Selasa, 29 November 2016

Writravellicious Goes To WareHouse

Writravellicious Goes To WareHouse




Riset merupakan hal yang tak terelakkan dalam proses kreatif penulisan. Sehingga perjalanan ke Batam mengunjungi warehouse pembuatan platform rig offshore ini juga merupakan bagian yang musti dinikmati

Ada banyak warehouse di kota industri ini, namun ada beberapa yang terkemuka dan bonafide. 

Rig pengeboran sendiri adalah suatu bangunan dengan peralatan untuk melakukan pengeboran ke dalam reservoir bawah tanah untuk memperoleh air, minyak gas bumi atau deposit mineral bawah tanah.  Ciri utama rig adalah adanya menara yang terbuat dari baja yang digunakan untuk menaik-turunkan pipa-pipa tubular sumur.

Nah, platformnya dan bagian-bagian dari rig offshore itu diproduksi di pabrik-pabrik ini. 
 
Menurut tempat beroperasinya, rig ada dua macam yaitu rig darat (land-rig) untuk operasi di daratan dan rig laut (offshore-rig) untuk operasi di atas permukaan air (laut, sungai, rawa-rawa, danau atau delta sungai).

Dermott merupakan salah satu warehouse besar yang punya kawasan pabrik sangat luas di salah satu sudut kota Batam ini. Butuh naik kendaraan untuk bisa melintasi seluruh kawasannya yang dipagari dengan kawat berduri yang tinggi serta di beberapa bagian disertai setrum listrik untuk menjaga keamanannya.

Offshore-rig sendrii juga terbagi berdasarkan kedalaman air yaitu:
1.    Inland barge rig adalah barge yang di atas deknya terdapat rig dengan segala perlengkapannya.  Inland barge rig khusus digunakan untuk melakukan pengeboran di tempat-tempat yang sangat  dangkal seperti  rawa dan muara sungai atau delta. Inland barge rig ada dua macam yaitu swamp barge dan tender barge. Swamp barge adalah rig untuk operasi di perairan dengan kedalaman air maksimal 7 meter saja. Sedangkan tender barge adalah rig yang mirip swamp barge tetapi dipakai di perairan yang lebih dalam. 

2.   Lalu ada Jack up rig adalag rig dengan platform yang dapat mengapung dan memiliki tiga atau empat kaki yang dapat dinaik-turunkan. Untuk dapat dioperasikan, semua kakinya harus diturunkan sampai menginjak dasar laut. Selanjutnya, badan rig akan diangkat sampai di atas permukaan air sehingga bentuk menjadi semacam platform tetap. Untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, semua kakinya haruslah dinaikkan terlebih dahulu sehingga badan rig mengapung di atas permukaan air. Lalu rig ini ditarik dengan menggunakan beberapa kapal tarik ke lokasi yang dituju. Rig ini biasa biasa digunakan untuk kedalaman 5-200 meter. 


 
 
3. Sedangkan   Semi-submersible rig, sering hanya disebut ‘semisub’ yaitu rig jenis mengapung. Rig ini diikat ke dasar laut menggunakan tali mooring dan jangkar agar posisinya tetap di permukaan. Dengan menggunakan thruster yaitu semacam baling-baling di sekelilingnya, rig semisub mampu mengatur posisinya secara dinamis. Rig ini sering digunakan jika lautnya terlalu dalam untuk rig jack up. Karena karakternya yang sangat stabil, rig ini juga populer dipakai di daerah laut berombak besar dan bercuaca buruk. 


4.    Kemudian ada jugaSubmersible rig  yang terdiri dari bagian utama berbentuk ponton/silinder yang dapat mengambang dan di atasnya terdapat rig beserta semua peralatannya. Setelah tiba di lokasi, bagian utama kemudian ditenggelamkan ke dasar laut dan menjadi penyangga rig. 




 Lalu terdapat pula Drill ship yakni semua peralatan pengeboran dipasang pada kapal. Rig ini biasanya digunakan untuk daerah laut dalam. Posisi kapal dikontrol oleh sistem thruster berpengendali komputer. Dapat bergerak sendiri dan daya muatnya yang paling banyak membuatnya sering dipakai di derah terpencil atau jauh dari darat.




