan dan previlege-nya. entah kapan bisa naik kapal wisata kayak gitu ya? Hehehe









0 komentar:

Posting Komentar