Sabtu, 19 Agustus 2017

Yang Paradoks Dari Yang Paling Paradoks

Yang Paradoks Dari Yang Paling Paradoks





Apa sesungguhnya yang  paradoks dari yang paling paradoks?
Pertanyaan ini tiba-tiba menyerbu benak kemarin?

Tuhan minta kita meminta. Tapi saat permintaan kita belum lagi diberi,seolah Dia meminta kita belajar utk membebaskan diri dari permintaan.

Jika semakin banyak, besar dan sering cinta kita bagikan, cinta akan makin berkurang? Atau sebaliknya?

If you don't fight for our love, why i should fight? Yg spt itu, cinta atau bukan?

The supreme fight may be the surrendering. Mungkinkah itu yg paradoks dari yg paling paradoks?

Jadi, doa spt apa yg akan kita titipkan utk dibawa ke mekkah madinah? Pinta yg tdk meminta? Atau cukup air mata?

Robbanaa dzolamnaa anfusanaa wa in lam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khosiriin

Ashsholaatu wassalaamu ala rosulillah khudz biyadii qod dhooqot hiilatii adriknii ya Rasulullah

Saaltuka ya ghoffar afwan wa taubatan, Wa bil qohri ya qohhar khudz man tahayyala.

Salam bagimu Ya Rasulullah. Pegang tanganku, sungguh pelik masalahku. Bantu aku ya Rasulullah

Serahkan pada-Ku hal2 yg tak kau mengerti, yg tak kau pahami. Serahkan pada-Ku. Serahkan. Taslim. Islam. Salam.






0 komentar:

Posting Komentar