Rabu, 09 November 2016

Writravellicious Goes To Heritage District Near Orchard Road Singapore

Writravellicious Goes To Heritage District Near Orchard Road Singapore






Waktu malam itu kaki melangkah ke food court di Lucky Plaza, sebenarnya mata ini sempat menangkap pemandangan gang dengan deretan bangunan kuno ini. Tapi baru ngeh benar dan berhasil berfoto ria di sana saat siang keesokan harinya sepulang dari ngopi di Coffee Bean Paragon Mall.

Rupanya ini yang dikenal sebagai Emerald Hill.  Gang-nya asri dan eksotis. Perpaduan jajaran rumah bergaya dominan China Barok, pedestrian dengan paving block abu-abu merah dan jajaran pepohonan menghias tengah ruas. Beberapa bangunan di sana beralih fungsi menjadi kedai minum atau kafe serta resto. Bentuk bangunan dipertahankan seperti aslinya. Tidak menyangka akan bertemu heritage area di tengah kota begini lho.



 Emerald Hill termasuk dalam area konservasi yang berada di kawasan Newton dan Orchard Singapura. Saat makin berjalan jauh ke dalam menyusuri ruas ini, tampak tidak semua hunian digunakan sebagai tempat usaha. Masih banyak yang mempertahankan fungsi sebagai tempat tinggal biasa. Konon dulu  area ini dihuni kaum papan atas dari komunitas Peranakan. Dan bahkan banyak dijadikan setting cerita pendek oleh Goh Sin Tub.





Kawasan Emerald Hill ini dulunya merupakan milik William Cuppage, kepala kantor pos setempat yang tinggal sekitar 20 tahun di sini. Dia kemudian menyewakan beberapa bagian lahan ini. Salah satu menantunya kemudian mengembangkan properti ini ketika si empunya wafat. Sayangnya dia bangkrut. Kepemilikan berpindah ke pebisnis Cina. Kemudian tanah dibuat plot  sebagai  rumah tinggal, populer disebut sebagai terrace houses. Bangunan perumahan itu dibuat pada tahun 1901 dan 1925 dan bisa kita lihat sampai saat ini



Aku dan temanku langsung tak mau membuang kesempatan untuk bernarsis ria di ruas Emerald Hill ini. Kami bisa lihat para pebisnis memanfaatkan  rumah-rumah kuno ini dengan menjadikannya sebagai kafe dan resto. Sistemnya dengan sewa dari si pemilik, ada perjanjian yang menyatakan bangunan tidak boleh diubah merunut pada semangat konservasi.Sehingga dengan aturan dan kebijakan ini, kita masih bisa menikmati suasana aslinya. Dan rasakan sendiri ambience-nya saat berjalan kaki di  kawasan ini. So old and fashioned.




Seru ya tahu bahwa di jantung Singapura yang ramai masih ada sebidang kawasan yang asri dan tenang. Destinasi ini menjadi semacam balance atau penyeimbang dari kawasan Orchard Road yang penuh dengan bangunan modern dan bahkan super block di beberapa sudut.

Ketatnya aturan pemerintah serta keberadaannya sebagai area konservasi membuat masyarakat otomatis secara tidak langsung ikut menjaga keasriannya. Seandainya kesadaran ini juga dimiliki pemerintah dan masyarakat Indonesia, tentu masih banyak bangunan konservatif yang bisa diselamatkan di negara kita. Seandainya.

2 komentar:

  1. Semoga makin banyak tempat yang dijaga keasriannya seperti ini di indonesia ya mba. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. IYa,setuju. Aamiin aamiin ya robbal alamiin

      Hapus