Mengunjungi langsung warehouse ini, jadi bisa melihat  langsung bagian dari proses pembuatan rig/anjungan. Dari perancangan, perencanaan hingga fabrikasinya.

Proses Pembuatan Anjungan (Rig)
Untuk membuat sebuah anjungan (rig) dilakukan beberapa tahapan pembangunan diantaranya sebagai berikut :
- Perencanaan
- Fabrikasi di galangan & LOKASI
- Delivery ke lokasi drilling
- Erection
- Mooring & Positioning
- Installment meliputi :
- Power Plant
- Piping
- Machinery
- Production Support
- Electrical
- Accomodation and Support facilities meliputi :
- Crews Deck
- Berths & Ports
- Heli-Pad
- Flare Tower
- etc.

Proses Fabrikasi
Dalam pembuatan anjungan, perlu dipertimbangkan beberapa aspek termasuk aspek ekonomis dan teknis. Dalam aspek teknis, perlu ditekankan pada kesempurnaan konstruksi yang memenuhi kriteria aman pada waktu operasi, ringan, kuat kaku, dan kenyal tehadap pembebanan, tetapi juga susunan elemen strukturnya tidak rumit sehingga fabrikasinya bisa mengurangi jumlah manhours, mudah pengoperasian dan perawatan, dapat difabrikasi dengan peralatan crane, las, potong dan lain-lain di lokasi fabrikasi serta dapat diangkut dengan cargo barge yang ada dan dapat dipasang pada derrick barge yang ada. 



 

Sementara dari aspek ekonomis juga memperhitungkan analisa biaya investasi, operasi dan pendapatan yang meliputi perkiraan kapasitas reservoir dari sumur percobaan, jumlah platform dan jumlah sumur (wells) yang diperlukan, kapasitas produksi yang berkaitan dengan tekanan reservoir pada secondary recovery serta viskositas, rasio minyak dan gas, komposisi kimia lainnya yang berkaitan dengan kapasitas dan ukuran treatment plant yang diperlukan, kondisi lingkungan dan kedalaman laut di lokasi, antisipasi terhadap harga minyak mentah dunia, perkiraan biaya investasi, operation and maintenance, rate of return on invest, speed of development in relation to cash flow.



Puas rasanya bisa mengunjungi seluruh bagian warehouse dan melihat langsung  proses pembuatan platform dari batangan besi menjadi bentuk bangunan yang terdiri dari tiga lantai berikut banyak fasilitas di dalamnya. Jadi kamar-kamar, kamar mandi, dan utilitas serta berbagai kelengkapan hunian ada di platform tersebut.

dari berbagai sumber

Writravellicious Goes To Merlion Park

Writravellicious Goes To Merlion Park




 Tadinya nih kepengennya Merlion Park akan menjadi destinasi pertama yang kukunjungi di Singapura. Tetapi karena tiba di Harbour Portnya kesorean dengan membawa tas yang lumayan berat, jadi langsung cap cus ke hotel di kawasan Orchard Road dulu dan akhirnya ke little India untuk menikmati malamnya.

Dus, baru sempat ke Merlion Park pada hari kedua. Cuaca cerah dan suasana hati makin merekah karena aku pakai baju kuning menyala dengan kerudung pelangi yang membahana. Halagh :D

Untuk menuju ke wilayah Marina Bay ini aku menggunakan jalur MRT dari stasiun Dhoby Ghaut dekat hotel. Para wisatawan yang mau ke Merlion Park di kawasan Marina Bay ini bisa  turun di stasiun City Hall atau Raffles Place sih, sebab kedua stasiun itu dilewati oleh jalur North South Line dan East West Line. Perhatikan saja jalur MRT nya.



Apabila turun melalui City Hall, maka rute yang ditempuh yaitu melalui Citilink Mall terlebih dahulu. Di sini bisa sambil  berjalan jalan window shopping alias cuci mata  ataupun  belanja benaran. Di tempat ini tersedia dari fashion fashion sampai toko buku. Jalur melalui Citylink Mall ini merupakan Mall yang ada di bawah tanah atau underground dan berada tepat pada War Memorial Park. Meskipun melalui jalur bawah tanah, jalur ini cukup nyaman dilewati, selain karena bisa window shopping juga karena merupakan jalur yang ber AC dan sejuk sehingga nyaman dilewati di siang hari. Memang stasiun MRT di Singapura kebanyakan berada di basement mall-mall. Jadi bayangkan betapa efektif efisiennya mereka menggunakan lahan negeri mereka yang sebenarnya tak seberapa luas ini.




Di tengah perjalanan ini kemudian  bertemu dengan persimpangan One Rafless Link untuk menuju ke Sunctec City dan juga ke arah Esplanade Theatre jika ingin menuju ke Merlion Park. 

Di Suntec City kita dapat melihat Fountain of Wealth, atau berjalan ke arah The Singapore Flyer. 

Sedangkan jika menuju ke Esplanade Teater, maka kita dapat menuju ke Merlion Bay, Marina Bay Sand Hotel, Marina Bay Outdoor Gallery Floating Platform. Untuk menuju Merlion Park cukup menyeberang jembatan yang ada di depan Esplanade.






Dari MRT Raffles Place ada juga rute yang mengasikkan untuk berjalan menuju Merlion Park, yaitu menyusuri sungai Singapore River. Jika dari MRT, begitu keluar dari stasiun menuju Batteray Road. Tinggal masuk ke jalan Bonham. Dari sana tinggal menyusuri sungai menuju ke Merlion Park. Atau mau belok menyeberangi jembatan Cavenagh untuk melihat lihat patung Sir Stamford Raffles.



Rute  untuk berjalan jalan di sekitar Marina Bay ternyata banyak pilihannya. Lebih baik menggunakan rute berangkat dan rute pulang yang berbeda. Jadi semakin lengkap cerita perjalanannya. Yang penting kuat untuk berjalan kaki.

Karena mengandalkan jawaban dari orang-orang yang bisa ditanya sepanjang perjalanan, jadilah rute yang ditempuh juga sedapatnya. Ahaha.

Usai keluar dari gedung tempat stasiun pemberhentian MRT tadi, aku jalan keluar dan tetiba mendapatkan plaza alias open space yang luaaaas sekali. Bayangkan setelah 'terjepit' gang-gang dalam mall yang sempit, lalu mak bendudug ketemu lapangan rumput hijau yang bernaungkan langit tinggi luas nan biru cerah dan udara bersih, itu rasanya seperti surga. hehehe.



Sayangnya nggak bisa duduk-duduk lama di plaza yang kayaknya asyik buat sesantaian itu. Karena musti saving time, biar tidak habis waktu di jalan supaya bisa sampai destinasi dengan cepat dan juga banyak spot. So musti say good bye dan cuma lewatin aja nih Plaza yang dikurung gedung-gedung tinggi pencakar langit sehingga banyak sekali esmod alias eksekutif muda berlalu lalang ini sangat menggoda. Uhuy :D


Dan juga cuma ngiler lihat ada gerobak mini di pojokan plaza yang jualan es krim. Hiks. Tetapi kamera ponsel cepat mengabadikan pemandangan dan suasana indah serta menyenangkan di sekitar plaza ini. Aih, kalau saja punya waktu lebih leluasa dan panjang. Andai saja...




Stasiun MRT Raffles Place memang merupakan stasiun MRT yang terdekat dengan patung singa merlion. Akan tetapi patung singa tak langsung berada di luar stasiun mrt tersebut. Butuh jalan kaki terlebih dulu dengan menyusuri sungai yang bernama Singapore River ke arah Fullerton Hotel terlebih dulu. Baru dari belakang fullerton hotel kita harus menyeberangi jalan ke arah bangunan yang bertuliskan One Fullerton, dimana jika kita berada di Fullerton Hotel artinya menuju arah yang sama dengan bangunan tinggi berbentuk kapal di puncaknya yakni Marina Bay Sands hotel. Patung singa merlion terletak persis di samping bangunan One Fullerton tersebut.














Keluar dari pintu exit G  stasiun MRT Raffles Place, musti jalan kaki  menuju UOB Tower terlebih dulu. Baru kemudian setelah keluar dari bawah tanah belok ke kanan menyusuri sungai. Setelah jalan lurus terus, lalu terlihat bangunan berarsitektur antik,  Fullerton Hotel di sebelah kanan.
Terus saja jalan di samping bangunan hotel itu, tanpa perlu menyeberangi sungai. Tak apa-apa berjalan di samping kafe tempat makan hotel tersebut. Lalu setelah berjalan lurus kita akan bertemu jalan raya. Carilah perempatan jalan yang bisa terlihat tak jauh dari sana. Di perempatan jalan itu pasti terlihat tulisan bangunan One Fullerton di seberangnya. Nah lalu jalan menyeberangi jalan menuju arah One Fullerton, kemudian  tinggal turun ke bawah melalui tangga jembatan. Turun dari tangga barulah kemudian  terlihat patung singa Merlion.



Jika turun melalui Raffles Place, memang rute yang ditempuh untuk berjalan kaki lumayan lebih dekat. Karena hanya melewati jalan utama Fullerton Road. Tapi  cukup ramai lalu lintas kendaraannya sih, sehingga sedikit  agak menegangkan. Hehehe..tapi nikmati aja deh. Biar mengerti dan merasakan deg deg ser-nya menyeberang jalan lumayan besar. hehe...




Setelah keluar dari stasiun MRT Raffles Place, menuju ke Batteray Road kemudian dapat berjalan menuju ke arah hotel The Fullerton. Setelah bertemu jalan Fullerton Road, lalu bisa  menyisir melalui hotel Fullerton atau menyeberang ke One Fullerton. Dari sana akan menemui lokasi Merlion Park yang berada pada sisi One Fullerton. Tengak tengok kanan kiri ya kalau mau jalan. Dan perhatikan lampu bangjo alias merah kuning hijau buat pejalan kaki maupun kendaraan, biar nggak melanggar yang bisa berakibat berbahaya.

Nah, tuh kan. akhirnya sampai deh ke Merlion Park yang ramai pisan. Dari tepian jalan raya yang lebih tinggi dari taman dekat teluk atau sungai atau waduk ini, kita bisa menikmati dari kejauhan pemandangan icon patung Merlion ukuran raksasa. Juga siluet gedung-gedung di seberang teluk sana. Termasuk bangunan yang mirip bentuk buah durian, Esplanade.


Undak-undakannya sudah dicontoh ama pak Ridwan Kamil loh dalam rancangannya untuk penataan kawasan-kawasan tepi sungai-sungai di Bandung. Aku pernah mengunjungi salah satunya, dan terkesima :)

Akhirnya bisa lihat Merlion muntah dari dekat deh. Hehe. Tubuhnya ini melambangkan awal Singapura yang sederhana sebagai sebuah desa nelayan yang disebut Temasek, yang berarti 'kota laut' dalam bahasa Jawa Kuno.


Kepalanya mencerminkan nama asli negara ini, Singapura, atau 'kota singa' dalam bahasa Melayu.
Saat ini, Anda dapat melihat legenda ini di Merlion Park. Memancurkan air dari mulutnya, patung Merlion berdiri dengan tinggi 8,6 meter dan berat 70 ton.

Ikon ini wajib untuk dikunjungi untuk wisatawan yang berkunjung ke Singapura, sama seperti landmark lainnya di seluruh dunia.
Dibangun oleh pengrajin lokal Lim Nang Seng, diresmikan pada tanggal 15 September 1972 oleh Perdana Menteri Lee Kuan Yew di muara Singapore River untuk menyambut semua pengunjung ke Singapura.
Namun, dengan selesai dibangunnya Esplanade Bridge pada tahun 1997, patung ini tidak lagi terlihat jelas dari tepi perairan.
Patung ini direlokasi sejauh 120 meter dari posisinya yang semula pada tahun 2002 ke lokasi saat ini di Merlion Park, di depan Hotel Fullerton dan menghadap Marina Bay.



Taman ini juga berisi patung Merlion dengan ukuran yang lebih kecil. Dikenal sebagai 'anak Merlion', berdiri dengan tinggi 2 meter dan berat 3 ton. Patung asli dan anaknya adalah yang paling terkenal di antara tujuh patung Merlion yang diakui di Singapura.

Kita juga dapat melihat patung-patung lainnya dalam perjalanan di  Sentosa, satu di Tourism Court dekat Grange Road, dan lainnya di Mount Faber.

 Singapore River atau Sungai Singapura ini memang  memiliki kisah yang tak ada bandingannya di Singapura. Sebab  di tempat yang unik inilah, masa lalu, masa kini dan masa depan Singapura saling terkait erat.

 Ada beberapa jembatan di kawasan Marina Bay ini yang menjadi penghubung antar spot dan membantu kita menyeberangi sungai Singapura yang luas.

Tempat ini awalnya konon cuma merupakan kampung nelayan kecil dan pemukiman di pertengahan jalan rute perdagangan China - India. Keadaan Singapura pada saat itu masih naik turun, sampai pada 28 Januari 1819, ketika Sir Stamford Raffles mendarat ke tepian, dan mengubah keadaan Singapura selamanya. 

"Di tahun 1299, Sang Nila Utama, penguasa dari Palembang sedang berlayar di perairan Singapura. Ia menduga melihat seekor binatang singa [kabarnya sebenarnya itu adalah seekor harimau], ia lalu mendirikan pusat perdagangan dan memberinya nama Singapura atau Kota Singa; nama yang tetap bertahan sepanjang abad"




Lalu usai dinyatakan sebagai pelabuhan perdagangan yang bebas, kota ini pun berkembang dari tempat terpencil menjadi tempat yang megah dan gemerlap hampir dalam sekejap saja. Bisa kita lihat sekarang bangunan Esplanade, bangunan Casino, Marina Bay Sands, Skypark dan lainnya.



Sungai ini segera saja menjadi urat nadi pulau, seiring dengan pertumbuhan perdagangan di sepanjang pelabuhan seperti Boat, Clarke dan Robertson Quays. Para imigran dari China, India dan sekitarnya juga datang mencari keberuntungan dan membangun pemukiman dekat dengan tepian sungai. Struktur hukum, budaya, sosial dan olahraga Singapura pun lalu bertumbuh di sekitarnya.
 

Berbagai fasilitas untuk wisatawan terus dibangun. Kita bisa melihat Singapore flyer yang menggoda dari kejauhan. Juga bangunan casino yang tampak merekah seperti bunga yang mekar.

Seiring perubahan waktu dan perkembangan Singapore River, perdagangan memberi jalan bagi layanan bisnis finansial, perbankan, serta layanan bernilai tinggi dan berteknologi tinggi, yang bermarkas di gedung-gedung pencakar langit. Yang merupakan bagian dari Central Business District yang berdenyut kencang dan meluncurkan Singapura ke kancah global dengan keberhasilan yang monumental. Inilah  keajaiban  Singapura.

Namun konon masih ada hal-hal yang  sama. Anak cucu dari para imigran awal ini masih berkumpul di tepian sungai tersebut untuk mencari nafkah: Boat Quay, Clarke Quay dan Riverside Point kini menjadi sumber penghasilan hidup mereka. Dan sampans [kapal kecil] mereka masih meluncur ke hulu, bersama kapal para wisatawan.


Asyik ya, sangat menginspirasi. Dan semestinya lah kita bisa meniru inovasi mereka dalam hal menjaga kebersihan, kerapian, kedisiplinan, kerja keras, pelayanan dan juga semangat profesionalisme dan menginternasional. 

Senin, 28 November 2016

CERDAS, CANGGIH DAN SANGAT PENGERTIAN


CERDAS, CANGGIH DAN SANGAT PENGERTIAN





Senja itu dalam perjalananku menuju Banyuwangi untuk keperluan riset demi penulisan novelbaruku sekaligus menghabiskan liburan semesteran bareng anak-anak musti sedikit diganggu dengan kejaran seorang klien desain. Seorang ekspatriat asal Perancis yang selama beberapa bulan ini bekerja sama denganku dalam perancangan dan perencanaan kawasan hunian yang dia buat dekat pantai Jepara, memintaku untuk merevisi  desain sesuai catatan feedback-nya pada waktu itu. Dan musti segera diemail kembali kepadanya dalam waktu cepat. Apa-apaan nih, gerutuku dalam hati. Ih, bukannya kemarin sudah clear ya. Karena memang dalam setiap kali tugas desain arsitektur, aku membatasi hanya ada tiga kali revisi. Dan ada charge tambahan kalau semisal melebihi ketentuan yang disepakati bersama ini. Jadi kupikir karena tugas darinya sudah beres, aku bisa beranjak mengerjakan pekerjaan lain sambil refreshing. Tapi dia memohon-mohon, please please please.
Oke deh, karena aku baik hati dan berusaha membuat klien happy, akhirnya kuterima permintaan revisi desain lanjutan. Meski aku harus mengerjakannya di sela-sela pekerjaanku riset kepenulisan novel dan juga tentu saja ngiras-ngirus membuat catatan serta rekaman perjalanan yang akan menyokong elektabilitas dalam perbloggingan sebagai writravellicious aka writraveller.
Seru banget saat tahu kalau ACER ternyata meluncurkan produk baru Switch Alpha 12. Karena jika perangkat ini kupangku sepanjang perjalananku dalam bus, notebook hybrid tanpa ventilasi udara ini jadi tidak mengganggu kenyamanan. Demikian juga saat  diletakkan di atas kasur dalam hotel Ketapang Indah yang menjadi base-campku dan anak-anak selama di Banyuwangi. Sistem fanless ini sangat membantu menghemat daya baterai sehingga Switch Alpha 12 bisa digunakan dalam waktu lama tanpa khawatir tak ada colokan di sekitaran. Yach, meskipun ada colokan dalam bus patas, tapi kan tidak bisa dengan nyaman disambi buat kerja. Karena kabel akan bergelantungan dekat penumpang lainnya. 



Untuk menggantikan peran kipas sebagai pengusir panas ini ternyata Acer mengusung teknologi Acer LiquidLoop™ yang mengandalkan pipa berisikan cairan  pendingin untuk menstabilkan suhu prosesor Intel Core i Series di dalamnya secara optimal. Karena biasanya, sistem pendingin tanpa kipas hanya digunakan untuk perangkat dengan prosesor Intel Core M.
Dengan tanpa kipas ini, juga membuat Switch Alpha 12 dapat beroperasi senyap dan tidak mengganggu konsentrasi kerja kita  maupun orang-orang di sekitar. Apalagi anak-anak kadang butuh istirahat dalam perjalanan mereka dalam bus, ataupun dalam mobil yang kami sewa dalam perjalanan menjelajah sudut-sudut kota Banyuwangi beberapa hari itu. Pun di dalam hotel, anak-anak takkan terganggu sehingga bisa tidur dengan nyaman.
Sistem pendingin tanpa kipas atau fanless ini ternyata juga membuat perangkat bebas debu. Debu yang menempel pada kipas sangat berpotensi membuat suhu overheat yang merusak motherboard. Sehingga  notebook  lebih panjang umur dengan adanya sistem ini.


Berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain selagi mengerjakan sekaligus tiga fungsi sebagai arsitek, author yang sedang riset dan sekaligus blogger yang bikin jurnal, akan kepayahan jika perangkatnya berat. Switch Alpha 12 dengan bodi tipis dan bobot yang ringan ini cocok sekali digunakan.  Karena kita jadi bisa  bekerja di mana saja secara efisien. Bahkan Switch Alpha 12 didesain sangat fleksibel mengikuti kebutuhan penggunanya.
Saat bertemu dengan relasi dan berkesempatan untuk pitching singkat, Switch Alpha 12 bisa diubah  dari mode tablet menjadi notebook . Demikian pula  sebaliknya. Kita hanya perlu melepas dan memasang kembali keyboard docking yang telah dilengkapi engsel magnet. Dengan engsel magnet ini, melepas keyboard Switch Alpha 12 dapat dilakukan dengan cepat dan aman.
Kegunaan keyboard docking ini juga bukan sekadar aksesoris semata, melainkan berfungsi sebagai screen protection. Acer mendesainnya super tipis dan membekalinya lampu backlit agar kita  bisa tetap mengetik meski sedang berada di ruangan dengan pencahayaan redup. Seperti pas malam itu mengantar anak-anak menikmati festival di alun-alun Banyuwangi dengan penerangan yang tidak cukup terang, perangkat tetap bisa dipakai kerja.
Perangkat ini juga dilengkapi kickstand yang bisa diatur sudutnya hingga 165 derajat untuk memberikan sudut pandang yang kita inginkan. Dengan begini, kita bisa mengetik, mencatat hingga menggambar lebih nyaman.


Serunya lagi, Acer melengkapi Switch Alpha 12 dengan pena digital Active Pen. Ini bukan sekedar stylus biasa untuk mencoret-coret layar, tetapi membantu kreativitas  pada layar semakin tidak terbatas. Stylus dengan sensitivitas hingga 256 tingkat tekanan. Wow, jadi teringat jaman kuliah dulu menggunakan berbagai jenis pensil dan juga drawing pen dengan tingkat ketajaman yang berbeda-beda untuk menghasilkan kontour dan detail yang diperlukan. Pena ini juga sangat membantu saat menggunakan fitur Windows Inks, seperti mengatur ketipisan dan ketebalan garis atau membuat sketsa digital lebih presisi saat layar menjadi kanvasnya. Keren banget kan.


Mengerjakan desain arsitektur dan revisinya menggunakan sketch-up, autoCAD serta 3DMax dengan  file yang sangat besar membutuhkan perangkat yang powerful. Nah, notebook 2-in-1 Switch Alpha 12 ini punya performa bertenaga yang tak perlu diragukan. Pasalnya, Acer telah menanamkan prosesor Intel Core i Series generasi ke-6 yang memiliki kinerja kencang dan hemat energi. Ini yang membuat Acer Switch Alpha 12 berada di level lebih tinggi dibanding produk sejenis yang biasanya masih mengandalkan prosesor Intel Core M.
 









Layar 12 inci yang memiliki resolusi QHD (2160 x 1440 pixel) perangkat ini telah dilengkapi teknologi IPS. Sehingga layarnya mampu menghadirkan gambar tajam dan warna yang baik dari berbagai sudut. Walhasil tampilan desain arsitektur kawasan hunian itu yang  sebagian presentasinya tersimpan dalam file jpeg, akan tampil sebagaimana yang tampak di layar. Seringkali jika perangkat tidak memadai, tampilan di layar bisa jadi akan berbeda dengan yang ada di file jpeg, dan beda lagi dengan yang tercetak di lembaran kertas. Untuk keperluan desain arsitektur, tentu akan mengganggu.
Bekerja lama dan intens dengan notebook karena memang dikejar-kejar begini, tentu akan membuat mata cepat lelah. Tapi Acer telah membenamkan teknologi BlueLight Shield yang membantu mengurangi emisi cahaya biru pada layar. So, tidak akan jadi masalah. 

Nah, selepas revisi desain berhasil diselesaikan, PR berikutnya adalah bagaimana supaya file revisi ini bisa sampai dengan cepat ke email klien. Perangkat yang powerful sangat berguna dan mendukung sekali.
PR lain yang juga kuhadapi saat itu adalah bagaimana memindahkan ratusan bahkan ribuan foto dari kamera DLSR  ke perangkat. Karena kamera masih harus digunakan lagi untuk bisa memotret banyak spot lain di Banyuwangi. Selain juga demi mengamankan foto-foto dan video yang sudah terekam. Acer  menyediakan fitur teknologi terdepan seperti port USB Type-C dengan USB 3.1 gen 1. Melalui port tersebut, kita bisa mendapatkan transfer data berkecepatan hingga 5 Gbps, alias 10 kali lipat lebih kencang dibanding USB 2.0. Menariknya, port USB Type-C juga bisa difungsikan sebagai output video dan sumber daya yang dapat mengalirkan hingga 4.5W untuk gadget kita.


It’s so great. Tiga tugas sekaligus yang sama pentingnya jadi mudah dikerjakan dengan bantuan perangkat yang cerdas, canggih dan sangat pengertian ini. Aku dan anak-anak pergi meninggalkan Banyuwangi dengan naik kereta di stasiun Klungkung dengan suasana lapang dan gembira karena puas banyak tugas terselesaikan dengan baik.